Kamis, 10 Mei 2018

Manfaat Dongeng


Jadi......, cerita kali ini bakal beda banget seperti cerita sebelumnya. Ditulisan kali ini aku bakal coba untuk jadi orang tua. Lah bukannya emang udah jadi orang tua ya? Iya si..... di sekolah, aku punya 17 anak yang unik, mereka punya tingkah dan sifat yang pasti berbeda yang pasti akan asik banget kalau diceritakan. Tapi kali ini aku bakal skip dulu cerita tentang mereka, di lain waktu aku bakal ceritain gimana serunya ngajar 17 anak yang buat suasana jadi lebih beda. Baiklah tulisan kali ini mulai dari hobi aku di masa kecil dan mungkin sampai sekarang si, aku suka DONGENG. Percaya atau engga sampai sekarang aku masih sering berkhayal kalo ibu peri itu ada, dan menganggap bahwa semua hewan dan tumbuhan bisa ngomong ketika semua manusia telah terlelap tidur. Krik kan? Hahaha sudah ku duga aku bukan orang yang asik untuk diajak lelucon.
Saat aku ingin mencoba menjadi orang tua lebih tepatnya si sok tua ya hahaha. Back to topic, “Dongeng” siapa si yang waktu kecil engga suka cerita dongeng, semua pasti suka cerita penuh harapan dan mimpi, cerita yang buat kita paham bahwa apapun tindakan kita didunia pasti memiliki balasan yang setimpal sepeti Cerita Kura-Kura dan Kancil, Semut dan Burung Elang, Gajah dan Semut, Cinderella, Thumbelina, dan cerita dongeng lainnya. Dari kecil aku si anak aneh ini hobi banget denger dan baca cerita dongeng. Mulai dari nenekku yang engga pernah absen setiap malam bacain cerita dongeng yang wow nya adalah karangan dia sendiri dan bermanfaat, karena dongeng berhasil membuat aku suka mikir saat bertindak, walau mama waktu itu sibuk kerja, tapi saat libur mama juga memanfaatkan waktu dengan menemani tidur siang dan malam membacakan aku dongeng dari buku bobo. Dan tumbuhlah aku seperti sekatang ini. Jadi kali ini akukan beri tahu manfaat dari dongeng berdasarkan pengalamanku. Berikut manfaat cerita dongeng yang kuketahui:
1.  Membangun emosional anak, dengan dibacakan atau membaca cerita dongeng anak belajar mengekspresikan perasaanya, misalnya mereka akan merasa sedih kalau alur cerita tersebut terdapat tokoh penuh kemalangan, meraka akan marah akan kalau alur cerita tersebut terdapat tokoh yang jahat dan tidak baik, mereka akan merasa senang kalau alur cerita tersebut terdapat tokoh yang membantu, dan eksperesi lainnya. Yang pada akhirnya membuat anak mengetahui bagaimana harus bersikap menghadapi alur kehidupan nyatanya.
2.    Mengembangkan imajinasi anak. Aku punya dua adik sepupu namanya Raisa dan Dafa, mereka berumur 4 dan 3 tahun. Diusia mereka sekarang aku mulai menjejeli mereka dengan cerita dongeng, walau kebanyakan suka engga dianggep mereka kerena mungkin teknik cerita ku kurang menarik kali ya hehehe, tapi aku engga pernah bosan buat terus berusaha agar mereka menyukai cerita dongeng, dan sekarang kalo mereka main kekamarku mereka akan cari “Buku dongengnya mana, ceritain aku dongeng” dan saat aku bercerita mereka mulai diam, diakhir cerita mereka bilang “mama giginya cabut aja biar ada ibu peri dateng” Nah hal tersebut membuat anak mulai berimajinasi, dan selanjutnya mereka akan mulai membuat cerita imajinasi mereka sendiri, lalu apa yang aku lakukan? Aku hanya tersenyum dan terus bertanya, sampai akhir cerita aku memberi nasihat yang terdapat dari cerita mereka. Jadi, izinkanlah mereka untuk mengembangkan imajinasinya, dengan hal tersebut maka akan lahir kreativitas dalam diri anak.
