Ditemani segelas
Hot Chocolate dan French Fries sebagai mengganjal perut, aku menikmati dalam
diam. Menatap kaca yang dihiasi oleh bekas rintikan air hujan yang sejak siang
mengguyur kota Jakarta, dan sepertinya hujan mulai lelah dan akhirnya berhenti
ketika azan maghrib berkumandang. 18:36 setalah sholat magrib di musolah
terdekat aku memutuskan untuk menunggu kedatangan manusia yang katanya kepengen
gibah, dosa engga si dengerin orang gibah?, ya dosalah, tapi biarin dosannya
dia ini yang nangung, aku cukup nenanggapi dengan senyum paling manis alias
bodoh dan kalo ada celah ya ikut gibah bersama, astagfirullah emang bener makin
banyak dosa aja bergaul sama manusia itu, tapi ya mau gimana lagi kasian dia
suka engga ada temennya gitu hahaha canda. Sambil menyirup hot chocolate yang
mulai mendingin aku asik dengan pikiranku. Tiba-tiba perbincangan yang menguras emosi sore tadi muncul dalam
ingatan.
*****
“Ma, Ara masih
25 tahun!” Aku tetap kekeh pada pendirianku.
“Iya, tahun
besok kamu 26, tahun besoknya lagi kamu 27, terus aja gitu sampe akhirnya kamu
lupa umur” Jawab mama mulai sewot “Lagian apa salahnya si cuma kenalan aja Ra,
mama engga minta kamu langsung kawin ditempat”
“Astgafirullah,
nikah ma nikah” kataku mulai frutasi “iya maksud mama itu, pokok mama engga mau
tau besok harus dateng!” perintahnya.
“Ara besok
nga..” “kamu selesai ngajar jam 4 kan? Selesai langsung nyusul kesana”
potongnya tepat sasaran “Ma....” kataku sedikit merengek, memohon kepada mamaku
agar mengerti bahwa aku tidak menyetujui rencana gilanya. Tapi yang dilakukan
mamaku malah menghela nafas, lalu pergi dari hadapanku. Kamu tau hal yang
paling menyebalkan dari perempuan berusia seperempat abad? Saat orang tua kamu
yang masih menerapkan prinsip orang dulu, dimana perempuan usia 25 tahun harusnya
sudah menikah minimal sudah ada pasangan untuk di ajak kejenjang pernikahan,
tapi kamu masih memutuskan untuk sendiri dan belum terpikir untuk punya
pasangan, nah jika kamu mengalami hal tersebut berarti nasib kita sama, iya
sama! Sama pusingnya saat ini pasti. Sekarang yang bisa kulakukan hanya menghela
nafas pasrah, lagian berasa hidup di jaman Siti Nurbaya, namaku kan Tiara bukan
Sit..... eh undangan siapa nih batinku.
“Tuh undangan
buat kamu” kata mamaku dengan nada super jutek.
“Ooh” jawabku singkat lalu ku lihat cover
depannya tertulis nama “Dion & Lia”, aku coba mengingat ingat nama mereka,
tapi tunggu! Dion. Kubuka undangan tersebut, dan benar. Dion Tara Budiman.
“Mantan kamu tuh
ngundang” kujawab hanya dengan anggukan dan melihat dimana tempat acaranya
dilangsungkan, tapi syukurlah resepsinya di Jakarta, kalau acaranya ditempat
Dion si alamat engga bisa dateng, jauh cuuuy.
“kenapa nyesek
yaa?” tanya mamaku mengejek, ku balas dengan tertawa. “Biasa aja, kenapa harus
nyesek” dengan santai aku menjawab, sedikit informasi Dion itu mantan terakhirku,
kalau kalian menanyakan hal yang sama seperti mamaku, nyesek atau tidak?
Jawabnya ya memang tidak justu aku malah senang, karena mantan pacar alias
temanku alias yang sudah ku anggap abangku akhirnya bertemu jodohnya.
