Senin, 03 Juni 2019

Gagal Bersembunyi IV (Belum Berakhir)


Ginanjar biasa dipanggil Anjar, pemuda cerdas yang mampu memporak-porandakan kehidupan seorang Ara. Kalau kalian pikir kita punya kisah seperti Dilan dan Milea, kalian salah, kita tidak punya kisah cinta yang bersemi dikala remaja hanya cerita dua manusia yang saling menyembunyikan apa yang kita rasakan agar tidak menghancurkan keduanya di masa depan. Baiklah ternyata aku salah pemuda itu berhasil membuatku hancur sampai sekarang. Pertemuan yang mungkin tidak pertama kali namun meninggalkan bekas yang selalu membuatku ingin kembali dan terus kembali di tahun itu. Pesta kembang api tahun baru, pertama kali kita berkomunikasi melalui tatap mata. Mata teduh itu yang diam-diamku lirik juga melirik kearahku membawaku menjadi gadis remaja penuh harapan, lalu kehidupan kisahku bersamanya terus berlanjut tanpa pernahku pikirkan hal ini berdampak baik atau buruknya untukku dan dia dikedapannya.

“Mama engga setujuh ya Ra kamu sama dia, kalo untuk berteman baik okelah tapi kalo lebih dari itu mama engga mau!”
“Tante engga pernah nyalahin perasaan Ara karena tante pernah ada di posisi itu, tapi semuanya akan sia-sia Ra kamu engga akan dapat tempat dikeluarganya”
“Ka kalian itu saudara, walau bukan saudara dekat tapi kisah kalian ini salah”

Ya, kalimat penolakan selalu aku dapatkan ketika bercerita, lalu apa kalian pikir aku menyerah? Tidak! Aku Ara si keras kepala yang ketika aku memilih dia orangnya walau silih berganti yang dekat tetap tidak akan berubah perasaanku kepadanya. Dan.... inilah akhirnya, kita sering berkomunikasi, sampailah pada saat kita melalukan pertemuan. Aku pikir pertemuan ini awal baru untuk memperjuangkan satu sama lain, tapi....

“Jadi, yang Ka Ara bilang itu benar?” ku balas dengan tertawa dan bingung memikirkan kalimat apa yang tepat agar aku tidak merasakan sakit ketika aku dengar jawaban yang tidak seperti yang kuharapkan.
“Iyaa, tapi aku sadar ko kita saudaraan, jadi benerkan kamu cuma anggap aku saudara?” ketika pertanyaan itu keluar dari bibirku maka harusnya aku bisa menerima kalo ini adalah akhir dari kisahku, tapi sayangnya ketika dia hanya menjawab dengan sebuah anggukan kaku yang kulihat dari belakang, aku seperti sebuah buah bom yang meledak tapi tidak mati melainkan kesakitan yang aku sendiri bingung bagaimana cari menyembuhkannya.

Sampai saat ini, walau aku telah melihat fotonya bersama yang “katanya” kekasihnya aku tetap seorang Ara yang selalu menjadikan Ginanjar rumah walau tak pernah diizinkan untuk masuk kedalamnya tapi dengan menyebut namanya aku selalu mempunyai harapan bahwa akhirnya kisahku akan bahagia bersama.