3.    Membangun tauladan yang baik. Memberikan cerita dongeng, aku lakukan bukan hanya dirumah tapi juga di sekolah. Aku suka menceritakan kepada 17 anakku cerita dongeng dadakan ditengah pembelajaran. Saat aku sudah mulai bilang “Ibu mau cerita” mereka langsung semangat dan bilang “cerita bu.... cerita” dan mendadak ruangan sunyi tanpa suara, reaksi anakku benar luar biasa membuat aku kagum. Aku mulai bercerita, sambil memperhatika wajah mereka, anak-anakku benar kaya akan eksperesi, meraka akan menunjukan raut wajah tidak suka jika tokohnya jahat, dan ada yang menunjuk salah satu nama teman mereka ketika tokoh dalam cerita mirip dengan salah satu anak di kelas, banyak eksperesi yang tergambar jelas, hingga diakhir cerita aku beri pesan tentang taulada baik dalam cerita yang ku berikan. Lalu mendadak kelas penuh dengan pendapat, ada yang memberi tahu temannya dan menasehati jangan sperti itu nanti akan begini, ada yang bilang itu aku banget, dan banyak lainnya. Ketika ada anak yang tiba-tiba melakukan tindakan buruk ada salah satu temannya yang bilang “biarin aja nanti kaya yang diceritain Bu Ririn loh”, hal itu membuat aku tersenyum senang, jadi dari cerita dongeng mereka mengetahui sikap yang baik untuk dilakukan dan sikap yang tidak baik untuk dilakukan, walalu belum smua anak bisa memahami makna cerita tapi anak beberapa anak yang mengerti dan memberitahu yang lainnya.
4. Mengembangkan kemampuan berbahasa. Dari pengalaman yang aku punya, adik sepupuku bernama Raisa, dia suka cerita dongeng. Saat aku bacakan cerita, Raisa mulai memanfaatkan kata-kata baru dalam cerita, hal tersebut akhirnya membuat Raisa menerapkan dengan mulai banyak mengunakan kata baku, misalahnya “Disuatu hari, tidak seharusnya, tidak baik” dan banyak kata lainnya. Hal tersebut dipahami bahwa cerita dongeng bermanfaat sebagai menambahan kata atau bahasa untuk anak. Aku pernah membaca sebuah artikel Presiden pertama Indonesia Soekarno, waktu kecil sering dibacakan cerita dongeng oleh sang ibu, dan apa yang terjadi kedepannya Bapak Soekarno membuat semua orang diam dan kagum saat berbicara karena kepandaiannya dalam berbahasa. Wow, dongeng sangat berpengaruh  dalam berbahasakan?
Banyak manfaat lainnya, yang kalo aku tulis pasti seperti menulis skripsi. Bicara skripsi aku sedikit menyesal, banyak temanku yang mengira bahwa aku akan mengambil pembahasan tentang dongeng, kenapa aku tidak mengembangkan dongeng? Karena saat itu aku tidak menajdi diriku sendiri. Tapi sudahlah, setidaknya kali ini aku sedikit berbagai manfaat dari sesuatu yang aku sukai. Untuk orang tua yang mungkin baca blogku ini, jadi mulailah luangkan waktu untuk berbagai cerita dongeng dengan anak dan hal tersebut juga akan membangun kedekatan orang tua dan anak. Dari dongeng anak akan mulai merasa semakin deket dan lebih terbuka dengan orang tuanya, suasana mendongeng yang dibuat sedemikan baik membuat anak akan lebih mudah menyerap apa yang diceritakan. So tidak ada salahnyakan untuk meluangkan waktu berbagi cerita kepada anak kalian.
Kalau habis baca ceritaku, kalian bilang “sok tau nih”. Aku jelaskan memang aku bukan ahli dongeng dan aku belum memiliki anak yang keluar dari rahimku, aku hanya gadis usia 23 tahun yang dianggap sok tau, but aku engga bermaksud untuk sok tau aku hanya ingin berbagi dari pengalaman yang aku peroleh dan mudah-mudahan bermanfaat untuk kalian. Jadi tidak ada salahnya mulai untuk memanfaatkan waktu dengan mendongeng bersama anak. Teori memang lebih gambang dari praktek tapi tidak ada salahnya untuk mencoba dan terus berusaha, wahai para orang tua seperti kutipan Albert Einstein “if you want your children to be intelligent, read them fairy tales”, jadi selamat mencoba.

