Jumat, 15 Maret 2019

Rindu ? (Kala Senja)

“Fajaar” batinku berkata, yang justru membuatku terbangun dari tidurku. Aku arahkan pandanganku ke jelandela kamar dan beralih ke jam yang bertempel di sampingnya. 17.30, aku bangun dan duduk di pingir tempat tidur menghadap jendela yang tertutup kaca, berusaha mengumpulkan angan-angan yang masih tertinggal di dalam mimpi. “Cuma mimpi” ucapku lalu bangkit membuka jendela kamarku, udara sejuk setelah hujan reda membuat kondisiku membaik “tapi kayanya engga deh” kataku seorang diri ketika menyetuh kedua pipiku. Pandanganku mendadak berhenti kelangit yang mulai berwarna jingga “kalo sakit gini nyusahin deh lu, bawel” senyum lirihku selalu muncul jika mengingat setiap perkataan yang dia ucapkan “kalo gue sakit udah engga nyusahin dan bawel, lu bakal balik engga jar?” lagi selalu ada tangisan kecil di kala senja, sebenarnya aku benci seperti ini terkesan lebay dan terlalu berlebihan tapi seberusaha apapun yang kulakukan untuk membuat setiap tangis berhenti rasanya sulit, senja selalu berhasil membuatku berkenala pada kejadian 4 tahun silam. Ketukan pintu di kamarku membuatku teralihkan “kalo lu sedih cukup gue aja yang liat, kalo lu sakit cukup gue aja yang lu susahin jangan nyokap lu, diusianya sekarang udah saatnya dia hidup tenang dengan liat lu baik-baik aja” teringat kembali setiap kalimat yang dia ucapkan, aku berusaha menghentikan tangisku, menarik nafas berusaha terlihat baik-baik saja. Ketukan pintu semakin kencang, aku bergegas untuk membukanya.
“Kenapa si ma, berisik banget deh” kataku dengan nada sebal. “mama pikir kamu pingsan di dalam” jawabnya asal lalu tangannya teralih memagang dahi ku “Ya Allah” suara paniknya muncul saat mengecek kondisi tubuhku “ko makin panas si La, ke rumah sakit aja yuk” Dia tidak tau apa aku benci sekali tempat itu, tanpa memperdulian paksaanya aku berjalan ke tempat tidur lalu berbaring “La mama takut kamu kena tifus atau demam berdarah deh” aku berdecik mendengar ucapan lebaynya. “Kilah engga papa mah, cuma panas biasa ditidurin juga ilang ko” aku berusaha memejamkan kembali mataku yang mendadak terasa pusing “kamu tuh ya ngegampangin banget penyakit, gara-gara sikap cuek kamu akhirnya baru ketauankan kalo ternyata ka...” ucapan mama ku berhenti, “engga bisa punya anak” lanjutku di dalam hati. “karena itu Kilah engga mau kesana lagi” balasku santai masih sambil memejamkan mata. Mendadak kamarku senyi, aku tau ibuku berusaha mencari kalimat yang pas agar kalimat yang diucapkannya bisa membuatku bangkit.
“dokter bukan Allah La” katanya lembut “tapi dokter pelantaranyakan?” tanyaku membuat mamaku diam bingung membalas apa. “kamu cuma sulit bukan berarti engga bisa kan? Jangan gampang nyerah gitu, lebih baik kamu buktiin dengen cara kamu cepet nikah, mamakan juga pengen pamerin mantu mama ke ibu-ibu pkk” paparnya membuatku tersenyum, dia pikir mantu itu barang apa, dasar tukang pamer. “kenapa engga mama aja si yang nikah, biar lebih enak pamerinnya karena milik sendiri” kataku asal, yang justru dapat timpukan bantal. “kamu pikir apa yang menarik kalo kakek-kakek kriput yang dipamerin ha? kulitnya yang udah lentur?, giginya yang ompong? atau rambutnya yang ubanan semua?” kali ini aku bener tertawa kencang, ini adalah hiburanku, saat tiba-tiba aku mulai menyerah aku selalu ingat selain Fajar ada satu orang yang aku usahan agar tetap bahagia, ya Mamaku. Setelah mamaku tau apa yang terjadi pada kondisi rahimku ia selalu berhati-hati dalam bersikap, tidak banyak berkomentar tentang berapa usiaku dan harus apa yang aku lakukan diusiaku yang beranjak 28 tahun. Walaupun terkadang kalimat ledekannya muncul untuk memintaku cepat menikah tapi ia tidak pernah memaksa, ia berusaha mengerti ketakutanku, lagian siapa yang siap hidup bersamaku selamanya tanpa seorang anak kandung?.
