Malam
ini. 2 juni 2013. Langit tak seindah seperti malam-malam kemarin, begitu gelap
tanpa sepercik cahaya. Tak ada benda langit yang terliat di antar ruang kosong
atap dunia, entah apa benda langit itu tak merasa nyaman akan sosok ku sekarang
ini atau… benda langit itu takut membuatku menetaskan butir air mataku karena
mereka berpikir pancaran cahaya yang mereka miliki terlalu menyulaikan dan
mebuatku iri. Entahlah, apapun alasanya aku tetep menjadi sosok gadis yang kini
kembali sendiri. Tuhan, sebodoh inikah diriku?. Untuk sekian kalian aku
menyakit dia. Laki-laki yang tulus dengan segenggam cinta dan rasa sayang yang
dia berikan padaku dan ku akhiri dengan balasan air mata dan luka. Aku tak
mengerti apa yang ku lakukan itu, kata hati selalu mengatakan “inilah
jawabanya’’ aku tak pernah mengerti dan tak berusaha paham atas permainan kata
hati. Sejahat itukah aku? . JAHAT!. Aku tau itu kata yang sangat cocok
mendominankan kepribadianku, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini.
Menangis, jawaban tepet bukan?, karena aku tak bisa melakukan apapun selain
menangis. Aku tak pernah menemukan jawaban atas setiap tetes air mata ini.
Tuhan…… bisakah Kau kembalikan keadaan seperti semula? Saat aku tak pernah
mengenalnya dan dia tak pernah mengenalku, saat aku tak berusah menyentuh
hatinya lalu melukainya dan dia tak pernah terluka akan sosokku, dan….. saat
aku tak mencoba memahami cinta dan dia tak pernah jatuh cinta padaku. Bisakah
Kau kembalikan itu?. Kurasa tidak, karena ketika waktu telah bermain saat itu jugalah
kita harus melakoni peran atas jawaban waktu. Jika semuanya tidak kembali
seperti semula, bolehkah aku meminta 1 permintaan?. Aku ingin, Kau kuatkan dia,
berikan kebahagiaanya, kebahagiaannya yang dulu yang belum pernah ada kata
luka, aku tak peduli berapa tetes air mata yang ku keluarkan saat ini, yang
kupedulikan adalah, dia bahagia. Bisakah aku melihatnya tertawa selepas dan
sebahagia dulu? Dulu saat aku diam diam memperhatikan senyumnya, yang menujukan
akan sosoknya yang kuat dan bahagia, saat aku belum mencampuri atas
kebahagianya. Bisakah Kau mengabulkan itu? . Hanya itu untuk saat ini, aku tak
peduli akan diriku yang ikut terluka, aku bisa dengan sekejab merasa baik-baik
saja, tapi entah bagimana dia, aku hanya takut menjadi salah satu peghalang
kebahagiaannya. Dan untuk mu “MAAF’’ hanya perkataan yang tak memiliki andil
besar untuk membuat semuanya kembali seperti semula. Kamu beloh marah padaku,
kamu boleh membenciku, dan kamu boleh menganggap aku tak pernah ada
dikehidupanmu yang baru, tapi bolehkah aku meminta 1 hal?, kamu harus kembali
menjadi sosok laki-laki sebahagia dulu, dimana aku tak pernah hadir disetiap
hela tawamu. Esok hari mentari akan menyambutmmu, membangunkanmu atas semua
mimpi burukmu tentang diriku, dan di hari esok pun, aku harap, permintaanku
dikabulan. Karena yang lebih penting untuk saat ini adalah kebahagianmu, dan
berjanjilah besok dan seterusnya kamu akan tumbuh menjadi laki-laki yang
bahagia dan sukses seperti harapan hatimu. Jadi inilah akhirnya.... Selamat
tinggal untuk kisah luka yang tak berujung :’)
Aku
tak pernah tau akan jalan ceritaku esok, aku hanya ingin berusaha untuk paham
dan mempelajarai jalan ceritaku hari ini