Sabtu, 05 Mei 2018

Gagal Bersembunyi II


Ditemani segelas Hot Chocolate dan French Fries sebagai mengganjal perut, aku menikmati dalam diam. Menatap kaca yang dihiasi oleh bekas rintikan air hujan yang sejak siang mengguyur kota Jakarta, dan sepertinya hujan mulai lelah dan akhirnya berhenti ketika azan maghrib berkumandang. 18:36 setalah sholat magrib di musolah terdekat aku memutuskan untuk menunggu kedatangan manusia yang katanya kepengen gibah, dosa engga si dengerin orang gibah?, ya dosalah, tapi biarin dosannya dia ini yang nangung, aku cukup nenanggapi dengan senyum paling manis alias bodoh dan kalo ada celah ya ikut gibah bersama, astagfirullah emang bener makin banyak dosa aja bergaul sama manusia itu, tapi ya mau gimana lagi kasian dia suka engga ada temennya gitu hahaha canda. Sambil menyirup hot chocolate yang mulai mendingin aku asik dengan pikiranku. Tiba-tiba perbincangan  yang menguras emosi sore tadi muncul dalam ingatan.
*****
“Ma, Ara masih 25 tahun!” Aku tetap kekeh pada pendirianku.
“Iya, tahun besok kamu 26, tahun besoknya lagi kamu 27, terus aja gitu sampe akhirnya kamu lupa umur” Jawab mama mulai sewot “Lagian apa salahnya si cuma kenalan aja Ra, mama engga minta kamu langsung kawin ditempat”
“Astgafirullah, nikah ma nikah” kataku mulai frutasi “iya maksud mama itu, pokok mama engga mau tau besok harus dateng!” perintahnya.
“Ara besok nga..” “kamu selesai ngajar jam 4 kan? Selesai langsung nyusul kesana” potongnya tepat sasaran “Ma....” kataku sedikit merengek, memohon kepada mamaku agar mengerti bahwa aku tidak menyetujui rencana gilanya. Tapi yang dilakukan mamaku malah menghela nafas, lalu pergi dari hadapanku. Kamu tau hal yang paling menyebalkan dari perempuan berusia seperempat abad? Saat orang tua kamu yang masih menerapkan prinsip orang dulu, dimana perempuan usia 25 tahun harusnya sudah menikah minimal sudah ada pasangan untuk di ajak kejenjang pernikahan, tapi kamu masih memutuskan untuk sendiri dan belum terpikir untuk punya pasangan, nah jika kamu mengalami hal tersebut berarti nasib kita sama, iya sama! Sama pusingnya saat ini pasti. Sekarang yang bisa kulakukan hanya menghela nafas pasrah, lagian berasa hidup di jaman Siti Nurbaya, namaku kan Tiara bukan Sit..... eh undangan siapa nih batinku.
“Tuh undangan buat kamu” kata mamaku dengan nada super jutek.
 “Ooh” jawabku singkat lalu ku lihat cover depannya tertulis nama “Dion & Lia”, aku coba mengingat ingat nama mereka, tapi tunggu! Dion. Kubuka undangan tersebut, dan benar. Dion Tara Budiman.
“Mantan kamu tuh ngundang” kujawab hanya dengan anggukan dan melihat dimana tempat acaranya dilangsungkan, tapi syukurlah resepsinya di Jakarta, kalau acaranya ditempat Dion si alamat engga bisa dateng, jauh cuuuy.
“kenapa nyesek yaa?” tanya mamaku mengejek, ku balas dengan tertawa. “Biasa aja, kenapa harus nyesek” dengan santai aku menjawab, sedikit informasi Dion itu mantan terakhirku, kalau kalian menanyakan hal yang sama seperti mamaku, nyesek atau tidak? Jawabnya ya memang tidak justu aku malah senang, karena mantan pacar alias temanku alias yang sudah ku anggap abangku akhirnya bertemu jodohnya.