“Ya Allah Ra,
ini Dion loh mantan kamu yang ganteng itu, mau nikah Ra NIKAH!” lah ini kenapa
jadi mamaku yang sewot “ya biarian aja dia nikah, bagus malah udah ketemu
jodohnya itu” balasku santai, lagian kenapa si senewon banget, aku yang
mantannya aja santai aja.
“Ra bener-bener
deh kamu tuh bebelnya udah kelewatan” mamaku mulai terlihat frustasi, lagian
salah apa si gue yaelah perkara undangan doang “kamu tuh engga malu apa di
balap sama mantan? Mantanmu tuh udah pada mau nikah semua Ara, dan kamu gini
gini aja?, ampun deh mama pusing ngadepin kamu” sambil mengalihkan padangannya
keluar jendela mamaku berusaha merendam emosinya, dan aku malah dibuat bingung.
Mamaku tuh aneh kalo mantan-mantan pacarku sudah punya calon kenapa aku yang
harus malu?, malu karena aku belum punya calon gitu? Yaelah postif aja berarti
calon jodohnya mereka emang udah ketemu, ya kalau aku si santai aja, jodoh
engga lari kemana cuuuy.
“udalah ma
santai aja, Ara yang jadi mantan pacar mereka aja woles aja, justru doain
mereka supaya langgeng sampe akhir hayat, aseeek” aku terkekeh geli dengan
perkataan ku sendiri “iya santai, sampai akhirnya mantan kamu yang dokter itu
nyebar undangan duluan” tiba-tiba ku terdiam, mama nih kalo ngomong suka
ngejleb, tapi sempet buatku berpikir kalo memang dia nikah duluan yaudah mau
gimana lagi “oh, oh, oh mama tau, apa kamu bakal tetep sesantai ini kalo Anjar
ngajak ketemu kamu terus tiba-tiba ngasih undangan nikahnya?” aku benar-bener
dibuat membeku, sambil menunduk aku menatap undanagn milik Dion dengan tangan
yang mendadak gemetar aku memeras undangan tersebut. Mendadak aku tidak dapat
berkata apapun, tidak dapat berpikir dengan tenang, rasanya sakit! Ya sakit
membayangkan jika hal tersebut benar terjadi.
“Ra, kamu tau
kosekuensi seseorang memutuskan untuk tetap tinggal di masa lalu? Dia harus
siap hancur sendirian karena dimakan oleh waktu” aku menggeleng kepala batinku
berteriak.
“Alasan kamu
memutuskan untuk tetap sendiri bukan karena kamu engga ada yang mau atau jodohmu
belum menjemput, tapi kerena jiwa kamu masih asik untuk tinggal dibelakang Ra,
dan kamu engga berusah untuk menyadari bahwa khayalan kamu cuma khayalan
kosong” tangan lembut milik mamaku menyentuh genggaman kuat kedua tangganku.
“Udah cukup mama
diam aja liat kamu asik sama dunia kamu itu Ra, kali ini mama yang bakal paksa
kamu untuk pergi dari tempat itu, pokoknya besok sore kamu harus dateng, mama
engga mau denger alesan apapun lagi!” sambil tersenyum lembut mamaku mengusap
sayang kepalaku. “Anak mama cantik, kamu bisa dapat yang mengerti kamu kalo
kamu mau belajar membuka diri, berhenti beranggapan kalo yang bisa mengerti
kamu cuma laki-laki itu aja” setelah nasehat panjangnya, mamaku beranjak
pergi. Aku masih duduk diam mengatur emosi, sambil menatap undangan
dipangkuanku, aku tersenyum miris, “mama salah, mama salah kali ini, cuma
laki-laki itu yang engga pernah membuat aku menangis kesakitan atas perilakunya,
cuma laki-laki itu yang paham mengatasi sikapku tanpa harus membuat aku sakit,
dia pergi, laki-laki itu memutuskan pergi karena mengerti takdir dan sayangnya
takdir yang tidak pernah berusah mengerti aku” ku lempar undangan tersebut
“justru mereka, mereka yang membuat aku sakit, tanpa mereka sadari”
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar