Selasa, 11 Juni 2019

Perceraian orangtua? Layakkah anak kita terkena dampaknya?


Baiklah, sepertinya tulisan kali ini akan terdengar berat karena apakah seusiaku layak membicarakan hal ini? Menurut zonaku hal itu sah-sah aja jadi jangan protes! Hehehe.

Perceraian, dengernya aja rasanya seperti perbuatan yang diharamkan bukan? Ditulisan ini aku bukan bermaksud menggurui tapi hanya berbagi pengalaman dari cerita hidupku. Banyak yang bilang “untung Ririn sikapnya engga aneh-aneh ya” setelah tau bagaimana kondisi keluargaku banyak yang selalu menyatakan syukurnya karena sikapku masih selayaknya manusia yang menikmati hidup dengan tetap berpegangan pada norma yang berlaku. Namanya perceraian pasti berdampak pada psikologi anak, aku rasa tidak ada anak yang sepenuhnya menerima dan baik-baik saja saat ada diposisi tersebut. Diketahui banyak sekali yang penah kita denger dan mungkin kita lihat langsung akibat dari perceraian orangtua anak akhirnya melakukan pemberontakan. Mereka bersikap seperti bukan hal yang mereka mau tapi mereka ingin menunjukan bahwa diri mereka bisa seorang diri tanpa orang tua, lalu kedepannya apa yang terjadi? orang-orang yang meilihat sikap berontaknya tersebut akhirnya memberi simpel bahwa anak itu buruk tanpa bisa memastikan bahwa yang dikatakannya itu benar atau salah.

Perceraian orang tua menimbulkan gejolak dalam diri anak untuk bersikap yang kadangan diluar nalar orang lain. Hal yang terjadi padaku memang masih sederhana dan aku menyikapinya dengan tetap berpegangan bahwa aku tidak ingin mengecewakan mamaku, tapi ketahuilah sebaik-baiknya sikap anak yang mengalami perpecahan keluarga pasti meninggalkan bekas yang membuatnya ketakutan, aku memang bukan pemberontak namun karena hal tersebut aku menjadi seorang anak yang penakut dan terlalu cupu hahaha. Cupu? Ya.... aku Ririn anak yang akan menutup kupingnya dan gemetaran ketika melihat orang berteriak satu sama lain, aku ririn yang ketika melihat pertengakaran anak muridnya akan memanggil guru lain untuk memisahkan karena gemetaran tidak sanggup berdiri hanya untuk melerainya, aku ririn yang akan sangat mudah menangis jika mendengar seseorang berkata yang cukup keras kepadaku, dan banyak hal ketakutan pada diriku yang mungkin jika aku ceritakan kalian akan tertawa. Semua itu adalah dampak dari hasil perceraian orang tua, anak yang menerima keadaan saja punya guncangan tersendiri dalam hidupnya, pertanyaannya.... bagimana dengan anak yang tidak menerima keadaan orang tuanya?. Jadi layakkah kita menghakimi meraka dengan kata-kata buruk, TIDAK!. Kita tidak berhak menghakimi meraka dan berkata “kamu mirip seperti bapak/ibumu, sama-sama buruk” Wow anda bukan Tuhan yang berhak menghakimi mereka dengan kata-kata yang anda sendiri tidak mengetahuinya bagaimana rasa sakitnya. Pemberontakan adalah tameng untuk menunjukan bahwa mereka baik-baik saja dan menikmati hidupnya entah hal itu baik dan tidak baik untuk hidup mereka yang ku ketahui seorang pemberontak harus tetap terlihat senang padahal mungkin kehidupannya kosong, karena sebenarnya mereka perlu bantuan. Dan karena hal itu anda tidak berhak menghakimi mereka dengan pernyataan anda.

Jadi apa yang harus dilakukan untuk menghadapi si anak pemberontak?, aku tidak tau cara ini berhasil atau tidak, tapi aku pernah mengalaminya.

Ajak mereka melihat masa depan. Aku pernah mengalami pada posisi pilihan haruskan aku menjadi pemberontak? Agar kedua orangku lihat bahwa yang mereka lakukan adalah hal yang salah. Hal itu berubah ketika aku melihat sebuah keluarga kecil yang penuh tawa bahagia. Aku memang tidak ada diposisi menjadi anak yang keluarganya penuh tawa bahagia, tapi haruskah aku merusak mimpi anakku kelak ketika dia ketahui bahwa ibunya memiliki sikap yang tidak diharapkannya, sikap pemberontak. Aku tidak ingin hal itu dialami anakku kedepannya menjadi anak pemberontak karena cerminan diriku, menjadi anak pemarah dan tidak menerima keadaan, aku tidak ingin hal itu. Aku membayangkan saat aku menjadi orang tua dan melakukan kesalahan lalu anakku berubah sikapnya menjadi seorang pemberontak, aku rasa bukan hanya anakku yang hancur tapi juga diriku. Setiap orang tua walaupun ia melakukan sesuatu kesalahan, Ia akan merasa tersiksa ketika mengetahui anakknya menjadi sesuatu yang tidak ia harapkan. Dan bayangan itu yang membuat aku ketakutan, aku tidak ingin anakku menjadi cermin diriku yang dianggap buruk oleh orang lain. Aku ingin anakku bangga pada diriku “ini loh bundaku, bunda yang hebat” hanya kalimat itu yang aku ingin dengar dari anakku kelak, maka dari hal itu ketika aku berusaha berontak karena keadaanku, yang akan selalu kupikirkan adalah sikap anakku kelak. Harapanku sederhana, ketika anaku ditanyakan siapa idolanya, mereka akan berteriak kencang dan menjawab “bunda dan ayah”. Membayangkan hal tersebut saja aku menjadi semangat untuk belajar menjadi orangtua yang dibanggakan oleh anakku nanti.

Jadi siapapun kamu yang mengalami kisah yang sama, ayo kita sama-sama belajar untuk mengikhalaskan diri, sulit si memang engga ada yang mudah dalam melalui kehidupan ini. Tapi bukan berarti kita menyerah untuk jadi orang tua yang baik untuk anak kita kelak, anak yang bahagia akan lahir dari orang tua yang bahagia, bagimana cara untuk bahagia? Pelajari diri sendiri dan pandanglah sesuatu yang manis kedepan, maka kamu akan mengerti bahwa hidup untuk masa depan bukan masa lalu. Maafkan yang terjadi di masa lalu dan kembali bergerak, karena kamu juga berhak untuk bahagia.