“Ya Allah Ra, ini Dion loh mantan kamu yang ganteng itu, mau nikah Ra NIKAH!” lah ini kenapa jadi mamaku yang sewot “ya biarian aja dia nikah, bagus malah udah ketemu jodohnya itu” balasku santai, lagian kenapa si senewon banget, aku yang mantannya aja santai aja.
“Ra bener-bener deh kamu tuh bebelnya udah kelewatan” mamaku mulai terlihat frustasi, lagian salah apa si gue yaelah perkara undangan doang “kamu tuh engga malu apa di balap sama mantan? Mantanmu tuh udah pada mau nikah semua Ara, dan kamu gini gini aja?, ampun deh mama pusing ngadepin kamu” sambil mengalihkan padangannya keluar jendela mamaku berusaha merendam emosinya, dan aku malah dibuat bingung. Mamaku tuh aneh kalo mantan-mantan pacarku sudah punya calon kenapa aku yang harus malu?, malu karena aku belum punya calon gitu? Yaelah postif aja berarti calon jodohnya mereka emang udah ketemu, ya kalau aku si santai aja, jodoh engga lari kemana cuuuy.
“udalah ma santai aja, Ara yang jadi mantan pacar mereka aja woles aja, justru doain mereka supaya langgeng sampe akhir hayat, aseeek” aku terkekeh geli dengan perkataan ku sendiri “iya santai, sampai akhirnya mantan kamu yang dokter itu nyebar undangan duluan” tiba-tiba ku terdiam, mama nih kalo ngomong suka ngejleb, tapi sempet buatku berpikir kalo memang dia nikah duluan yaudah mau gimana lagi “oh, oh, oh mama tau, apa kamu bakal tetep sesantai ini kalo Anjar ngajak ketemu kamu terus tiba-tiba ngasih undangan nikahnya?” aku benar-bener dibuat membeku, sambil menunduk aku menatap undanagn milik Dion dengan tangan yang mendadak gemetar aku memeras undangan tersebut. Mendadak aku tidak dapat berkata apapun, tidak dapat berpikir dengan tenang, rasanya sakit! Ya sakit membayangkan jika hal tersebut benar terjadi.
“Ra, kamu tau kosekuensi seseorang memutuskan untuk tetap tinggal di masa lalu? Dia harus siap hancur sendirian karena dimakan oleh waktu” aku menggeleng kepala batinku berteriak.
“Alasan kamu memutuskan untuk tetap sendiri bukan karena kamu engga ada yang mau atau jodohmu belum menjemput, tapi kerena jiwa kamu masih asik untuk tinggal dibelakang Ra, dan kamu engga berusah untuk menyadari bahwa khayalan kamu cuma khayalan kosong” tangan lembut milik mamaku menyentuh genggaman kuat kedua tangganku.
“Udah cukup mama diam aja liat kamu asik sama dunia kamu itu Ra, kali ini mama yang bakal paksa kamu untuk pergi dari tempat itu, pokoknya besok sore kamu harus dateng, mama engga mau denger alesan apapun lagi!” sambil tersenyum lembut mamaku mengusap sayang kepalaku. “Anak mama cantik, kamu bisa dapat yang mengerti kamu kalo kamu mau belajar membuka diri, berhenti beranggapan kalo yang bisa mengerti kamu cuma laki-laki itu aja” setelah nasehat panjangnya, mamaku beranjak pergi. Aku masih duduk diam mengatur emosi, sambil menatap undangan dipangkuanku, aku tersenyum miris, “mama salah, mama salah kali ini, cuma laki-laki itu yang engga pernah membuat aku menangis kesakitan atas perilakunya, cuma laki-laki itu yang paham mengatasi sikapku tanpa harus membuat aku sakit, dia pergi, laki-laki itu memutuskan pergi karena mengerti takdir dan sayangnya takdir yang tidak pernah berusah mengerti aku” ku lempar undangan tersebut “justru mereka, mereka yang membuat aku sakit, tanpa mereka sadari”
****