“udah deh cepetan siap-siap, abis solat magrib kita langsung ke rumah sakit” perintah mamaku, “Engga bis.....” “mama udah izin ke mamanya Ardi buat libur les dulu, jadi jangan banyak alesan” potong mamaku, lalu bergegas keluar kamarku “dasar tukang ngatur”. Aku berusah bangkit dari tidurku, kembali duduk dan menatap jendela yang terbuka, menatap senja yang mulai terlihat jelas. Indah, senja akan selalu indah dari sudut manapun walau ternyata hanya sebentar lalu memilih pergi, tapi setidakanya senja tidak akan berkhianat, ia akan datang lagi esok harinya, dan aku percaya itu bahwa.... dia akan kembali di putaran waktu yang berbeda “I miss you, I miss you so much” ucapku lirih berbicara oleh senja yang mulai hilang.
***********
“Kamu tunggu sini mama urus administrasinya dulu terus ambil antrian buat cek darah” perintah mamaku yang tidak dapat aku bantah, yang hanya ku jawab dengan decikan dan anggukan “ribet” kataku kesel. Aku memutuskan untuk duduk di ruang tunggu sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Tiga bangku dari tempat yang kududuki ada sepasang suami istri yang sedang menggendong anak perempunnya yang sepertinya sedang demam, anak itu tertawa lucu ketika sang ayah memberikan candaannya, yang justru membuatku ikut tersenyum dan mengelus perutku “apa aku masih punya harapan?” batinku berkata, setiap wanita pasti ingin berkeluarga dan memiliki anak yang lahir dari rahimnya dan sayangnya aku harus mengubur dalam-dalam keingananku. Saking asiknya aku dengan pikiranku, sampai tidak menyadari 20 menit berlalu dan mamaku belumnya kembali. Aku bergegas menelponnya, panggilan kedua kali belum juga diangkat, lalu ku putuskan untuk mencarinya.
Saat di tengah pejalanan tiba-tiba “bundaa” prak! itu bunyi handphoneku yang jatuh, disebabkan oleh seorang gadis kecil yang tanpa alesan apapun tiba-tiba memelukku, dan apa tadi katanya “bunda?” kataku bingung dengan memperhatikan anak tersebut yang mendadak melepaskan pelukkannya lalu terlihat panik saat mengambil handphoneku yang terjatuh dengan keadaan mati.
“Maafin aku bundaa” katanya ketakutan dengan suara lirih seperti ingin menangis sambil menyerahkan handphoneku. Aku hanya terdiam bingung mengamatinya, anak kecil itu pun mendongakkan kepalanya sambil menatap mataku yang justru membuatku terpanah dengan mata bulatnya yang indah dan sepertinya sebentar lagi akan mengeluarkan air mata, “huaaa, bunda jangan marah” dan benar saja dia menangis sedih sambil menggenggam handphoneku erat, aku masih bingung dengan keadaan ini, lalu tangisan anak itu semakin kencang dengan terus mengatakan maaf “loh, loh ko jadi nangis kejer” aku mulai menyadari, dan mencoba mencari cara untuk menenangkannya.
Aku jongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya, mencoba bersikap tenang dengan memberinya senyum tulus, lalu tanganku beralih mengusap kepalanya lembut, akhirnya dia mengecilkan suara tangisnya dan menatapku dengan wajah bersalahnya “adik kecil, namanya siapa?” tanyaku menenangkan, yang justru membuatnya wajah kagetnya muncul lalu tangisannya pun berhenti “Shakilah kan bunda?” jawabnya seperti menanyakan kembali kepadaku, ku bales dengan senyuman dan anggukan “oke shakilah, lain kali harus hati-hati ya” nasihatku pelan dengan tetap memberikannya senyum, lalu dia menyerahkan handphone ku “maaf ya bunda” kuambil handphone itu yang memang sepertinya harus diperbaiki “bunda marah?” tanyanya kembali yang kujawab dengan gelengan “engga ko, aku juga kurang hati-hati, kamu engga papakan?” tanyaku merapikan rambutnya yang halus, yang di balesnya dengan cengiran lucu dan gelengan kepala lalu dia tertawa girang “perasaan tadi nangis” batinku dan justru membuatku ikut tertawa kecil melihat tingkahnya “aku seneng bisa ketemu bunda” katanya malu-malu, eh aku baru sadar dari tadi dia memanggilku bunda, apa katanya tadi, kenapa dia harus senang itu?.
            “Shakilah” panggilan seseorang dibelakangku membuat tubuhku kaku.


***********

Rabu, 13 Maret 2019

Kala Senja


Senja selalu menunjukan sisi indahnya, warna jingga yang menyejukan mata selalu membuat orang-orang terpanah saat menikmatinya. Ya, aku penikmat senja yang hanya mampu menikamati di blakon kamarku dengan segelas teh manis hangat sebagai pelengkapnya. “Kosong” batinku berkata, kali ini akan benar merasa bahwa ada yang kurang saat menikmati senja yang indah ini.
“Engga bosen apa sendirian mulu?” aku lupa bahwa aku tidak benar-benar sendiri, selalu ada satu laki-laki tak kasat mata yang menemaniku di saat mulai rapuh dan mengadu pada langit jingga kala sepi. Aku menatap wajah tampan yang selalu terlihat pucat, dan tersenyum tulus kepadanya. “Gue baru sadar, ko lu ganteng ya” candaku yang buat matanya melotot berusaha menakutiku, yang malah membuat aku tertawa.
“Kalau lu manusia udah gue bawa lu ke rumah terus gue kenalin ke nyokap, pasti kita langsung dinikahin saat itu juga”  aku terawa mengejek dan membuat ia tertawa juga “untung gue bukan manusia ya” dia balas tertawa senang yang justru membuat ku sebal “segitu engga maunya apa lu” kataku cemberut, tawa besar dan sedikit menyeramkan keluar dari bibirnya yang pucat, sambil meraih pipiku dan mencubitnya dia tersenyum tulus “engga usah lucu-lucu deh, nanti gue makin susah ninggalin elunya” perkatanya membuat senyumku benar-benar luntur, dia beralih mengusap kedua pipiku dan memberi senyum yang selalu aku benci, senyum penyerahan. Lalu mengalihkan tangannya untuk menggenggam kedua tanganku.
“satu tahun ya Kil, kalo orang pacaran kita bisa ngerayain anniversary” katanya dengan tawa kecil yang justru membuatku makin menunduk menyembunyikan mata sembabku. “saat gue pikir gue menyerah oleh takdir dan menerima kondisi gue yang harus siap jadi arwah yang kosong untuk menetap di bumi sementara dan menunggu waktu yang tepat untuk dipanggil, lu datang nawarin bantuan supaya gue bisa balik hidup lagi, yang sampe sekarang gue selalu inget kata-kata lu yang kaya gini ‘emang lu engga kepengen apa, nikah terus punya anak yang lucu-lucu, bangun keluarga bahagia sesuai harapan lu,  saat lu bangun nanti lu engga bener-bener sendiri ko, inget nama gue KILAH pake H loh ya, dan gue bakal bantu wujudin harapan lu’” disambar tertawanya yang justru makin membuatku semakin nyeri “tau engga Kil, gue pikir saat itu lu yang siap gue nikahin tapi lu malah bilang ‘bukan sama gue loh ya bangun bahtera keluarganya, nanti gue cariin yang lebih cantik dan baik dibanding mantan lu yang pea dan tukang selingkuh itu, biar dia nyesel ternyata dia ninggalin mantannya yang kaya raya dan mayan capek si, demi sebegundal misquen itu’ sumpah ya Kil gue selalu inget tampang kesel tablo lu kalo lagi ngomel yang justru buat gue selalu ketawa” katanya benar-bener tertawa kali ini, yang justru buatku kesal dan aku hanya mampu menjawab dengan mencubit tangannya yang aku rasa dia tidak akan pernah merasakan sakit.