“Dan lu salah kalau mikir kaya gitu terus Ra, lu berhak bahagia dengan jalan yang Allah buat, bukan yang lu mau” Riri yang selalu mengingatkan aku bahwa semua orang berhak memperoleh kebahagiaan masing-masing atas kehendak Allah.
“coba Ra lu liat nyokap lu, dan inget berapa umur dia?, apa harapan dia?, bukan soal materi Ra tapi kebahagiaan lu itu penting buat dia” kalimat yang benar-benar membuatku bersalah, tapi aku bingung bagimana caranya untuk ikhlas.
“Ra... nyokap lu selalu khawatir dengan kondisi lu yang sekarang, sibuk dengan kerjaan lu dari pagi sampe malam, engga punya waktu libur yang lu lakuin kerja kerja dan kerja, tanpa lu pikirin gimana khawatirnya mama lu, karena yang ada dipikiran lu cuma lupain Anjar lupain Anjar tapi nyatanya lu engga bertindak apapun buat ngelupain dia lu cuma diam di tempat dan berputar-putar dengan kerjaan lu” kali ini aku tidak bisa membendung air mataku, aku bingung.... bingung bagaimana bertindak yang tepat karena kenapa rasanya seperti aku tidak ada harapan apapun.
“saat gue denger cerita nyokap lu, gue jadi inget mama gue Ra, saat gue ngasih tau Aldo ngelamar gue dia nangis terus bilang “tugas mama sebentar lagi selesai Ri, mama bisa tenang diusia mama sekarang” setiap orang tua bahagia bukan cuma soal materi tapi buat dia untuk anak perempuannya bisa mengeliat anaknya ada yang jaga kelak itu kebahagian sesungguhnya” Riri menarik dua tanganku lalu menggenggamnya memberi kekuatan di tengah tangisku.
“Gue sedih denger cerita nyokap lu Ra, lebih sedih lagi ngeliat lu sekarang, badan makin kecil, kelopak mata makin hitam, senyum palsu setiap hari, ini bukan Ara yang gue kenal beberapa tahun lalu, semanjak kejadian lu ketemu Anjar rasanya gue pengen marah sama Anjar, apa yang dia udah lakuin sampe buat lu jadi kaya manusia paling bodoh, tapi gue pikir lagi yang harusnya gue marahin itu bukan dia tapi lu, pikiran bodoh lu itu yang harusnya lu lawan. Anjar bukan udara Ra, tanpa dia lu harusnya masih bisa hidup selayaknya, engga kaya gini” penyataan Riri membuat aku malu pada diriku sendiri “gue salah, Ara salah ma”.
“Jadi, mulai sekarang ubah pola pikir lu, kebahagiaan itu bisa diliat dari sudut padang manapun Ra, Ikhlas walau sulit tapi setidaknya lu mau belajar tentang keikhlasan itu, paham anak badung?” yang bisa ku jawab dengan anggukan disela senyum tipisku.
“Anak pintar” katanya sambil mengusap-suap kepala ku selayaknya seekor kucing yang justru membuat ku tertawa sambil menyingkirkan tangannya “gue bukan kucing pea” “loh gue pikir lu anjing bukan kucing” jawabnya sambil tertawa senang yang justru membuatku ikut tertertawa.
“besok lu harus dateng dan ceritain ke gue gimana tuh cowok, kata nyokap lu dia polisi perwira ya? Wow maco maco gimana gitu” katanya dengan suara genit yang membuatku kembali menyumpal mulutnya dengan kentang yang masih tersisa “Berisik!” yang di balas dengan tertawanya
“tapi Ri, gue jadi takut lu taukan tabiat polisi itu kaya gimana, gue takut malah...”
