“Fajaar” batinku berkata, yang justru
membuatku terbangun dari tidurku. Aku arahkan pandanganku ke jelandela kamar
dan beralih ke jam yang bertempel di sampingnya. 17.30, aku bangun dan duduk di
pingir tempat tidur menghadap jendela yang tertutup kaca, berusaha mengumpulkan
angan-angan yang masih tertinggal di dalam mimpi. “Cuma mimpi” ucapku lalu
bangkit membuka jendela kamarku, udara sejuk setelah hujan reda membuat
kondisiku membaik “tapi kayanya engga deh” kataku seorang diri ketika menyetuh
kedua pipiku. Pandanganku mendadak berhenti kelangit yang mulai berwarna jingga
“kalo sakit gini nyusahin deh lu, bawel”
senyum lirihku selalu muncul jika mengingat setiap perkataan yang dia ucapkan
“kalo gue sakit udah engga nyusahin dan bawel, lu bakal balik engga jar?” lagi
selalu ada tangisan kecil di kala senja, sebenarnya aku benci seperti ini
terkesan lebay dan terlalu berlebihan tapi seberusaha apapun yang kulakukan
untuk membuat setiap tangis berhenti rasanya sulit, senja selalu berhasil
membuatku berkenala pada kejadian 4 tahun silam. Ketukan pintu di kamarku
membuatku teralihkan “kalo lu sedih cukup
gue aja yang liat, kalo lu sakit cukup gue aja yang lu susahin jangan nyokap lu,
diusianya sekarang udah saatnya dia hidup tenang dengan liat lu baik-baik aja”
teringat kembali setiap kalimat yang dia ucapkan, aku berusaha menghentikan
tangisku, menarik nafas berusaha terlihat baik-baik saja. Ketukan pintu semakin
kencang, aku bergegas untuk membukanya.
“Kenapa si ma, berisik banget deh” kataku dengan nada
sebal. “mama pikir kamu pingsan di dalam” jawabnya asal lalu tangannya teralih
memagang dahi ku “Ya Allah” suara paniknya muncul saat mengecek kondisi tubuhku
“ko makin panas si La, ke rumah sakit aja yuk” Dia tidak tau apa aku benci sekali
tempat itu, tanpa memperdulian paksaanya aku berjalan ke tempat tidur lalu
berbaring “La mama takut kamu kena tifus atau demam berdarah deh” aku berdecik
mendengar ucapan lebaynya. “Kilah engga papa mah, cuma panas biasa ditidurin
juga ilang ko” aku berusaha memejamkan kembali mataku yang mendadak terasa
pusing “kamu tuh ya ngegampangin banget penyakit, gara-gara sikap cuek kamu
akhirnya baru ketauankan kalo ternyata ka...” ucapan mama ku berhenti, “engga bisa punya anak” lanjutku di dalam
hati. “karena itu Kilah engga mau kesana lagi” balasku santai masih sambil
memejamkan mata. Mendadak kamarku senyi, aku tau ibuku berusaha mencari kalimat
yang pas agar kalimat yang diucapkannya bisa membuatku bangkit.
“dokter bukan Allah La” katanya lembut “tapi dokter
pelantaranyakan?” tanyaku membuat mamaku diam bingung membalas apa. “kamu cuma
sulit bukan berarti engga bisa kan? Jangan gampang nyerah gitu, lebih baik kamu
buktiin dengen cara kamu cepet nikah, mamakan juga pengen pamerin mantu mama ke
ibu-ibu pkk” paparnya membuatku tersenyum, dia pikir mantu itu barang apa,
dasar tukang pamer. “kenapa engga mama aja si yang nikah, biar lebih enak
pamerinnya karena milik sendiri” kataku asal, yang justru dapat timpukan
bantal. “kamu pikir apa yang menarik kalo kakek-kakek kriput yang dipamerin ha?
kulitnya yang udah lentur?, giginya yang ompong? atau rambutnya yang ubanan
semua?” kali ini aku bener tertawa kencang, ini adalah hiburanku, saat
tiba-tiba aku mulai menyerah aku selalu ingat selain Fajar ada satu orang yang
aku usahan agar tetap bahagia, ya Mamaku. Setelah mamaku tau apa yang terjadi
pada kondisi rahimku ia selalu berhati-hati dalam bersikap, tidak banyak
berkomentar tentang berapa usiaku dan harus apa yang aku lakukan diusiaku yang
beranjak 28 tahun. Walaupun terkadang kalimat ledekannya muncul untuk memintaku
cepat menikah tapi ia tidak pernah memaksa, ia berusaha mengerti ketakutanku,
lagian siapa yang siap hidup bersamaku selamanya tanpa seorang anak kandung?.
“udah deh cepetan siap-siap, abis solat magrib kita
langsung ke rumah sakit” perintah mamaku, “Engga bis.....” “mama udah izin ke
mamanya Ardi buat libur les dulu, jadi jangan banyak alesan” potong mamaku,
lalu bergegas keluar kamarku “dasar tukang ngatur”. Aku berusah bangkit dari
tidurku, kembali duduk dan menatap jendela yang terbuka, menatap senja yang
mulai terlihat jelas. Indah, senja akan selalu indah dari sudut manapun walau
ternyata hanya sebentar lalu memilih pergi, tapi setidakanya senja tidak akan
berkhianat, ia akan datang lagi esok harinya, dan aku percaya itu bahwa.... dia
akan kembali di putaran waktu yang berbeda “I
miss you, I miss you so much” ucapku lirih berbicara oleh senja yang mulai
hilang.
***********
“Kamu tunggu sini mama urus
administrasinya dulu terus ambil antrian buat cek darah” perintah mamaku yang
tidak dapat aku bantah, yang hanya ku jawab dengan decikan dan anggukan “ribet”
kataku kesel. Aku memutuskan untuk duduk di ruang tunggu sambil memperhatikan
lingkungan sekitar. Tiga bangku dari tempat yang kududuki ada sepasang suami
istri yang sedang menggendong anak perempunnya yang sepertinya sedang demam,
anak itu tertawa lucu ketika sang ayah memberikan candaannya, yang justru
membuatku ikut tersenyum dan mengelus perutku “apa aku masih punya harapan?” batinku
berkata, setiap wanita pasti ingin berkeluarga dan memiliki anak yang lahir
dari rahimnya dan sayangnya aku harus mengubur dalam-dalam keingananku. Saking
asiknya aku dengan pikiranku, sampai tidak menyadari 20 menit berlalu dan
mamaku belumnya kembali. Aku bergegas menelponnya, panggilan kedua kali belum
juga diangkat, lalu ku putuskan untuk mencarinya.
Saat
di tengah pejalanan tiba-tiba “bundaa” prak! itu bunyi handphoneku yang jatuh,
disebabkan oleh seorang gadis kecil yang tanpa alesan apapun tiba-tiba
memelukku, dan apa tadi katanya “bunda?” kataku bingung dengan memperhatikan
anak tersebut yang mendadak melepaskan pelukkannya lalu terlihat panik saat
mengambil handphoneku yang terjatuh dengan keadaan mati.
“Maafin
aku bundaa” katanya ketakutan dengan suara lirih seperti ingin menangis sambil
menyerahkan handphoneku. Aku hanya terdiam bingung mengamatinya, anak kecil itu
pun mendongakkan kepalanya sambil menatap mataku yang justru membuatku terpanah
dengan mata bulatnya yang indah dan sepertinya sebentar lagi akan mengeluarkan air mata,
“huaaa, bunda jangan marah” dan benar saja dia menangis sedih sambil menggenggam
handphoneku erat, aku masih bingung dengan keadaan ini, lalu tangisan anak itu
semakin kencang dengan terus mengatakan maaf “loh, loh ko jadi nangis kejer”
aku mulai menyadari, dan mencoba mencari cara untuk menenangkannya.
Aku
jongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya, mencoba bersikap tenang dengan
memberinya senyum tulus, lalu tanganku beralih mengusap kepalanya lembut,
akhirnya dia mengecilkan suara tangisnya dan menatapku dengan wajah bersalahnya
“adik kecil, namanya siapa?” tanyaku menenangkan, yang justru membuatnya wajah
kagetnya muncul lalu tangisannya pun berhenti “Shakilah kan bunda?” jawabnya
seperti menanyakan kembali kepadaku, ku bales dengan senyuman dan anggukan “oke
shakilah, lain kali harus hati-hati ya” nasihatku pelan dengan tetap
memberikannya senyum, lalu dia menyerahkan handphone ku “maaf ya bunda” kuambil
handphone itu yang memang sepertinya harus diperbaiki “bunda marah?” tanyanya
kembali yang kujawab dengan gelengan “engga ko, aku juga kurang hati-hati, kamu
engga papakan?” tanyaku merapikan rambutnya yang halus, yang di balesnya dengan
cengiran lucu dan gelengan kepala lalu dia tertawa girang “perasaan tadi
nangis” batinku dan justru membuatku ikut tertawa kecil melihat tingkahnya “aku
seneng bisa ketemu bunda” katanya malu-malu, eh aku baru sadar dari tadi dia
memanggilku bunda, apa katanya tadi, kenapa dia harus senang itu?.
“Shakilah” panggilan seseorang dibelakangku membuat tubuhku
kaku.
***********