Dia menggenggam tanganku lebih erat, tangannya selalu dingin tapi entah mengapa selalu membuatku hangat dan tenang, tangan yang selalu siap menggenggamku saat aku pada posisi tak punya harapan, tangan itu tangan yang beku dan justru selalu membuat aku merasa bahwa aku bermakna dan aku masih punya harapan sepertinya untuk bahagia bersama-sama di masa yang akan datang, tapi..... lagi takdir tidak mengizinkanku agar tangan ini bisa menggenggam lebih lama dan kenyataannya aku akan kehilangannya sebentar lagi. Tangisku tanpa suara terus mengalir dan tak kunjung berhenti. Laki-laki yang hanya dapat dilihat olehku hanya diam dan tidak berusaha menghentikan tangisku. Ya, dia selalu melakukan itu memberiku waktu untuk mencurahkan sesak yang keluar bersama air mata, dia akan selalu diam sampai tangisku reda dan sampai aku bertanya ‘gue manusia kuatkan?’ lalu laki-laki itu akan memberiku senyum penguatan diwajahnya yang pucat. Tapi kali ini berbeda, seberusaha apapun aku untuk menghentikan tangisku nyatanya semakin berusaha untuk ku hentikan semakin membuatku ingin menangis terus menerus.
Tangannya beralih mengangkat wajahku, aku menutup mataku tidak berani menatap wajahnya yang puncat dan selalu terlihat kaku “kalo lu nutup mata gini, gue ngerasa jadi hantu beneran yang nyeremin banget” aku tetap mempertahankan mataku agar tetap tertutup, aku benar-benar takut melihat wajahnya bukan karena takut nyatanya dia seorang hantu tapi karena wajahnya pucat kakunya yang selalu membuatku tidak mampu untuk ditinggalkannya. “Gue...., gue engga mau lu pergi, gu....” mungkin kali ini dia kalah, dia mengusap lembut pipiku yang berair dan kedua mataku yang tertutup “kalo ngomong itu langsung natap orangnya, gimana si lukan guru masa masih perlu di ajarin aja” aku menggeleng kuat “lu engga boleh pergi” pintaku dengan tangis kejar dengan menggenggam kedua tangannya yang masih berada dipipiku.
“buka matanya ya please” suara permohonnya membuatku membuka mata dan natap matanya, yang justru membuatku ingin menangis keras “Kilah, bisa jelasin ke gue, kenapa setiap kali gue denger suara tangisan lu gue selalu ngerasa nyeri disini?” dia membawa tanganku ke dadanya “padahal gue bukan makhluk bernyawa, tapi kalo sama lu gue selalu ngerasa hidup, setiap kali lu nangis gue selalu diam bukan karena memberi waktu lu untuk tenang, tapi justru memberi waktu gue untuk tenang supaya rasa sakit gue disini berhenti Kil. Kenapa rasanya nyeri si disini” kali ini tangisku bersuara, apa dia tidak tau aku juga bingung kenapa rasanya sesakit ini.
“Saat gue ketemu lu, gue ingin kembali hidup karena apa yang lu bilang bener “gue berhak untuk bahagia dan mengwujudkan harapan gue” tapi semakin kesini gue mulai sadar, gue pengen hidup lebih lama karena gue pengen wujudin harapan lu, karena kebahagian lu adalah wujud harapan gue yang harus gue gapai Kil. Karena lu gue akhirnya percaya kalo harapan seperti langit yang mungkin terlihat kosong tapi sebenarnya terisi, gue pengen mengisi kebahagian itu dengan lu tetap ada disamping gue, ngeliat lu bahagia bahkan gue terlalu berlebihan kalo gue pengen nikahin lu dan bangun rumah tangga seperti khalayan babu lu yang sering gue ledekin“ sekilas senyum di wajahnya tapi tidak mampu membuat tangisku berhenti, dengan dia disampingku hidup berumah tangga yang dulu aku takutkan dan tidak ada dalam list diharapanku akhirnya membuatku merasa ingin, ingin dia mengisi itu.
“Walaupun gue engga bakal pernah ngasih lu anak?” tanyaku sekian kali sambil menangis yang selalu dia jawab dengan senyum tenangnya “Harapan gue adalah hidup dengan lu, liat lu bahagia itu lebih dari cukup Kil” lalu aku menariknya, memeluknya seperti hal ini nyata dan menangis sekaras-kerasnya di dekapannya, dia mengusap kepalaku lembut dan berkata “semua bakal baik-baik aja, ada gue disini” kalimat itu, kaliamat yang selalu aku ucapkan kepadanya saat dia kehilangan harapannya untuk hidup kembali. Akhirnya kalimat itu berbalik kepadaku. Apa aku bisa tetap hidup bahagia kalau dia tidak ada? “lu bakal tetap bahagia Kil, lu berusaha keras kejar untuk wujudin harapan gue, dan kali ini izinin gue untuk berusaha mengwujudkan harapan gue dengan ngeliat lu akan baik-baik aja dan bahagia kedepannya, bisa?” aku menggeleng, dia meminta aku bahagia pada sudut pandang yang mana? Tidak ada dia apa aku bisa dikatakan baik-baik saja dan hidup bahagia seperti listku hidup bersamanya?
“Engga ada yang bisa wujudin itu selain lu jar, siapa yang mau nerima cewek cacat kaya gue” dia menariku dari pelukannya menatap tajam mataku seolah perkataanku barusan menyakitinya. “lu masih tetep bego ternyata, cuma elu yang berpikir dengan lu engga bisa punya anak lu engga berhak buat bahagia” katanya dengan nada kesal “lu selalu menutup diri dan ngerasa engga pantes untuk siapa pun, justru dengan sikap lu kaya gitu lu nyiksa diri lu sendiri. Kilah dengerin gue!” perintahnya sambil menyetuh pipiku dan menatap mataku lekat “Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangankan?, itukan yang lu bilang ke gue, engga ada manusia yang akan hidup sendirian selamanya, Allah engga sejahat itu. Kita udah berusah semampu kita wujudin harapan kita sama-sama, tapi jika ini bukan yang terbaik Allah punya rencana sendiri untuk memberikan jalan yang baik. Lu akan jadi ibu yang terbaik untuk anak lu terlepas itu anak kandung atau bukan, dan.....” kata-katanya berhenti dengan wajah pucatnya yang terus menatap wajahku menerka-nerka seperti apa dia sanggup mengatakan ini.
“dan... Allah akan mempertemukan lu dengan laki-laki yang tepat, yang menganggap dengan bersama lu walau tanpa anak kandung itu udah lebih dari cukup” kata-katanya membuat aku benar-bener merasa sakit bahwa aku harus siap kehilangan dia “dan kalau itu terjadi, lu inget kata-kata gue! Lu udah berhasil buat gue bahagia atas kebahagian lu, maafin gue” dia menarikku kepelukannya, sambil terus berkata maaf yang justru membuatku menangis dan terus menangis.
Kala itu di akhir senja kita saling memeluk memberi kekuatan dengan aku yang terus menangis dan dia.... Fajar Nugroho yang akan selalu ku ingat namanya dan ucapan kata maafnya pulahan kali dia katakan sebagai wujud perpisahan, sampai senja pergi tanpa meninggalkan jejak.
                                                                           *******