Senin, 03 Juni 2019

Gagal Bersembunyi IV (Belum Berakhir)


Ginanjar biasa dipanggil Anjar, pemuda cerdas yang mampu memporak-porandakan kehidupan seorang Ara. Kalau kalian pikir kita punya kisah seperti Dilan dan Milea, kalian salah, kita tidak punya kisah cinta yang bersemi dikala remaja hanya cerita dua manusia yang saling menyembunyikan apa yang kita rasakan agar tidak menghancurkan keduanya di masa depan. Baiklah ternyata aku salah pemuda itu berhasil membuatku hancur sampai sekarang. Pertemuan yang mungkin tidak pertama kali namun meninggalkan bekas yang selalu membuatku ingin kembali dan terus kembali di tahun itu. Pesta kembang api tahun baru, pertama kali kita berkomunikasi melalui tatap mata. Mata teduh itu yang diam-diamku lirik juga melirik kearahku membawaku menjadi gadis remaja penuh harapan, lalu kehidupan kisahku bersamanya terus berlanjut tanpa pernahku pikirkan hal ini berdampak baik atau buruknya untukku dan dia dikedapannya.

“Mama engga setujuh ya Ra kamu sama dia, kalo untuk berteman baik okelah tapi kalo lebih dari itu mama engga mau!”
“Tante engga pernah nyalahin perasaan Ara karena tante pernah ada di posisi itu, tapi semuanya akan sia-sia Ra kamu engga akan dapat tempat dikeluarganya”
“Ka kalian itu saudara, walau bukan saudara dekat tapi kisah kalian ini salah”

Ya, kalimat penolakan selalu aku dapatkan ketika bercerita, lalu apa kalian pikir aku menyerah? Tidak! Aku Ara si keras kepala yang ketika aku memilih dia orangnya walau silih berganti yang dekat tetap tidak akan berubah perasaanku kepadanya. Dan.... inilah akhirnya, kita sering berkomunikasi, sampailah pada saat kita melalukan pertemuan. Aku pikir pertemuan ini awal baru untuk memperjuangkan satu sama lain, tapi....

“Jadi, yang Ka Ara bilang itu benar?” ku balas dengan tertawa dan bingung memikirkan kalimat apa yang tepat agar aku tidak merasakan sakit ketika aku dengar jawaban yang tidak seperti yang kuharapkan.
“Iyaa, tapi aku sadar ko kita saudaraan, jadi benerkan kamu cuma anggap aku saudara?” ketika pertanyaan itu keluar dari bibirku maka harusnya aku bisa menerima kalo ini adalah akhir dari kisahku, tapi sayangnya ketika dia hanya menjawab dengan sebuah anggukan kaku yang kulihat dari belakang, aku seperti sebuah buah bom yang meledak tapi tidak mati melainkan kesakitan yang aku sendiri bingung bagaimana cari menyembuhkannya.

Sampai saat ini, walau aku telah melihat fotonya bersama yang “katanya” kekasihnya aku tetap seorang Ara yang selalu menjadikan Ginanjar rumah walau tak pernah diizinkan untuk masuk kedalamnya tapi dengan menyebut namanya aku selalu mempunyai harapan bahwa akhirnya kisahku akan bahagia bersama.

“Dan lu salah kalau mikir kaya gitu terus Ra, lu berhak bahagia dengan jalan yang Allah buat, bukan yang lu mau” Riri yang selalu mengingatkan aku bahwa semua orang berhak memperoleh kebahagiaan masing-masing atas kehendak Allah.
“coba Ra lu liat nyokap lu, dan inget berapa umur dia?, apa harapan dia?, bukan soal materi Ra tapi kebahagiaan lu itu penting buat dia” kalimat yang benar-benar membuatku bersalah, tapi aku bingung bagimana caranya untuk ikhlas.
“Ra... nyokap lu selalu khawatir dengan kondisi lu yang sekarang, sibuk dengan kerjaan lu dari pagi sampe malam, engga punya waktu libur yang lu lakuin kerja kerja dan kerja, tanpa lu pikirin gimana khawatirnya mama lu, karena yang ada dipikiran lu cuma lupain Anjar lupain Anjar tapi nyatanya lu engga bertindak apapun buat ngelupain dia lu cuma diam di tempat dan berputar-putar dengan kerjaan lu” kali ini aku tidak bisa membendung air mataku, aku bingung.... bingung bagaimana bertindak yang tepat karena kenapa rasanya seperti aku tidak ada harapan apapun.
“saat gue denger cerita nyokap lu, gue jadi inget mama gue Ra, saat gue ngasih tau Aldo ngelamar gue dia nangis terus bilang “tugas mama sebentar lagi selesai Ri, mama bisa tenang diusia mama sekarang” setiap orang tua bahagia bukan cuma soal materi tapi buat dia untuk anak perempuannya bisa mengeliat anaknya ada yang jaga kelak itu kebahagian sesungguhnya” Riri menarik dua tanganku lalu menggenggamnya memberi kekuatan di tengah tangisku.
“Gue sedih denger cerita nyokap lu Ra, lebih sedih lagi ngeliat lu sekarang, badan makin kecil, kelopak mata makin hitam, senyum palsu setiap hari, ini bukan Ara yang gue kenal beberapa tahun lalu, semanjak kejadian lu ketemu Anjar rasanya gue pengen marah sama Anjar, apa yang dia udah lakuin sampe buat lu jadi kaya manusia paling bodoh, tapi gue pikir lagi yang harusnya gue marahin itu bukan dia tapi lu, pikiran bodoh lu itu yang harusnya lu lawan. Anjar bukan udara Ra, tanpa dia lu harusnya masih bisa hidup selayaknya, engga kaya gini” penyataan Riri membuat aku malu pada diriku sendiri “gue salah, Ara salah ma”.
“Jadi, mulai sekarang ubah pola pikir lu, kebahagiaan itu bisa diliat dari sudut padang manapun Ra, Ikhlas walau sulit tapi setidaknya lu mau belajar tentang keikhlasan itu, paham anak badung?” yang bisa ku jawab dengan anggukan disela senyum tipisku.
“Anak pintar” katanya sambil mengusap-suap kepala ku selayaknya seekor kucing yang justru membuat ku tertawa sambil menyingkirkan tangannya “gue bukan kucing pea” “loh gue pikir lu anjing bukan kucing” jawabnya sambil tertawa senang yang justru membuatku ikut tertertawa.
“besok lu harus dateng dan ceritain ke gue gimana tuh cowok, kata nyokap lu dia polisi perwira ya? Wow maco maco gimana gitu” katanya dengan suara genit yang membuatku kembali menyumpal mulutnya dengan kentang yang masih tersisa “Berisik!” yang di balas dengan tertawanya
“tapi Ri, gue jadi takut lu taukan tabiat polisi itu kaya gimana, gue takut malah...”
“mulai lagikan berpikir buruk mulu, terus kalo lu anggep semua cowok bakal nyakitin lu, yang engga bakal nyakitin lu siapa? Anjar gitu? Pikiran lu harus di bersihin mulai sekarang pake beklin kalo perlu” jawabnya ketus “Ra denger ya, namanya orang tua pasti nyari yang terbaik buat anaknya, jadi coba deh lu berpikir positif mulai sekarang, jalanin dulu jangan setengah-setengah, kalo memang engga baik pasti Allah punya jalan sendiri buat nemuin yang terbaik dengan syarat lunya harus mulai belajar membuka diri dan berpikir positif’ subhanallah, aku memberikan tepuk tangan untuk manusia bijak satu ini.
“Sumpah Aldo pake jampi jampi apa, lu mau nikah jadi bijak gini” dan setelahnya aku dapat bonus gatakan lagi
“dikasih tau juga, pokoknya engga mau tau lu harus cerita besok kelanjutannya kaya gimana oke” katanya semangat, yang justru membuatku ikut tersenyum “hmm” jawabku singkat sambil tertawa melihat cengerinya di wajahnya.
“DOR” “astagfirullah” kenapa si pasangan edan ini hobi membuat aku jantungan ha? “lu tuh ya Do sama sarapnya noh kaya calon bini lu” yang di jawab dengan ketawa super ngakaknya dia melihat tampang habis nangisku yang kaya orang struk saking kagetnya “tuhkan samanya kalian, lagian ngapain di lu Do ke sini ganggu tau engga” kataku ngomel-ngomel setelah dia duduk di samping calon bininya itu.
“Monmaap suhu sudah malam, waktunya calon ibu untuk anak-anakku pulang dan istirahat” “PREEET, jijik tau engga si gue dengernya” balasku ketus yang justru membuat dua manusia sarap ini semakin tertawa.
“jangan iri gitu ah, nanti irinya pas dateng aja kenikahan kita, ya engga beb?” “yoi” dua pasangan di hadapan ku ini minta banget di racunin kayanya yaa, biarin aja mereka yang dosa mesra-mesraan di depan jomblo kaya gini. Akhirnya kami lanjutkan obralan mengenai konsep lamaran meraka yang justru membuatku benar-benar berasa senang sekaligus rasa iri muncul yang selalu berusaha ku alihkan. Waktu menjukan pukul 21.10, dan ini alarm menunjukan waktuku pulang. Kami sama-sama jalan ke parkiran, dan sebelum aku menuju tempat parkir motorku, Riri menarikku dan memelukku erat “Ra, engga tau si wangsit dari mana tapi gue yakin setelah ini lu bakal menemukan arti kebahagian sebenarnya dengan orang yang baru, jaga kesehatan yaa” katanya tulus dengan berusaha menguatkan yang membuatku tersenyum haru “lu juga jaga kesehatan gue tunggu undangan lamarannya ya”.
Ini belum akhir tapi ini adalah awal untuk aku lebih belajar lagi, Riri benar setiap orang punya happy endingnya masing-masing, jika jalan hidup kita sama seperti seseorang bukan berarti punya akhir yang sama, justru bisa saja akhirnya sangat berbeda seperti yang kita harapkan, tapi bukan berarti kita justru saling iri, melainkan kita berterima kasih dengan hal itu, karena kita akhirnya bisa sama-sama belajar dan memahami bahwa Allah selalu memberikan jalan terbaik untuk setiap umatnya jika kita pandai bersyukur.

********
Aku merapikan poni rambutku melalu kaca spion, mengecek kembali pakaianku yang sepertinya akan kena omel oleh mamaku, celana levin panjang, kaos putih yang kututup jaket levis gombrongku dan kets putih sebaik pelengkap, kalau menurutku penampilanku engga buruk-buruk amat engga tau deh kalo menurut mamaku. Getaran di dalam tas membuatku terahlikan Ibu Negara “ yaelah baru di pikirin udah muncul aja” kataku seorang diri lalu buru-buru mengangkat panggilannya.
“Assalamuaikum”
“waalaikumsalam, dimana?” weeets ngegas amaat diaa
“diparkiran ini mau jalan kesana” jawabku santai
“cepetan, lama banget mama kan engga enak ini”
“iya-iya” lalu tiba-tiba telpon terputus, kebiasaan emang ibu negara banyak maunya.
Aku berjalan menuju restoran yang lumayan ramai itu dan mencari keberadaan banginda ratu, sampai akhirnya aku melihat sosok yang aku kenali  disamping mamaku melambaikan tangan yang membuatku bingung lalu berjalan karahnya.
“Assalamuaikum, maaf ya Ara telat” kataku menyalami mamaku yang terlihat wajahnya sedikit kesal namun tertutupi, lalu berahli kesosok ibu yang aku kenali “loh Mama Wawa, ada disini juga toh” kataku sedikit bingung kenapa mamanya murid bimbelku bergabung satu meja dengan ku “ini Mama Wawa nganterin kakak, nah yang kakak Mama Wawa Ra, kenalin” lalu aku berahli memberi salam pada ibu yang katanya kakaknya Mama Wawa, ibu itu membalas  dengan senyum ramah dan mengelus kepalaku lembut “ini yang namanya Ara?” tanyanya ramah kepadaku “iya tante, saya Ara” jawabku dengan senyum lebar yang membuat ikut tersenyum “panggil aja Mama Santi” “iya Mama Santi” lalu ku bergegas duduk disamping mamaku berhadapan dengan Mama Santi yang masih tetap tersenyum memandang kearahku.
“Ara engga seperti umur 25 tahun ya Rik, gemas kaya anak SMA, Raka emang engga salah pilih” jelasnya yang hanyaku jawab dengan senyuman dan tawa oleh mamaku.
“Hai cik gu” sapa seseorang yang membuat aku menengok kebelakang dan menemukan anak laki-laki remaja yang dulu sering sekali aku omeli “Wawa yaampuun” kataku kegirangan lalu dia menyalamiku dan tersenyum lebar, aku berdiri mengacak-acak ramputnya seperti dulu saat aku gemas dia tidak menuruti perintahku “mulai kan” kata sedikit kesal yang membuatku tertawa.
“Ma liat deh Wawa udah segede gini, gimana Mama Wawa anak ini masih susah di bilangin engga?” tanyaku antusis sambil mengalungkan tanganku ke lengannya yang membuat ibu-ibu disekiatku tertawa “biasalah ka kalo engga batu ya bukan Wawa” jawab Mama Wawa yang membuatku melotot kearah anaknya, lalu aku memukul pelan lengannya “Sikap batunya harus dikurangan ah, kasihan mama kamu” nasihatku yang membuatnya tersenyum lalu memberi hormat “siap cik gu” katanya lantang yang membuat kami semua tertawa.
“udah ah lepas jangan digandeng mulu nanti aku kena omel sama komandan disebelah ini” katanya sambil melepaskan gandenganku dan menarik seseorang dari belakangnya. Aku baru menyadari ternyata ada seorang lagi yang sejak tadi bersama kami.
“Nih bang yang gue bilang, bawel tapi...” lanjutnya membisikan sesuatu ditelinganya yang akhirnya membuat semuanya tersenyum dan laki-laki itu ikut tersenyum menatapku. Wawa lalu menepuk bahu laki-laki itu dan berjalan menuju tempat duduknya. Aku sendiri sedang berdiri bingung harus berkata apa, dengan kondisi semuanya menatapku tersenyum.
“Hai Ara ya?” kata laki-laki di hadapanku dengan suara canggung yang kubalas dengan senyuman dan anggukkan kaku. Lalu dia mengulurkan tangannya.
“Aku Raka” kutatap uluran tangannya lalu berahli ke wajahnya yang tetap tersenyum kearahku, dan seketika mata kami bertemu yang justru membuat tubuhku menjadi kaku saat melihatnya sampai akhirnya.... “Ra bengong lagi, itu si Raka ngajak kenalan juga” kata mamaku mengagetkanku yang langsung membuatku menunduk menatap uluran tangannya dan membalasnya.
“Aku Ara” kataku mengangkat kepala dan menatapnya kembali dengan ulas senyum dibibirku, lalu kami saling tersenyum. Senyuman perkenalan kami yang aku sendiri tidak mengerti makna apa yang tersirat, yang ku tahui bahwa setelah ini aku akan belajar memulai kehidupan baru dengan seseorang yang telah di takdirkan oleh Sang Penguasa, dan aku belajar berserah diri dan menerima bahwa jika ini yang ditakdirkan maka segala sesuatu akan terjadi, pada jam ini... hari ini.... dan nanti diwaktu yang telah di tentukannya. Dan...... kisah baru ini telah di mulai.

END

Gagal Bersembunyi III


“DOR!” “astagfirullah” aku tergelonjak kaget dan yang mengagetkan malah tertawa ngakak melihat wajahku yang engga santai. “Minta gue sumpel ya mulutku pake bakiak” masih terdengar sisa-sisa tawanya, dia duduk dihadapanku dengan wajah yang terlihat cerah.
“Lagian lu, masih hobi bengong aja, kalo kesurupan minta kopi item kan repot, Mcd mana jual kopi item” paparnya sambil tetap tertawa. Dia itu Riri manusia yang hobi banget tertawa, mau seneng, sedih, galau, ketawa mulu kerjaannya, tenang aja dia waras ko tapi belum coba periksa aja ke RSJ, mungkin kalo udah periksa aku rasa dia jadi pasien tetap disana, diakan levelnya lebih tinggi dari orang gila. Kulihat sekilas jam tanganku 19.20 “Masih hobi ngaret aja lu, hampir satu jam gue nunggu” jelasku. “berarti hampir satu jam juga lu bengong” jawabnya dengan senyum mengejek.
“Sok tau lu kutil badak”
“I know you.... always”
“dukun kali ah” dibalasnya dengan tawa, tuh kan bener gadis dihadapanku ini emang hobi banget ketawa, tapi kali ini aku melihat tawa yang berbeda, tawa cerah seperti menang undian berhadiah.
“jadi, kita akan mulai gibah tentang apa nih?” tanyaku penasaran.
“setdaaah, niat banget ya lu kalo soal gibah, ketauan Killah abis kita di ceramahin” aku balas dengan tawa. 
By the way, aku jadi inget Killah, dia salah satu sahabat SMAku juga anaknya terlalu baik, kalo udah mulai gibah dia deh yang langsung berubah jadi Mama Dedeh, udah lama juga engga ketemu, sekarang dia tinggal di Semarang bareng suaminya.
“jadi kangen Killah, dia kapan lahiran ya? Mesti ke Semarang dong kita”
“bulan kemaren kan baru 4 bulanan, 5 bulan lagi berarti, alaaah sok ke Semarang lu ngajak ketemu lu aja harus atur jadwal dulu, sok kaya presiden” ucapnya sedikit kesel sambil melemparku kentang goreng, tapi malah aku bales dengan cengiran.
“kejar setoran guee” jawabku asal sambil tertawa
“engga kreatif  lu pake jawaban Danu, asal diajak ketemu jawabnya sibuk kejar setoran gue”
“lah iya si Danu mah harus kejar seteron banget dia, buka cabang dimana-mana”
“iya ya resiko sok kegantengan itu pacarnya banyaak” kami berdua tertawa, tuhkan banyak dosa banget aku kalo ketemu sama dia ada aja gibahannya Astagfirullah. Mendadak aku jadi ingat sahabat-sahabat SMAku yang sekarang udah kaya ditelan bumi, walau masih sering rumpi di Grup tapi tetep aja cuma sebatasnya doang.
“jadi kangen anak-anak gue, sekarang udah pada punya dunia masing-masing, Killah ikut suami ke Semarang, nah si Lala juga sibuk sama si kembar, Danu kejar setoran mulu tiap hari, si Ana lagi sibuk siapan nikahan, oh iya si Ana gimana? Belum ada kabarnya dari dia kan” aku jadi ke inget Ana, udah lamaran 2 bulan lalu sekarang pasti lagi sibuk-sibuknya ngurus nikahan. Sedikit cerita tentang Ana, diantara sahabatku yang lain Ana itu yang paling woles, cewek tomboy yang jatuh hati dengan cowok selembut seprai hahaha, bukan berarti cowonya cucok ya cuma aja calonnya itu hatinya lembut banget keliatan dari cara ngomongnya pelan banget kaya keselek biji salak.
“dia si sempet nanya sama gue, bahan bridesmaids buat kita perlu engga dibelian buat pathnernya juga, terus..” “ya engga perlulah, buang-buang duit” potongku cepet “yaaelah gercep banget si lu mbloo, takut kaya Killah kemaren ya” katanya sambil tetawa, lama-lama ngeselin kalo liat dia ketawa mulu, tambah kesel lagi karena denger kabar ini.
Bayangin aja waktu nikahan Killah aku berasa sahabat yang terbuang, emang si Killah demen banget buat aku malu. Saat mereka pamer foto bridesmaids bareng pasangan masing-masing aku sendiri yang dijadiin tukang fotonya, kurang ngenes apa coba? Ya gimana lagi kalo ikut foto bareng makin ngenesnya karena pasti jomplang beda sendirian.
“Makanya, pikirin deh dari sekarang siapa yang siap dijadiin pasangan nan..” aku langsung menyumpel mulutnya dengan kentang, tapi malah dimakan dengan lahap kaya orang engga pernah dikasih makan “tega banget si lu Ra, kalo gue keselek, terus tiba-tiba koid engga jadi nikah gue” Alaah gimana koidnya, dia juga doyaan itu.
“Ya kalo lu koid Aldo tinggal cari pengganti yang lain” kataku mengejek dan dibalesnya dengan pelotonan sambil melemparku kentang yang tersisa “Aldo tuh cinta mati sama gue tau, nih liat buktinya” sambil melebarkan kelima jari ditangan sebelah kiri kedepan wajahku. Aku memperhatikan jari-jarinya dan terdiam kaget melihat jari manis ditangan kirinya itu “Ri, Miaafeee” tanyaku dengan mata melotot, dan dibalesnya dengan cengiran “GILAA NJIIIIR” kataku teriak histeris sampai pengunjung lain memperhatikan meja kami plus bonus plototan dari Riri “Uppss sorry” ujurkan dengan cengiran, lupa kalo lagi di Mcd.
“Ko lu baru ngasih tau gue? Aldo juga diem-diem aja lagi” kataku sok sebel manja gitu. Riri dan Aldo, kisah mereka itu udah persis kaya film teman tapi nikah versi dramatisnya, perjalanan panjang meraka dengan saling memendam, bersembunyi, lalu berjuang lagi sampai akhirnya memutuskan saling mengikat seperti sekarang membuat aku tersenyum miris mengingatnya. Aku menggampiri Riri lalu memeluknya “Selamat ya” ucapku tulus, aku senang tapi tiba-tibu muncul perasaan sedih, entah sedih karena tinggal aku yang masih sendiri diantaran sahabatku yang lain atau sedih karena..... mungkin perjalananku tidak berakhir indah seperti Riri.
Riri melepaskan pelukan ku sambil memperhatikan wajahku dengan ekspersi anehnya “kenapa si?” tanyaku dan dibalas dengan senyuman dan elusan di tangan ku “Are you okay?” tanyanya memastikan. “I’m okay” jawabku dengan senyum tulus “seneng banget gue akhirnya setelah sekian lama kebuka juga mata lu sama Aldo, selamaaat ya nyeet” lanjutku dengan cengerian khas yang malah dibalas dengan senyuman mengejek “engga mau tau, acara lamaran gue lu harus bawa gandengan” katanya mengancam.
“iya tenang aja kalo Rio lepas jaga gue ajak dia, duuh....” salah apa gue sampe dapet gatakan dari manusia ini. “ya engga adek lu juga kali nyet, ya boleh si Rio dateng tapi dia gue suruh bawa ceweknya lah, lu cari aja gandengan sendiri jangan nyusahin adek lu mulu” kalo ngomong ya si Riri minta banget di gatak balik nih orang.
“lu nyuruh gue cari cowok sewaan buat ke acara lamaran elu, aduuh sakit gilaa” ini orang bener-bener ya biasa tangan ngulek cabe kali ya kalo gatak sakit banget. “lu tuh ya, bener kata tante Rika lu dodolnya udah kebangetan, ya cowoklu lah alias pacar alias calon suami” dia udah gatak aku terus kalo ngomongnya pedes banget, emang nih orang biasa ngulek cabe gini nih “boro boro calon suami, kaga ada yang mau sama gue lagian... aduuh..... gila lu ya udah tiga kali ini gatakan, sekali lagi gue dapet piring cantik nih” Riri membalas hanya dengan geleng geleng kepala “otak lu emang perlu digetok, siapa tau amnesia lu engga berkelanjutan” omelnya sambil sibuk sendiri kutak katik hp, lalu tiba-tiba menjukan foto yang membuatku ingin tertawa.
“Namanya Fatir, lu pasti tau siapa diakan? Engga ngerti apa kurangnya dia sampe ada cewek gila yang ngaku ngaku janda punya anak dua sampe dia ragu dan mutusin buat engga deketin cewek itu” “HAHAHAHAHA” sumpah aku ngakak banget dengernya, Fatir ini cowok yang mulutnya manis banget saking manisnya aku berharap itu mulut disengat lebah biar jontor sekalian, ya abis dia itu bilangnya “aku nemerima kamu apa adanya ko, langsung nikah juga hayuk” eh pas diajak ketemuan gue bawa dua bocah dan ngaku janda anak dua aja dia udah mundur, mulutnya emang perlu diantep tawon itu orang.
“tuh kan malah ketawa bukannya nyadar, bentar gue punya lagi, Nah ini ka Tami, mapan, umur oke, sopan, engga banyak ngomong tapi malah di tolak sama cewek yang otaknya bermasalah dengan bilang kita engga cocok deh kayanya” Emang si Riri pinter banget buat orang ngerasa bersalahnya. “Nah yang terakhir, Edgar yang jelas-jelas naksir sama tuh cewek dari SMA, ada niat mau serius, kerjaan oke, keluarganya doi baik banget dan cewek itu malah kabur dengan alesan dia terlalu cakep” Riri emang ya kalo ngomong lebih pedes dari cabe ijoo, kan aku jadi ngerasa bersalah banget, lagian si Edgar ribet banget pake naksir-naksir aku tampang oke kaya gitu naksir sama tutup wajan kaya aku, naksir kek cewek lain yang cakepan dikit.
“Nyindir lu langsung kena ke hati ya nyet, lagian yaudah si bukan jodoh mau gimana lagi” jawabku pasrah, yang di jawab dengan gelengan kepala “lagian nih lay, gue lagi coba berbaiki diri, jodoh itu cermin kalo gue masih asal-asalan kaya gini gue bakal dapet yang asal-asalan juga” kataku sok bijak.
“iya jodoh cermin diri kalo lunya masih asik stuck di satu tempat, jodoh lu juga pasti masih asik stuck disatu tempat, nah engga ketemu temu deh kalian, emang enak” ucapan Riri membuat aku terdiam, lagi pada kenapa si? Engga Riri engga mama suka banget buat aku bingung harus jawab omongnya gimana.
“Ra, gue tau ikhlas itu susah tapi engga ada salahnya untuk belajar ikhlas Ra, sesuatu yang dipaksain itu engga baik akhirnya, semua orang punya happy ending yang beda-beda, coba lu liat happy ending lu dari sudut yang lain, gue bukan mau ngerasa sok tau atau sok ngatur, gue cuma mau lu dapet yang terbaik Ra” kali ini aku bener-bener bungkam, entah kenapa ucapan Riri dan mama punya makna yang sama. “Anjar udah punya yang lain Ra, dan lu berusah menyangkal itu dan tetap berberkhayal bahwa endingnya lu bakal sama dia, okeah kalo ternyata bener endingnya kalian bakal bisa sama-sama, tapi coba lu pikir apa iya dengan kalian bersama itu baik buat keluarga lu dan dia kedepannya?”. Ku jawab dengan senyuman, menarik nafas, aku selalu takut pembicaraan ke arah ini, pembicaraan yang buat aku engga tau harus menjawab dan berbuat apa, pembicara yang membawa rasa bersalah namun aku tidak mampu untuk bergerak dan berusah untuk selalu menyangkal bahwa jalanku tepat.
“Dia baik Ri, dia kaya selalu berusaha engga mau nyakitin gue” lagi penyangkalan ku kuat dan susah tergoyahkan. Riri lalu mengelus bahuku sepeti berusaha menguatkan.
“Gue tau Ra, Anjar itu baik, dia engga mau nyakitin lu lebih dalam lagi, karena itu dia milih pergi, gue rasa sampai sekarang Anjar ngerasa bersalah dengan lu malah stuck nunggu dia, Ra coba liat dari cara sudut berpikir Anjar, mungkin karena dia sayang lu dia lebih pilih menghindar karena kalo diterusin dia takut elu sama dia malah sama sama hancur kedepannya, jadiin Anjar pelajaran Ra, terima karena ini emang jalannya, kalo lu berusah nyangkal mulu, lu malah nyakitin Anjar dan diri lu sendiri bahkan orang lain” Aku bener-benar tidak dapat berkata apapun, semuanya terasa berputar membawaku ke mesin waktu kala itu.

*********

Jumat, 15 Maret 2019

Rindu ? (Kala Senja)

“Fajaar” batinku berkata, yang justru membuatku terbangun dari tidurku. Aku arahkan pandanganku ke jelandela kamar dan beralih ke jam yang bertempel di sampingnya. 17.30, aku bangun dan duduk di pingir tempat tidur menghadap jendela yang tertutup kaca, berusaha mengumpulkan angan-angan yang masih tertinggal di dalam mimpi. “Cuma mimpi” ucapku lalu bangkit membuka jendela kamarku, udara sejuk setelah hujan reda membuat kondisiku membaik “tapi kayanya engga deh” kataku seorang diri ketika menyetuh kedua pipiku. Pandanganku mendadak berhenti kelangit yang mulai berwarna jingga “kalo sakit gini nyusahin deh lu, bawel” senyum lirihku selalu muncul jika mengingat setiap perkataan yang dia ucapkan “kalo gue sakit udah engga nyusahin dan bawel, lu bakal balik engga jar?” lagi selalu ada tangisan kecil di kala senja, sebenarnya aku benci seperti ini terkesan lebay dan terlalu berlebihan tapi seberusaha apapun yang kulakukan untuk membuat setiap tangis berhenti rasanya sulit, senja selalu berhasil membuatku berkenala pada kejadian 4 tahun silam. Ketukan pintu di kamarku membuatku teralihkan “kalo lu sedih cukup gue aja yang liat, kalo lu sakit cukup gue aja yang lu susahin jangan nyokap lu, diusianya sekarang udah saatnya dia hidup tenang dengan liat lu baik-baik aja” teringat kembali setiap kalimat yang dia ucapkan, aku berusaha menghentikan tangisku, menarik nafas berusaha terlihat baik-baik saja. Ketukan pintu semakin kencang, aku bergegas untuk membukanya.
“Kenapa si ma, berisik banget deh” kataku dengan nada sebal. “mama pikir kamu pingsan di dalam” jawabnya asal lalu tangannya teralih memagang dahi ku “Ya Allah” suara paniknya muncul saat mengecek kondisi tubuhku “ko makin panas si La, ke rumah sakit aja yuk” Dia tidak tau apa aku benci sekali tempat itu, tanpa memperdulian paksaanya aku berjalan ke tempat tidur lalu berbaring “La mama takut kamu kena tifus atau demam berdarah deh” aku berdecik mendengar ucapan lebaynya. “Kilah engga papa mah, cuma panas biasa ditidurin juga ilang ko” aku berusaha memejamkan kembali mataku yang mendadak terasa pusing “kamu tuh ya ngegampangin banget penyakit, gara-gara sikap cuek kamu akhirnya baru ketauankan kalo ternyata ka...” ucapan mama ku berhenti, “engga bisa punya anak” lanjutku di dalam hati. “karena itu Kilah engga mau kesana lagi” balasku santai masih sambil memejamkan mata. Mendadak kamarku senyi, aku tau ibuku berusaha mencari kalimat yang pas agar kalimat yang diucapkannya bisa membuatku bangkit.
“dokter bukan Allah La” katanya lembut “tapi dokter pelantaranyakan?” tanyaku membuat mamaku diam bingung membalas apa. “kamu cuma sulit bukan berarti engga bisa kan? Jangan gampang nyerah gitu, lebih baik kamu buktiin dengen cara kamu cepet nikah, mamakan juga pengen pamerin mantu mama ke ibu-ibu pkk” paparnya membuatku tersenyum, dia pikir mantu itu barang apa, dasar tukang pamer. “kenapa engga mama aja si yang nikah, biar lebih enak pamerinnya karena milik sendiri” kataku asal, yang justru dapat timpukan bantal. “kamu pikir apa yang menarik kalo kakek-kakek kriput yang dipamerin ha? kulitnya yang udah lentur?, giginya yang ompong? atau rambutnya yang ubanan semua?” kali ini aku bener tertawa kencang, ini adalah hiburanku, saat tiba-tiba aku mulai menyerah aku selalu ingat selain Fajar ada satu orang yang aku usahan agar tetap bahagia, ya Mamaku. Setelah mamaku tau apa yang terjadi pada kondisi rahimku ia selalu berhati-hati dalam bersikap, tidak banyak berkomentar tentang berapa usiaku dan harus apa yang aku lakukan diusiaku yang beranjak 28 tahun. Walaupun terkadang kalimat ledekannya muncul untuk memintaku cepat menikah tapi ia tidak pernah memaksa, ia berusaha mengerti ketakutanku, lagian siapa yang siap hidup bersamaku selamanya tanpa seorang anak kandung?.
“udah deh cepetan siap-siap, abis solat magrib kita langsung ke rumah sakit” perintah mamaku, “Engga bis.....” “mama udah izin ke mamanya Ardi buat libur les dulu, jadi jangan banyak alesan” potong mamaku, lalu bergegas keluar kamarku “dasar tukang ngatur”. Aku berusah bangkit dari tidurku, kembali duduk dan menatap jendela yang terbuka, menatap senja yang mulai terlihat jelas. Indah, senja akan selalu indah dari sudut manapun walau ternyata hanya sebentar lalu memilih pergi, tapi setidakanya senja tidak akan berkhianat, ia akan datang lagi esok harinya, dan aku percaya itu bahwa.... dia akan kembali di putaran waktu yang berbeda “I miss you, I miss you so much” ucapku lirih berbicara oleh senja yang mulai hilang.
***********
“Kamu tunggu sini mama urus administrasinya dulu terus ambil antrian buat cek darah” perintah mamaku yang tidak dapat aku bantah, yang hanya ku jawab dengan decikan dan anggukan “ribet” kataku kesel. Aku memutuskan untuk duduk di ruang tunggu sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Tiga bangku dari tempat yang kududuki ada sepasang suami istri yang sedang menggendong anak perempunnya yang sepertinya sedang demam, anak itu tertawa lucu ketika sang ayah memberikan candaannya, yang justru membuatku ikut tersenyum dan mengelus perutku “apa aku masih punya harapan?” batinku berkata, setiap wanita pasti ingin berkeluarga dan memiliki anak yang lahir dari rahimnya dan sayangnya aku harus mengubur dalam-dalam keingananku. Saking asiknya aku dengan pikiranku, sampai tidak menyadari 20 menit berlalu dan mamaku belumnya kembali. Aku bergegas menelponnya, panggilan kedua kali belum juga diangkat, lalu ku putuskan untuk mencarinya.
Saat di tengah pejalanan tiba-tiba “bundaa” prak! itu bunyi handphoneku yang jatuh, disebabkan oleh seorang gadis kecil yang tanpa alesan apapun tiba-tiba memelukku, dan apa tadi katanya “bunda?” kataku bingung dengan memperhatikan anak tersebut yang mendadak melepaskan pelukkannya lalu terlihat panik saat mengambil handphoneku yang terjatuh dengan keadaan mati.
“Maafin aku bundaa” katanya ketakutan dengan suara lirih seperti ingin menangis sambil menyerahkan handphoneku. Aku hanya terdiam bingung mengamatinya, anak kecil itu pun mendongakkan kepalanya sambil menatap mataku yang justru membuatku terpanah dengan mata bulatnya yang indah dan sepertinya sebentar lagi akan mengeluarkan air mata, “huaaa, bunda jangan marah” dan benar saja dia menangis sedih sambil menggenggam handphoneku erat, aku masih bingung dengan keadaan ini, lalu tangisan anak itu semakin kencang dengan terus mengatakan maaf “loh, loh ko jadi nangis kejer” aku mulai menyadari, dan mencoba mencari cara untuk menenangkannya.
Aku jongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya, mencoba bersikap tenang dengan memberinya senyum tulus, lalu tanganku beralih mengusap kepalanya lembut, akhirnya dia mengecilkan suara tangisnya dan menatapku dengan wajah bersalahnya “adik kecil, namanya siapa?” tanyaku menenangkan, yang justru membuatnya wajah kagetnya muncul lalu tangisannya pun berhenti “Shakilah kan bunda?” jawabnya seperti menanyakan kembali kepadaku, ku bales dengan senyuman dan anggukan “oke shakilah, lain kali harus hati-hati ya” nasihatku pelan dengan tetap memberikannya senyum, lalu dia menyerahkan handphone ku “maaf ya bunda” kuambil handphone itu yang memang sepertinya harus diperbaiki “bunda marah?” tanyanya kembali yang kujawab dengan gelengan “engga ko, aku juga kurang hati-hati, kamu engga papakan?” tanyaku merapikan rambutnya yang halus, yang di balesnya dengan cengiran lucu dan gelengan kepala lalu dia tertawa girang “perasaan tadi nangis” batinku dan justru membuatku ikut tertawa kecil melihat tingkahnya “aku seneng bisa ketemu bunda” katanya malu-malu, eh aku baru sadar dari tadi dia memanggilku bunda, apa katanya tadi, kenapa dia harus senang itu?.
            “Shakilah” panggilan seseorang dibelakangku membuat tubuhku kaku.


***********

Rabu, 13 Maret 2019

Kala Senja


Senja selalu menunjukan sisi indahnya, warna jingga yang menyejukan mata selalu membuat orang-orang terpanah saat menikmatinya. Ya, aku penikmat senja yang hanya mampu menikamati di blakon kamarku dengan segelas teh manis hangat sebagai pelengkapnya. “Kosong” batinku berkata, kali ini akan benar merasa bahwa ada yang kurang saat menikmati senja yang indah ini.
“Engga bosen apa sendirian mulu?” aku lupa bahwa aku tidak benar-benar sendiri, selalu ada satu laki-laki tak kasat mata yang menemaniku di saat mulai rapuh dan mengadu pada langit jingga kala sepi. Aku menatap wajah tampan yang selalu terlihat pucat, dan tersenyum tulus kepadanya. “Gue baru sadar, ko lu ganteng ya” candaku yang buat matanya melotot berusaha menakutiku, yang malah membuat aku tertawa.
“Kalau lu manusia udah gue bawa lu ke rumah terus gue kenalin ke nyokap, pasti kita langsung dinikahin saat itu juga”  aku terawa mengejek dan membuat ia tertawa juga “untung gue bukan manusia ya” dia balas tertawa senang yang justru membuat ku sebal “segitu engga maunya apa lu” kataku cemberut, tawa besar dan sedikit menyeramkan keluar dari bibirnya yang pucat, sambil meraih pipiku dan mencubitnya dia tersenyum tulus “engga usah lucu-lucu deh, nanti gue makin susah ninggalin elunya” perkatanya membuat senyumku benar-benar luntur, dia beralih mengusap kedua pipiku dan memberi senyum yang selalu aku benci, senyum penyerahan. Lalu mengalihkan tangannya untuk menggenggam kedua tanganku.
“satu tahun ya Kil, kalo orang pacaran kita bisa ngerayain anniversary” katanya dengan tawa kecil yang justru membuatku makin menunduk menyembunyikan mata sembabku. “saat gue pikir gue menyerah oleh takdir dan menerima kondisi gue yang harus siap jadi arwah yang kosong untuk menetap di bumi sementara dan menunggu waktu yang tepat untuk dipanggil, lu datang nawarin bantuan supaya gue bisa balik hidup lagi, yang sampe sekarang gue selalu inget kata-kata lu yang kaya gini ‘emang lu engga kepengen apa, nikah terus punya anak yang lucu-lucu, bangun keluarga bahagia sesuai harapan lu,  saat lu bangun nanti lu engga bener-bener sendiri ko, inget nama gue KILAH pake H loh ya, dan gue bakal bantu wujudin harapan lu’” disambar tertawanya yang justru makin membuatku semakin nyeri “tau engga Kil, gue pikir saat itu lu yang siap gue nikahin tapi lu malah bilang ‘bukan sama gue loh ya bangun bahtera keluarganya, nanti gue cariin yang lebih cantik dan baik dibanding mantan lu yang pea dan tukang selingkuh itu, biar dia nyesel ternyata dia ninggalin mantannya yang kaya raya dan mayan capek si, demi sebegundal misquen itu’ sumpah ya Kil gue selalu inget tampang kesel tablo lu kalo lagi ngomel yang justru buat gue selalu ketawa” katanya benar-bener tertawa kali ini, yang justru buatku kesal dan aku hanya mampu menjawab dengan mencubit tangannya yang aku rasa dia tidak akan pernah merasakan sakit.
Dia menggenggam tanganku lebih erat, tangannya selalu dingin tapi entah mengapa selalu membuatku hangat dan tenang, tangan yang selalu siap menggenggamku saat aku pada posisi tak punya harapan, tangan itu tangan yang beku dan justru selalu membuat aku merasa bahwa aku bermakna dan aku masih punya harapan sepertinya untuk bahagia bersama-sama di masa yang akan datang, tapi..... lagi takdir tidak mengizinkanku agar tangan ini bisa menggenggam lebih lama dan kenyataannya aku akan kehilangannya sebentar lagi. Tangisku tanpa suara terus mengalir dan tak kunjung berhenti. Laki-laki yang hanya dapat dilihat olehku hanya diam dan tidak berusaha menghentikan tangisku. Ya, dia selalu melakukan itu memberiku waktu untuk mencurahkan sesak yang keluar bersama air mata, dia akan selalu diam sampai tangisku reda dan sampai aku bertanya ‘gue manusia kuatkan?’ lalu laki-laki itu akan memberiku senyum penguatan diwajahnya yang pucat. Tapi kali ini berbeda, seberusaha apapun aku untuk menghentikan tangisku nyatanya semakin berusaha untuk ku hentikan semakin membuatku ingin menangis terus menerus.
Tangannya beralih mengangkat wajahku, aku menutup mataku tidak berani menatap wajahnya yang puncat dan selalu terlihat kaku “kalo lu nutup mata gini, gue ngerasa jadi hantu beneran yang nyeremin banget” aku tetap mempertahankan mataku agar tetap tertutup, aku benar-benar takut melihat wajahnya bukan karena takut nyatanya dia seorang hantu tapi karena wajahnya pucat kakunya yang selalu membuatku tidak mampu untuk ditinggalkannya. “Gue...., gue engga mau lu pergi, gu....” mungkin kali ini dia kalah, dia mengusap lembut pipiku yang berair dan kedua mataku yang tertutup “kalo ngomong itu langsung natap orangnya, gimana si lukan guru masa masih perlu di ajarin aja” aku menggeleng kuat “lu engga boleh pergi” pintaku dengan tangis kejar dengan menggenggam kedua tangannya yang masih berada dipipiku.
“buka matanya ya please” suara permohonnya membuatku membuka mata dan natap matanya, yang justru membuatku ingin menangis keras “Kilah, bisa jelasin ke gue, kenapa setiap kali gue denger suara tangisan lu gue selalu ngerasa nyeri disini?” dia membawa tanganku ke dadanya “padahal gue bukan makhluk bernyawa, tapi kalo sama lu gue selalu ngerasa hidup, setiap kali lu nangis gue selalu diam bukan karena memberi waktu lu untuk tenang, tapi justru memberi waktu gue untuk tenang supaya rasa sakit gue disini berhenti Kil. Kenapa rasanya nyeri si disini” kali ini tangisku bersuara, apa dia tidak tau aku juga bingung kenapa rasanya sesakit ini.
“Saat gue ketemu lu, gue ingin kembali hidup karena apa yang lu bilang bener “gue berhak untuk bahagia dan mengwujudkan harapan gue” tapi semakin kesini gue mulai sadar, gue pengen hidup lebih lama karena gue pengen wujudin harapan lu, karena kebahagian lu adalah wujud harapan gue yang harus gue gapai Kil. Karena lu gue akhirnya percaya kalo harapan seperti langit yang mungkin terlihat kosong tapi sebenarnya terisi, gue pengen mengisi kebahagian itu dengan lu tetap ada disamping gue, ngeliat lu bahagia bahkan gue terlalu berlebihan kalo gue pengen nikahin lu dan bangun rumah tangga seperti khalayan babu lu yang sering gue ledekin“ sekilas senyum di wajahnya tapi tidak mampu membuat tangisku berhenti, dengan dia disampingku hidup berumah tangga yang dulu aku takutkan dan tidak ada dalam list diharapanku akhirnya membuatku merasa ingin, ingin dia mengisi itu.
“Walaupun gue engga bakal pernah ngasih lu anak?” tanyaku sekian kali sambil menangis yang selalu dia jawab dengan senyum tenangnya “Harapan gue adalah hidup dengan lu, liat lu bahagia itu lebih dari cukup Kil” lalu aku menariknya, memeluknya seperti hal ini nyata dan menangis sekaras-kerasnya di dekapannya, dia mengusap kepalaku lembut dan berkata “semua bakal baik-baik aja, ada gue disini” kalimat itu, kaliamat yang selalu aku ucapkan kepadanya saat dia kehilangan harapannya untuk hidup kembali. Akhirnya kalimat itu berbalik kepadaku. Apa aku bisa tetap hidup bahagia kalau dia tidak ada? “lu bakal tetap bahagia Kil, lu berusaha keras kejar untuk wujudin harapan gue, dan kali ini izinin gue untuk berusaha mengwujudkan harapan gue dengan ngeliat lu akan baik-baik aja dan bahagia kedepannya, bisa?” aku menggeleng, dia meminta aku bahagia pada sudut pandang yang mana? Tidak ada dia apa aku bisa dikatakan baik-baik saja dan hidup bahagia seperti listku hidup bersamanya?
“Engga ada yang bisa wujudin itu selain lu jar, siapa yang mau nerima cewek cacat kaya gue” dia menariku dari pelukannya menatap tajam mataku seolah perkataanku barusan menyakitinya. “lu masih tetep bego ternyata, cuma elu yang berpikir dengan lu engga bisa punya anak lu engga berhak buat bahagia” katanya dengan nada kesal “lu selalu menutup diri dan ngerasa engga pantes untuk siapa pun, justru dengan sikap lu kaya gitu lu nyiksa diri lu sendiri. Kilah dengerin gue!” perintahnya sambil menyetuh pipiku dan menatap mataku lekat “Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangankan?, itukan yang lu bilang ke gue, engga ada manusia yang akan hidup sendirian selamanya, Allah engga sejahat itu. Kita udah berusah semampu kita wujudin harapan kita sama-sama, tapi jika ini bukan yang terbaik Allah punya rencana sendiri untuk memberikan jalan yang baik. Lu akan jadi ibu yang terbaik untuk anak lu terlepas itu anak kandung atau bukan, dan.....” kata-katanya berhenti dengan wajah pucatnya yang terus menatap wajahku menerka-nerka seperti apa dia sanggup mengatakan ini.
“dan... Allah akan mempertemukan lu dengan laki-laki yang tepat, yang menganggap dengan bersama lu walau tanpa anak kandung itu udah lebih dari cukup” kata-katanya membuat aku benar-bener merasa sakit bahwa aku harus siap kehilangan dia “dan kalau itu terjadi, lu inget kata-kata gue! Lu udah berhasil buat gue bahagia atas kebahagian lu, maafin gue” dia menarikku kepelukannya, sambil terus berkata maaf yang justru membuatku menangis dan terus menangis.
Kala itu di akhir senja kita saling memeluk memberi kekuatan dengan aku yang terus menangis dan dia.... Fajar Nugroho yang akan selalu ku ingat namanya dan ucapan kata maafnya pulahan kali dia katakan sebagai wujud perpisahan, sampai senja pergi tanpa meninggalkan jejak.
                                                                           *******