“mulai lagikan berpikir buruk mulu, terus kalo lu anggep semua cowok bakal nyakitin lu, yang engga bakal nyakitin lu siapa? Anjar gitu? Pikiran lu harus di bersihin mulai sekarang pake beklin kalo perlu” jawabnya ketus “Ra denger ya, namanya orang tua pasti nyari yang terbaik buat anaknya, jadi coba deh lu berpikir positif mulai sekarang, jalanin dulu jangan setengah-setengah, kalo memang engga baik pasti Allah punya jalan sendiri buat nemuin yang terbaik dengan syarat lunya harus mulai belajar membuka diri dan berpikir positif’ subhanallah, aku memberikan tepuk tangan untuk manusia bijak satu ini.
“Sumpah Aldo pake jampi jampi apa, lu mau nikah jadi bijak gini” dan setelahnya aku dapat bonus gatakan lagi
“dikasih tau juga, pokoknya engga mau tau lu harus cerita besok kelanjutannya kaya gimana oke” katanya semangat, yang justru membuatku ikut tersenyum “hmm” jawabku singkat sambil tertawa melihat cengerinya di wajahnya.
“DOR” “astagfirullah” kenapa si pasangan edan ini hobi membuat aku jantungan ha? “lu tuh ya Do sama sarapnya noh kaya calon bini lu” yang di jawab dengan ketawa super ngakaknya dia melihat tampang habis nangisku yang kaya orang struk saking kagetnya “tuhkan samanya kalian, lagian ngapain di lu Do ke sini ganggu tau engga” kataku ngomel-ngomel setelah dia duduk di samping calon bininya itu.
“Monmaap suhu sudah malam, waktunya calon ibu untuk anak-anakku pulang dan istirahat” “PREEET, jijik tau engga si gue dengernya” balasku ketus yang justru membuat dua manusia sarap ini semakin tertawa.
“jangan iri gitu ah, nanti irinya pas dateng aja kenikahan kita, ya engga beb?” “yoi” dua pasangan di hadapan ku ini minta banget di racunin kayanya yaa, biarin aja mereka yang dosa mesra-mesraan di depan jomblo kaya gini. Akhirnya kami lanjutkan obralan mengenai konsep lamaran meraka yang justru membuatku benar-benar berasa senang sekaligus rasa iri muncul yang selalu berusaha ku alihkan. Waktu menjukan pukul 21.10, dan ini alarm menunjukan waktuku pulang. Kami sama-sama jalan ke parkiran, dan sebelum aku menuju tempat parkir motorku, Riri menarikku dan memelukku erat “Ra, engga tau si wangsit dari mana tapi gue yakin setelah ini lu bakal menemukan arti kebahagian sebenarnya dengan orang yang baru, jaga kesehatan yaa” katanya tulus dengan berusaha menguatkan yang membuatku tersenyum haru “lu juga jaga kesehatan gue tunggu undangan lamarannya ya”.
Ini belum akhir tapi ini adalah awal untuk aku lebih belajar lagi, Riri benar setiap orang punya happy endingnya masing-masing, jika jalan hidup kita sama seperti seseorang bukan berarti punya akhir yang sama, justru bisa saja akhirnya sangat berbeda seperti yang kita harapkan, tapi bukan berarti kita justru saling iri, melainkan kita berterima kasih dengan hal itu, karena kita akhirnya bisa sama-sama belajar dan memahami bahwa Allah selalu memberikan jalan terbaik untuk setiap umatnya jika kita pandai bersyukur.

********
Aku merapikan poni rambutku melalu kaca spion, mengecek kembali pakaianku yang sepertinya akan kena omel oleh mamaku, celana levin panjang, kaos putih yang kututup jaket levis gombrongku dan kets putih sebaik pelengkap, kalau menurutku penampilanku engga buruk-buruk amat engga tau deh kalo menurut mamaku. Getaran di dalam tas membuatku terahlikan Ibu Negara “ yaelah baru di pikirin udah muncul aja” kataku seorang diri lalu buru-buru mengangkat panggilannya.
“Assalamuaikum”
“waalaikumsalam, dimana?” weeets ngegas amaat diaa
“diparkiran ini mau jalan kesana” jawabku santai
“cepetan, lama banget mama kan engga enak ini”
“iya-iya” lalu tiba-tiba telpon terputus, kebiasaan emang ibu negara banyak maunya.
Aku berjalan menuju restoran yang lumayan ramai itu dan mencari keberadaan banginda ratu, sampai akhirnya aku melihat sosok yang aku kenali  disamping mamaku melambaikan tangan yang membuatku bingung lalu berjalan karahnya.
“Assalamuaikum, maaf ya Ara telat” kataku menyalami mamaku yang terlihat wajahnya sedikit kesal namun tertutupi, lalu berahli kesosok ibu yang aku kenali “loh Mama Wawa, ada disini juga toh” kataku sedikit bingung kenapa mamanya murid bimbelku bergabung satu meja dengan ku “ini Mama Wawa nganterin kakak, nah yang kakak Mama Wawa Ra, kenalin” lalu aku berahli memberi salam pada ibu yang katanya kakaknya Mama Wawa, ibu itu membalas  dengan senyum ramah dan mengelus kepalaku lembut “ini yang namanya Ara?” tanyanya ramah kepadaku “iya tante, saya Ara” jawabku dengan senyum lebar yang membuat ikut tersenyum “panggil aja Mama Santi” “iya Mama Santi” lalu ku bergegas duduk disamping mamaku berhadapan dengan Mama Santi yang masih tetap tersenyum memandang kearahku.
“Ara engga seperti umur 25 tahun ya Rik, gemas kaya anak SMA, Raka emang engga salah pilih” jelasnya yang hanyaku jawab dengan senyuman dan tawa oleh mamaku.
“Hai cik gu” sapa seseorang yang membuat aku menengok kebelakang dan menemukan anak laki-laki remaja yang dulu sering sekali aku omeli “Wawa yaampuun” kataku kegirangan lalu dia menyalamiku dan tersenyum lebar, aku berdiri mengacak-acak ramputnya seperti dulu saat aku gemas dia tidak menuruti perintahku “mulai kan” kata sedikit kesal yang membuatku tertawa.
“Ma liat deh Wawa udah segede gini, gimana Mama Wawa anak ini masih susah di bilangin engga?” tanyaku antusis sambil mengalungkan tanganku ke lengannya yang membuat ibu-ibu disekiatku tertawa “biasalah ka kalo engga batu ya bukan Wawa” jawab Mama Wawa yang membuatku melotot kearah anaknya, lalu aku memukul pelan lengannya “Sikap batunya harus dikurangan ah, kasihan mama kamu” nasihatku yang membuatnya tersenyum lalu memberi hormat “siap cik gu” katanya lantang yang membuat kami semua tertawa.
“udah ah lepas jangan digandeng mulu nanti aku kena omel sama komandan disebelah ini” katanya sambil melepaskan gandenganku dan menarik seseorang dari belakangnya. Aku baru menyadari ternyata ada seorang lagi yang sejak tadi bersama kami.
“Nih bang yang gue bilang, bawel tapi...” lanjutnya membisikan sesuatu ditelinganya yang akhirnya membuat semuanya tersenyum dan laki-laki itu ikut tersenyum menatapku. Wawa lalu menepuk bahu laki-laki itu dan berjalan menuju tempat duduknya. Aku sendiri sedang berdiri bingung harus berkata apa, dengan kondisi semuanya menatapku tersenyum.
“Hai Ara ya?” kata laki-laki di hadapanku dengan suara canggung yang kubalas dengan senyuman dan anggukkan kaku. Lalu dia mengulurkan tangannya.
“Aku Raka” kutatap uluran tangannya lalu berahli ke wajahnya yang tetap tersenyum kearahku, dan seketika mata kami bertemu yang justru membuat tubuhku menjadi kaku saat melihatnya sampai akhirnya.... “Ra bengong lagi, itu si Raka ngajak kenalan juga” kata mamaku mengagetkanku yang langsung membuatku menunduk menatap uluran tangannya dan membalasnya.
“Aku Ara” kataku mengangkat kepala dan menatapnya kembali dengan ulas senyum dibibirku, lalu kami saling tersenyum. Senyuman perkenalan kami yang aku sendiri tidak mengerti makna apa yang tersirat, yang ku tahui bahwa setelah ini aku akan belajar memulai kehidupan baru dengan seseorang yang telah di takdirkan oleh Sang Penguasa, dan aku belajar berserah diri dan menerima bahwa jika ini yang ditakdirkan maka segala sesuatu akan terjadi, pada jam ini... hari ini.... dan nanti diwaktu yang telah di tentukannya. Dan...... kisah baru ini telah di mulai.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar