Ginanjar biasa
dipanggil Anjar, pemuda cerdas yang mampu memporak-porandakan kehidupan seorang
Ara. Kalau kalian pikir kita punya kisah seperti Dilan dan Milea, kalian salah,
kita tidak punya kisah cinta yang bersemi dikala remaja hanya cerita dua
manusia yang saling menyembunyikan apa yang kita rasakan agar tidak
menghancurkan keduanya di masa depan. Baiklah ternyata aku salah pemuda itu
berhasil membuatku hancur sampai sekarang. Pertemuan yang mungkin tidak pertama
kali namun meninggalkan bekas yang selalu membuatku ingin kembali dan terus
kembali di tahun itu. Pesta kembang api tahun baru, pertama kali kita
berkomunikasi melalui tatap mata. Mata teduh itu yang diam-diamku lirik juga
melirik kearahku membawaku menjadi gadis remaja penuh harapan, lalu kehidupan kisahku bersamanya terus berlanjut tanpa pernahku pikirkan hal ini berdampak
baik atau buruknya untukku dan dia dikedapannya.
“Mama engga setujuh ya Ra kamu sama dia, kalo untuk
berteman baik okelah tapi kalo lebih dari itu mama engga mau!”
“Tante engga pernah nyalahin perasaan Ara karena tante
pernah ada di posisi itu, tapi semuanya akan sia-sia Ra kamu engga akan dapat
tempat dikeluarganya”
“Ka kalian itu saudara, walau bukan saudara dekat tapi
kisah kalian ini salah”
Ya, kalimat
penolakan selalu aku dapatkan ketika bercerita, lalu apa kalian pikir aku
menyerah? Tidak! Aku Ara si keras kepala yang ketika aku memilih dia orangnya
walau silih berganti yang dekat tetap tidak akan berubah perasaanku kepadanya.
Dan.... inilah akhirnya, kita sering berkomunikasi, sampailah pada saat kita
melalukan pertemuan. Aku pikir pertemuan ini awal baru untuk memperjuangkan
satu sama lain, tapi....
“Jadi, yang Ka Ara bilang itu benar?” ku balas dengan tertawa dan bingung memikirkan kalimat
apa yang tepat agar aku tidak merasakan sakit ketika aku dengar jawaban yang
tidak seperti yang kuharapkan.
“Iyaa, tapi aku sadar ko kita saudaraan, jadi benerkan
kamu cuma anggap aku saudara?” ketika
pertanyaan itu keluar dari bibirku maka harusnya aku bisa menerima kalo ini
adalah akhir dari kisahku, tapi sayangnya ketika dia hanya menjawab dengan
sebuah anggukan kaku yang kulihat dari belakang, aku seperti sebuah buah bom
yang meledak tapi tidak mati melainkan kesakitan yang aku sendiri bingung
bagaimana cari menyembuhkannya.
Sampai saat ini,
walau aku telah melihat fotonya bersama yang “katanya” kekasihnya aku tetap
seorang Ara yang selalu menjadikan Ginanjar rumah walau tak pernah diizinkan
untuk masuk kedalamnya tapi dengan menyebut namanya aku selalu mempunyai
harapan bahwa akhirnya kisahku akan bahagia bersama.
“Dan lu salah
kalau mikir kaya gitu terus Ra, lu berhak bahagia dengan jalan yang Allah buat, bukan yang lu mau” Riri yang selalu mengingatkan aku bahwa semua orang berhak
memperoleh kebahagiaan masing-masing atas kehendak Allah.
“coba Ra lu liat
nyokap lu, dan inget berapa umur dia?, apa harapan dia?, bukan soal materi Ra
tapi kebahagiaan lu itu penting buat dia” kalimat yang benar-benar membuatku
bersalah, tapi aku bingung bagimana caranya untuk ikhlas.
“Ra... nyokap lu
selalu khawatir dengan kondisi lu yang sekarang, sibuk dengan kerjaan lu dari
pagi sampe malam, engga punya waktu libur yang lu lakuin kerja kerja dan kerja,
tanpa lu pikirin gimana khawatirnya mama lu, karena yang ada dipikiran lu cuma lupain
Anjar lupain Anjar tapi nyatanya lu engga bertindak apapun buat ngelupain dia
lu cuma diam di tempat dan berputar-putar dengan kerjaan lu” kali ini aku tidak
bisa membendung air mataku, aku bingung.... bingung bagaimana bertindak yang
tepat karena kenapa rasanya seperti aku tidak ada harapan apapun.
“saat gue denger
cerita nyokap lu, gue jadi inget mama gue Ra, saat gue ngasih tau Aldo ngelamar
gue dia nangis terus bilang “tugas mama
sebentar lagi selesai Ri, mama bisa tenang diusia mama sekarang” setiap
orang tua bahagia bukan cuma soal materi tapi buat dia untuk anak perempuannya
bisa mengeliat anaknya ada yang jaga kelak itu kebahagian sesungguhnya” Riri
menarik dua tanganku lalu menggenggamnya memberi kekuatan di tengah tangisku.
“Gue sedih
denger cerita nyokap lu Ra, lebih sedih lagi ngeliat lu sekarang, badan makin
kecil, kelopak mata makin hitam, senyum palsu setiap hari, ini bukan Ara yang
gue kenal beberapa tahun lalu, semanjak kejadian lu ketemu Anjar rasanya gue
pengen marah sama Anjar, apa yang dia udah lakuin sampe buat lu jadi kaya
manusia paling bodoh, tapi gue pikir lagi yang harusnya gue marahin itu bukan
dia tapi lu, pikiran bodoh lu itu yang harusnya lu lawan. Anjar bukan udara Ra,
tanpa dia lu harusnya masih bisa hidup selayaknya, engga kaya gini” penyataan
Riri membuat aku malu pada diriku sendiri “gue salah, Ara salah ma”.
“Jadi, mulai
sekarang ubah pola pikir lu, kebahagiaan itu bisa diliat dari sudut padang
manapun Ra, Ikhlas walau sulit tapi setidaknya lu mau belajar tentang
keikhlasan itu, paham anak badung?” yang bisa ku jawab dengan anggukan disela
senyum tipisku.
“Anak pintar”
katanya sambil mengusap-suap kepala ku selayaknya seekor kucing yang justru
membuat ku tertawa sambil menyingkirkan tangannya “gue bukan kucing pea” “loh
gue pikir lu anjing bukan kucing” jawabnya sambil tertawa senang yang justru
membuatku ikut tertertawa.
“besok lu harus
dateng dan ceritain ke gue gimana tuh cowok, kata nyokap lu dia polisi perwira
ya? Wow maco maco gimana gitu” katanya dengan suara genit yang membuatku kembali
menyumpal mulutnya dengan kentang yang masih tersisa “Berisik!” yang di balas
dengan tertawanya
“tapi Ri, gue
jadi takut lu taukan tabiat polisi itu kaya gimana, gue takut malah...”
“mulai lagikan
berpikir buruk mulu, terus kalo lu anggep semua cowok bakal nyakitin lu, yang
engga bakal nyakitin lu siapa? Anjar gitu? Pikiran lu harus di bersihin mulai sekarang
pake beklin kalo perlu” jawabnya ketus “Ra denger ya, namanya orang tua pasti
nyari yang terbaik buat anaknya, jadi coba deh lu berpikir positif mulai
sekarang, jalanin dulu jangan setengah-setengah, kalo memang engga baik pasti
Allah punya jalan sendiri buat nemuin yang terbaik dengan syarat lunya harus
mulai belajar membuka diri dan berpikir positif’ subhanallah, aku memberikan
tepuk tangan untuk manusia bijak satu ini.
“Sumpah Aldo
pake jampi jampi apa, lu mau nikah jadi bijak gini” dan setelahnya aku dapat bonus
gatakan lagi
“dikasih tau
juga, pokoknya engga mau tau lu harus cerita besok kelanjutannya kaya gimana oke”
katanya semangat, yang justru membuatku ikut tersenyum “hmm” jawabku singkat
sambil tertawa melihat cengerinya di wajahnya.
“DOR” “astagfirullah”
kenapa si pasangan edan ini hobi membuat aku jantungan ha? “lu tuh ya Do sama
sarapnya noh kaya calon bini lu” yang di jawab dengan ketawa super ngakaknya
dia melihat tampang habis nangisku yang kaya orang struk saking kagetnya “tuhkan
samanya kalian, lagian ngapain di lu Do ke sini ganggu tau engga” kataku
ngomel-ngomel setelah dia duduk di samping calon bininya itu.
“Monmaap suhu
sudah malam, waktunya calon ibu untuk anak-anakku pulang dan istirahat” “PREEET,
jijik tau engga si gue dengernya” balasku ketus yang justru membuat dua manusia
sarap ini semakin tertawa.
“jangan iri gitu
ah, nanti irinya pas dateng aja kenikahan kita, ya engga beb?” “yoi” dua
pasangan di hadapan ku ini minta banget di racunin kayanya yaa, biarin aja
mereka yang dosa mesra-mesraan di depan jomblo kaya gini. Akhirnya kami
lanjutkan obralan mengenai konsep lamaran meraka yang justru membuatku
benar-benar berasa senang sekaligus rasa iri muncul yang selalu berusaha ku
alihkan. Waktu menjukan pukul 21.10, dan ini alarm menunjukan waktuku pulang. Kami
sama-sama jalan ke parkiran, dan sebelum aku menuju tempat parkir motorku, Riri
menarikku dan memelukku erat “Ra, engga tau si wangsit dari mana tapi gue yakin
setelah ini lu bakal menemukan arti kebahagian sebenarnya dengan orang yang
baru, jaga kesehatan yaa” katanya tulus dengan berusaha menguatkan yang
membuatku tersenyum haru “lu juga jaga kesehatan gue tunggu undangan lamarannya
ya”.
Ini belum akhir tapi ini adalah awal untuk aku lebih belajar lagi, Riri
benar setiap orang punya happy endingnya masing-masing, jika jalan hidup kita
sama seperti seseorang bukan berarti punya akhir yang sama, justru bisa saja
akhirnya sangat berbeda seperti yang kita harapkan, tapi bukan berarti kita
justru saling iri, melainkan kita berterima kasih dengan hal itu, karena kita akhirnya
bisa sama-sama belajar dan memahami bahwa Allah selalu memberikan jalan terbaik
untuk setiap umatnya jika kita pandai bersyukur.
********
Aku merapikan
poni rambutku melalu kaca spion, mengecek kembali pakaianku yang sepertinya
akan kena omel oleh mamaku, celana levin panjang, kaos putih yang kututup
jaket levis gombrongku dan kets putih sebaik pelengkap, kalau menurutku
penampilanku engga buruk-buruk amat engga tau deh kalo menurut mamaku. Getaran di dalam tas membuatku terahlikan Ibu
Negara “ yaelah baru di pikirin udah muncul aja” kataku seorang diri lalu
buru-buru mengangkat panggilannya.
“Assalamuaikum”
“waalaikumsalam,
dimana?” weeets ngegas amaat diaa
“diparkiran ini
mau jalan kesana” jawabku santai
“cepetan, lama
banget mama kan engga enak ini”
“iya-iya” lalu
tiba-tiba telpon terputus, kebiasaan emang ibu negara banyak maunya.
Aku berjalan
menuju restoran yang lumayan ramai itu dan mencari keberadaan banginda ratu,
sampai akhirnya aku melihat sosok yang aku kenali disamping mamaku melambaikan tangan yang membuatku
bingung lalu berjalan karahnya.
“Assalamuaikum,
maaf ya Ara telat” kataku menyalami mamaku yang terlihat wajahnya
sedikit kesal namun tertutupi, lalu berahli kesosok ibu yang aku kenali “loh
Mama Wawa, ada disini juga toh” kataku sedikit bingung kenapa mamanya murid
bimbelku bergabung satu meja dengan ku “ini Mama Wawa nganterin kakak, nah yang
kakak Mama Wawa Ra, kenalin” lalu aku berahli memberi salam pada ibu yang
katanya kakaknya Mama Wawa, ibu itu membalas
dengan senyum ramah dan mengelus kepalaku lembut “ini yang namanya Ara?”
tanyanya ramah kepadaku “iya tante, saya Ara” jawabku dengan senyum lebar yang
membuat ikut tersenyum “panggil aja Mama Santi” “iya Mama Santi” lalu ku bergegas
duduk disamping mamaku berhadapan dengan Mama Santi yang masih tetap tersenyum
memandang kearahku.
“Ara engga
seperti umur 25 tahun ya Rik, gemas kaya anak SMA, Raka emang engga salah pilih”
jelasnya yang hanyaku jawab dengan senyuman dan tawa oleh mamaku.
“Hai cik gu”
sapa seseorang yang membuat aku menengok kebelakang dan menemukan anak
laki-laki remaja yang dulu sering sekali aku omeli “Wawa yaampuun” kataku
kegirangan lalu dia menyalamiku dan tersenyum lebar, aku berdiri mengacak-acak
ramputnya seperti dulu saat aku gemas dia tidak menuruti perintahku “mulai kan”
kata sedikit kesal yang membuatku tertawa.
“Ma liat deh
Wawa udah segede gini, gimana Mama Wawa anak ini masih susah di bilangin engga?”
tanyaku antusis sambil mengalungkan tanganku ke lengannya yang membuat ibu-ibu
disekiatku tertawa “biasalah ka kalo engga batu ya bukan Wawa” jawab Mama Wawa
yang membuatku melotot kearah anaknya, lalu aku memukul pelan lengannya “Sikap
batunya harus dikurangan ah, kasihan mama kamu” nasihatku yang membuatnya
tersenyum lalu memberi hormat “siap cik gu” katanya lantang yang membuat kami
semua tertawa.
“udah ah lepas
jangan digandeng mulu nanti aku kena omel sama komandan disebelah ini” katanya
sambil melepaskan gandenganku dan menarik seseorang dari belakangnya. Aku baru
menyadari ternyata ada seorang lagi yang sejak tadi bersama kami.
“Nih bang yang
gue bilang, bawel tapi...” lanjutnya membisikan sesuatu ditelinganya yang
akhirnya membuat semuanya tersenyum dan laki-laki itu ikut tersenyum menatapku.
Wawa lalu menepuk bahu laki-laki itu dan berjalan menuju tempat duduknya. Aku
sendiri sedang berdiri bingung harus berkata apa, dengan kondisi semuanya menatapku
tersenyum.
“Hai Ara ya?”
kata laki-laki di hadapanku dengan suara canggung yang kubalas dengan senyuman
dan anggukkan kaku. Lalu dia mengulurkan tangannya.
“Aku Raka” kutatap
uluran tangannya lalu berahli ke wajahnya yang tetap tersenyum kearahku, dan
seketika mata kami bertemu yang justru membuat tubuhku menjadi kaku saat
melihatnya sampai akhirnya.... “Ra bengong lagi, itu si Raka ngajak kenalan
juga” kata mamaku mengagetkanku yang langsung membuatku menunduk menatap uluran
tangannya dan membalasnya.
“Aku Ara” kataku
mengangkat kepala dan menatapnya kembali dengan ulas senyum dibibirku, lalu
kami saling tersenyum. Senyuman perkenalan kami yang aku sendiri tidak mengerti
makna apa yang tersirat, yang ku tahui bahwa setelah ini aku akan belajar
memulai kehidupan baru dengan seseorang yang telah di takdirkan oleh Sang Penguasa,
dan aku belajar berserah diri dan menerima bahwa jika ini yang ditakdirkan maka
segala sesuatu akan terjadi, pada jam ini... hari ini.... dan nanti diwaktu
yang telah di tentukannya. Dan...... kisah baru ini telah di mulai.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar