Selasa, 06 November 2018

"Kita Tidak Butuh Sekolah, apalagi Kurikulum" BENARKAH?



Menggenai isi artikel yang saya baca, salah satunya pendapat yang Ia kemukakan yaitu KTSP secara konsep jauh lebih baik dari kurikulum 2013, saya berbeda pendapat atas apa yang dikemukan pada artikel tersebut tersebut bahwasalnya sebenarnya Kurikulum 2013 jauh lebih baik untuk diterapkan di banding dengan KTSP, karena Kurikulum 2013 yang saya ketahui menerapkan berbagai macam aspek yaitu aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan, yang sebenarnya sangat di butuhkan oleh siswa untuk membangun revolusi mental yang sekarang ini telah gembor di bicarakan sedangkan KTSP yang saya ketahui hanya menggembangkan aspek pengetahuan saja dan kurang penerapan dalam sikap dan keterampilannya hingga pada KTSP proses pembelajarnya lebih dominan guru yang berperan aktif dan siswa kadang cenderung jauh lebih pasif, berbeda dengan Kurikulum 2013 yang  pembelajarannya mengarah pada student center yaitu berpusat pada siswa jadi siswa jauh lebih aktif dan tugas guru yaitu sebagai pengarah dalam proses pembelajarannya.
Ada pula hal yang bener yang ditulis di artikel tersebut bahwa permasalahnya jatuh pada tata pendidikan dimana kurikulum menjadi bahan utak-atik yang tidak jelas arahnya, wacana ganti mentri maka ganti kurikulum dan itulah yang menambahakan permasalahan baru lagi dalam pendidikan, belum tuntas memperbaiki kurikulum sebelumnya sudah ganti lagi kurikulum selanjutnya dan itulah yang akhirnya menimbukan permasalahan baru lagi, sepertihalnya KTSP yang memang sebenarnya sudah harus diperbaiki dan diganti menjadi Kurikulum 2013 yang menurut saya kurikulum tersebut baik untuk di terapkan, tapi ketidakmampuan atau ketidaksiapan guru dalam penerapannya yang akhirnya banyak keluhan dari segala pihak manapun mengenai Kurikulum 2013 yang akhirnya dianggap Kurikulum 2013 tidak cukup baik di terapkan. Kalau saja tersedianya guru yang memang berkompeten dan mampu mengatasi perubahan kurikulum tersebut maka tidak akan adanya kicauan atau keluhan dari pihak manapun karena guru mampu mengatasi perubahan tersebut yang mungkin terjadi seperti sekarang ini, ketidakjelasan dalam penggunaan kurikulum yang dikabarkan bahwa ternyata hanya di Indonesia saat ini menerapkan 2 kurikulum sekaligus, ya tidak jelas dan tidak mempunyai arah mau di bawa kemana pendidikan di Indonesia saat ini, Jadi yang sebenernya yang menjadi permasalahan bukan Kurikulum 2013 tapi tata pendidikan yang memang sudah bermasalah sejak dulu dan kesalahan yang fatal adalah  kurungnya guru yang berkompeten dalam proses pembelajaran di sekolah dan yang butuhkan adalah menyiapkan guru yang profesional atas pekerjaannya dan berkompeten dalam menjalankan tugas pengajarannya.
Pada artikel tersebut juga di katakana bahwa belajar adalah inti dari pendidikan, saya tidak setujuh atas pendapat tersebut, inti dari pendidikan bukan hanya belajar, tapi inti dari pendidikan adalah penselarasan antara belajar dan pembentukan karakter, karena jika kita mengangap bahwa pendidikan yang terpenting adalah belajar dan belajar, kita akhirnya tidak dapat membedakan mana belajar yang baik untuk terus diterapkan, mana belajar yang tidak baik untuk ditinggalkan, karena itulah inti pendidikan adalah belajar dan pembentukan karakter berjalan berdampingan memenuhi kekurang satu sama lain, sehingga dengan hal itulah maka terciptannya pendidikan yang mempunyai makna. Inilah akibatnya jika menggangap hanya belajar dijadikan sebagi inti pendidikan, yang akhirnya menguabah pola pikir manusia bahwa pendidikan hanya sebatas hasil belajar hanya untuk memperoleh sebuah ijazah, dan akhirnya kasus kejahatan pendidikan pun bermunculan ijazah palsu pun beredaran, dan itulah akibatnya tidak membentuk karekter si anak dalam proses belajar.
Pendidikan memang bisa dilakukan di mana saja dan dalam keadaan apapun, tapi saya tidak setujuh bahwa pendidikan tidak butuh sekolah. Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa di bawah pengawasan guru, dengan sekolah kita tidak bisa bertindak bebas sesuai apa yang kita ingin, untuk tercapainya sebuah tujuan kita juga butuh suatu arahan, pegawasan serta aturan yang baik dan itulah yang di dapatkan saat kita di sekolah. Tidak semua orang beruntung mendapatkan pendidikan di keluarga, ada beberapa orang yang memang menjadikan sekolah sebagai tempat untuk mereka memperoleh pendidikan yang mereka dambakan, sepertihalnya yang dikatakan bahwa dengan internet maka kita tidak butuh sekolah apalagi kurikulum, saya sangat bertentangan atas pendapat tersebut karena apa yang terdapat di Internet tidak sepenuhnya baik dan tidak sepenuhnya bener, kita juga butuh suatu pengarahan atau bimbingan untuk menentukan apa yang kita pelajari. Di internet itu ada baik dan buruknya, jika di lingkungan keluarga kita tidak mendapakna pengawasan atau pengarahan yang lebih tepat, maka lembanga yang bertanggung jawab adalah sekolah di sanalah tempat proses pengarahan dan mengawas terjadi, seperti yang saya katakan sejak awal, kita memperluakan guru yang profesional dan berkompeten dan inilah salah satu alasannya karena ada sebagian anak yang sangat membutuhkan peranan seorang guru sebagi seorang pembimbing, pengarah dan pengawasan yang hanya mereka dapatkan disekolah. Pembentukan karakter secara efektif bukan hanya di lakukan di luar lingkungan sekolah, pembentukan karakter seperti yang saya jelaskan. Bahwa belajar dan pembentukan karakter harus berjalan seiriangan dan proses tersebut juga bisa secara efektif dilakukan di lingkungan sekolah.
Kurikulum bukan meremehkan kecanggihan manusia beserta semua perangkat belajarnya yang telah diciptakan Tuhan sebagai ciptaan terbaik karena manusia bisa belajar dalam situasi apa pun, bahkan dalam situasi yang paling getir sekalipun. Belajar memang bisa dilakukan di manapun dan dalam situasi apapun tapi jika belajaran tanpa terstruktur dan  terencana maka proses belajar tersebut tidak mempunyai arah tujuan yang jelas bahkan proses belajar tersebut akan bertindak semaunya yang justru berakhir tidak mendapatkan apa yang diinginkan dan dibutuhkan, karena itu tugas kurikulumlah membuat proses belajar lebih memilih arah menuju tujuan yang ingin dicapai. Anggapan bahwa anak cerdas tidak butuh sekolah apalagi kurikulum menurut saya itu adalah anggapan yang tidak ingin seseorang jauh lebih maju. Anggaplah anak cerdas itu sebuah pisau, dia memang tajam tapi pisau lama-lama akan tumpul tanpa sebuah pengasahan maka pisau tersebut akan tumpul selamannya dan tidak berguna apapun. Nah itulah anak cerdas tanpa sekolah mereka akan mejadi anak yang biasa tanpa tantangan, tapi jika anak cerdas yang beranggapan bahwa ia butuh sekolah sebagi proses pengembangan jati dirinya yang dapat diarahkan, di bimbing dan di awasi maka anak cerdas tersebuat akan bernilai sangat luar biasa.
Jika anak cerdas juga butuh sekolah dan butuh kurikulum maka sama halnya dengan anak normal, anak normal bisa menjadi cerdas jika mereka diasah menjadi lebih baik maka anak normal tersebut akan menjadi anak cerdas bahkan luar biasa. Anak berkebutuhan khusus dan malas pada intinya memerlukan pembelajaran yang jauh lebih intensif dan inilah tugas guru untuk mengasah segala macam kemampuan yang di miliki anak.
Hanya orang yang tidak percaya diri yang membutuhkan sekolah, saya bertentangan sekali, presiden-presiden di Negara maju, mereka berlomba-lomba menempuh pendidikan di lembaga sekolah setingging mungkin, apakah presiden tersebut dikatakan bahawa mereka tidak percaya diri, jika mereka tidak percaya diri mengapa mereka terpilih menjadi presiden dan di biarkan untuk mengolah Negara? Jadi kitu butuh sekolah bukan karena kita tidak percaya diri, kita butuh sekolah untuk mengembangan kemampuan yang kita miliki, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan kita butuh sekolah karena kita butuh bantuan dan perbaikan pada diri kita sendiri. Intinya setiap anak butuh sekolah dan butuh kurikulum agar proses pembelajarannya terencana dan dapat mencapi tujuan yang mereka inginkan hanya saja yang kurung adalah guru yang berkompeten. Jika saja banyak guru yang profesional dan berkompeten, kurikulum sesederhanapun akan menjadi proses pembelajaran yang jauh lebih bermakna, jadi gurulah yang harus disediakan seprofesional mungkin dan berkompeten hingga sekolah menjadi tempat memperoleh pendidikan yang juga bermakna.

Kamis, 10 Mei 2018

Manfaat Dongeng


Jadi......, cerita kali ini bakal beda banget seperti cerita sebelumnya. Ditulisan kali ini aku bakal coba untuk jadi orang tua. Lah bukannya emang udah jadi orang tua ya? Iya si..... di sekolah, aku punya 17 anak yang unik, mereka punya tingkah dan sifat yang pasti berbeda yang pasti akan asik banget kalau diceritakan. Tapi kali ini aku bakal skip dulu cerita tentang mereka, di lain waktu aku bakal ceritain gimana serunya ngajar 17 anak yang buat suasana jadi lebih beda. Baiklah tulisan kali ini mulai dari hobi aku di masa kecil dan mungkin sampai sekarang si, aku suka DONGENG. Percaya atau engga sampai sekarang aku masih sering berkhayal kalo ibu peri itu ada, dan menganggap bahwa semua hewan dan tumbuhan bisa ngomong ketika semua manusia telah terlelap tidur. Krik kan? Hahaha sudah ku duga aku bukan orang yang asik untuk diajak lelucon.
Saat aku ingin mencoba menjadi orang tua lebih tepatnya si sok tua ya hahaha. Back to topic, “Dongeng” siapa si yang waktu kecil engga suka cerita dongeng, semua pasti suka cerita penuh harapan dan mimpi, cerita yang buat kita paham bahwa apapun tindakan kita didunia pasti memiliki balasan yang setimpal sepeti Cerita Kura-Kura dan Kancil, Semut dan Burung Elang, Gajah dan Semut, Cinderella, Thumbelina, dan cerita dongeng lainnya. Dari kecil aku si anak aneh ini hobi banget denger dan baca cerita dongeng. Mulai dari nenekku yang engga pernah absen setiap malam bacain cerita dongeng yang wow nya adalah karangan dia sendiri dan bermanfaat, karena dongeng berhasil membuat aku suka mikir saat bertindak, walau mama waktu itu sibuk kerja, tapi saat libur mama juga memanfaatkan waktu dengan menemani tidur siang dan malam membacakan aku dongeng dari buku bobo. Dan tumbuhlah aku seperti sekatang ini. Jadi kali ini akukan beri tahu manfaat dari dongeng berdasarkan pengalamanku. Berikut manfaat cerita dongeng yang kuketahui:
1.  Membangun emosional anak, dengan dibacakan atau membaca cerita dongeng anak belajar mengekspresikan perasaanya, misalnya mereka akan merasa sedih kalau alur cerita tersebut terdapat tokoh penuh kemalangan, meraka akan marah akan kalau alur cerita tersebut terdapat tokoh yang jahat dan tidak baik, mereka akan merasa senang kalau alur cerita tersebut terdapat tokoh yang membantu, dan eksperesi lainnya. Yang pada akhirnya membuat anak mengetahui bagaimana harus bersikap menghadapi alur kehidupan nyatanya.
2.    Mengembangkan imajinasi anak. Aku punya dua adik sepupu namanya Raisa dan Dafa, mereka berumur 4 dan 3 tahun. Diusia mereka sekarang aku mulai menjejeli mereka dengan cerita dongeng, walau kebanyakan suka engga dianggep mereka kerena mungkin teknik cerita ku kurang menarik kali ya hehehe, tapi aku engga pernah bosan buat terus berusaha agar mereka menyukai cerita dongeng, dan sekarang kalo mereka main kekamarku mereka akan cari “Buku dongengnya mana, ceritain aku dongeng” dan saat aku bercerita mereka mulai diam, diakhir cerita mereka bilang “mama giginya cabut aja biar ada ibu peri dateng” Nah hal tersebut membuat anak mulai berimajinasi, dan selanjutnya mereka akan mulai membuat cerita imajinasi mereka sendiri, lalu apa yang aku lakukan? Aku hanya tersenyum dan terus bertanya, sampai akhir cerita aku memberi nasihat yang terdapat dari cerita mereka. Jadi, izinkanlah mereka untuk mengembangkan imajinasinya, dengan hal tersebut maka akan lahir kreativitas dalam diri anak.
3.    Membangun tauladan yang baik. Memberikan cerita dongeng, aku lakukan bukan hanya dirumah tapi juga di sekolah. Aku suka menceritakan kepada 17 anakku cerita dongeng dadakan ditengah pembelajaran. Saat aku sudah mulai bilang “Ibu mau cerita” mereka langsung semangat dan bilang “cerita bu.... cerita” dan mendadak ruangan sunyi tanpa suara, reaksi anakku benar luar biasa membuat aku kagum. Aku mulai bercerita, sambil memperhatika wajah mereka, anak-anakku benar kaya akan eksperesi, meraka akan menunjukan raut wajah tidak suka jika tokohnya jahat, dan ada yang menunjuk salah satu nama teman mereka ketika tokoh dalam cerita mirip dengan salah satu anak di kelas, banyak eksperesi yang tergambar jelas, hingga diakhir cerita aku beri pesan tentang taulada baik dalam cerita yang ku berikan. Lalu mendadak kelas penuh dengan pendapat, ada yang memberi tahu temannya dan menasehati jangan sperti itu nanti akan begini, ada yang bilang itu aku banget, dan banyak lainnya. Ketika ada anak yang tiba-tiba melakukan tindakan buruk ada salah satu temannya yang bilang “biarin aja nanti kaya yang diceritain Bu Ririn loh”, hal itu membuat aku tersenyum senang, jadi dari cerita dongeng mereka mengetahui sikap yang baik untuk dilakukan dan sikap yang tidak baik untuk dilakukan, walalu belum smua anak bisa memahami makna cerita tapi anak beberapa anak yang mengerti dan memberitahu yang lainnya.
4. Mengembangkan kemampuan berbahasa. Dari pengalaman yang aku punya, adik sepupuku bernama Raisa, dia suka cerita dongeng. Saat aku bacakan cerita, Raisa mulai memanfaatkan kata-kata baru dalam cerita, hal tersebut akhirnya membuat Raisa menerapkan dengan mulai banyak mengunakan kata baku, misalahnya “Disuatu hari, tidak seharusnya, tidak baik” dan banyak kata lainnya. Hal tersebut dipahami bahwa cerita dongeng bermanfaat sebagai menambahan kata atau bahasa untuk anak. Aku pernah membaca sebuah artikel Presiden pertama Indonesia Soekarno, waktu kecil sering dibacakan cerita dongeng oleh sang ibu, dan apa yang terjadi kedepannya Bapak Soekarno membuat semua orang diam dan kagum saat berbicara karena kepandaiannya dalam berbahasa. Wow, dongeng sangat berpengaruh  dalam berbahasakan?
Banyak manfaat lainnya, yang kalo aku tulis pasti seperti menulis skripsi. Bicara skripsi aku sedikit menyesal, banyak temanku yang mengira bahwa aku akan mengambil pembahasan tentang dongeng, kenapa aku tidak mengembangkan dongeng? Karena saat itu aku tidak menajdi diriku sendiri. Tapi sudahlah, setidaknya kali ini aku sedikit berbagai manfaat dari sesuatu yang aku sukai. Untuk orang tua yang mungkin baca blogku ini, jadi mulailah luangkan waktu untuk berbagai cerita dongeng dengan anak dan hal tersebut juga akan membangun kedekatan orang tua dan anak. Dari dongeng anak akan mulai merasa semakin deket dan lebih terbuka dengan orang tuanya, suasana mendongeng yang dibuat sedemikan baik membuat anak akan lebih mudah menyerap apa yang diceritakan. So tidak ada salahnyakan untuk meluangkan waktu berbagi cerita kepada anak kalian.
Kalau habis baca ceritaku, kalian bilang “sok tau nih”. Aku jelaskan memang aku bukan ahli dongeng dan aku belum memiliki anak yang keluar dari rahimku, aku hanya gadis usia 23 tahun yang dianggap sok tau, but aku engga bermaksud untuk sok tau aku hanya ingin berbagi dari pengalaman yang aku peroleh dan mudah-mudahan bermanfaat untuk kalian. Jadi tidak ada salahnya mulai untuk memanfaatkan waktu dengan mendongeng bersama anak. Teori memang lebih gambang dari praktek tapi tidak ada salahnya untuk mencoba dan terus berusaha, wahai para orang tua seperti kutipan Albert Einstein “if you want your children to be intelligent, read them fairy tales”, jadi selamat mencoba.

Sabtu, 05 Mei 2018

Gagal Bersembunyi II


Ditemani segelas Hot Chocolate dan French Fries sebagai mengganjal perut, aku menikmati dalam diam. Menatap kaca yang dihiasi oleh bekas rintikan air hujan yang sejak siang mengguyur kota Jakarta, dan sepertinya hujan mulai lelah dan akhirnya berhenti ketika azan maghrib berkumandang. 18:36 setalah sholat magrib di musolah terdekat aku memutuskan untuk menunggu kedatangan manusia yang katanya kepengen gibah, dosa engga si dengerin orang gibah?, ya dosalah, tapi biarin dosannya dia ini yang nangung, aku cukup nenanggapi dengan senyum paling manis alias bodoh dan kalo ada celah ya ikut gibah bersama, astagfirullah emang bener makin banyak dosa aja bergaul sama manusia itu, tapi ya mau gimana lagi kasian dia suka engga ada temennya gitu hahaha canda. Sambil menyirup hot chocolate yang mulai mendingin aku asik dengan pikiranku. Tiba-tiba perbincangan  yang menguras emosi sore tadi muncul dalam ingatan.
*****
“Ma, Ara masih 25 tahun!” Aku tetap kekeh pada pendirianku.
“Iya, tahun besok kamu 26, tahun besoknya lagi kamu 27, terus aja gitu sampe akhirnya kamu lupa umur” Jawab mama mulai sewot “Lagian apa salahnya si cuma kenalan aja Ra, mama engga minta kamu langsung kawin ditempat”
“Astgafirullah, nikah ma nikah” kataku mulai frutasi “iya maksud mama itu, pokok mama engga mau tau besok harus dateng!” perintahnya.
“Ara besok nga..” “kamu selesai ngajar jam 4 kan? Selesai langsung nyusul kesana” potongnya tepat sasaran “Ma....” kataku sedikit merengek, memohon kepada mamaku agar mengerti bahwa aku tidak menyetujui rencana gilanya. Tapi yang dilakukan mamaku malah menghela nafas, lalu pergi dari hadapanku. Kamu tau hal yang paling menyebalkan dari perempuan berusia seperempat abad? Saat orang tua kamu yang masih menerapkan prinsip orang dulu, dimana perempuan usia 25 tahun harusnya sudah menikah minimal sudah ada pasangan untuk di ajak kejenjang pernikahan, tapi kamu masih memutuskan untuk sendiri dan belum terpikir untuk punya pasangan, nah jika kamu mengalami hal tersebut berarti nasib kita sama, iya sama! Sama pusingnya saat ini pasti. Sekarang yang bisa kulakukan hanya menghela nafas pasrah, lagian berasa hidup di jaman Siti Nurbaya, namaku kan Tiara bukan Sit..... eh undangan siapa nih batinku.
“Tuh undangan buat kamu” kata mamaku dengan nada super jutek.
 “Ooh” jawabku singkat lalu ku lihat cover depannya tertulis nama “Dion & Lia”, aku coba mengingat ingat nama mereka, tapi tunggu! Dion. Kubuka undangan tersebut, dan benar. Dion Tara Budiman.
“Mantan kamu tuh ngundang” kujawab hanya dengan anggukan dan melihat dimana tempat acaranya dilangsungkan, tapi syukurlah resepsinya di Jakarta, kalau acaranya ditempat Dion si alamat engga bisa dateng, jauh cuuuy.
“kenapa nyesek yaa?” tanya mamaku mengejek, ku balas dengan tertawa. “Biasa aja, kenapa harus nyesek” dengan santai aku menjawab, sedikit informasi Dion itu mantan terakhirku, kalau kalian menanyakan hal yang sama seperti mamaku, nyesek atau tidak? Jawabnya ya memang tidak justu aku malah senang, karena mantan pacar alias temanku alias yang sudah ku anggap abangku akhirnya bertemu jodohnya.
“Ya Allah Ra, ini Dion loh mantan kamu yang ganteng itu, mau nikah Ra NIKAH!” lah ini kenapa jadi mamaku yang sewot “ya biarian aja dia nikah, bagus malah udah ketemu jodohnya itu” balasku santai, lagian kenapa si senewon banget, aku yang mantannya aja santai aja.
“Ra bener-bener deh kamu tuh bebelnya udah kelewatan” mamaku mulai terlihat frustasi, lagian salah apa si gue yaelah perkara undangan doang “kamu tuh engga malu apa di balap sama mantan? Mantanmu tuh udah pada mau nikah semua Ara, dan kamu gini gini aja?, ampun deh mama pusing ngadepin kamu” sambil mengalihkan padangannya keluar jendela mamaku berusaha merendam emosinya, dan aku malah dibuat bingung. Mamaku tuh aneh kalo mantan-mantan pacarku sudah punya calon kenapa aku yang harus malu?, malu karena aku belum punya calon gitu? Yaelah postif aja berarti calon jodohnya mereka emang udah ketemu, ya kalau aku si santai aja, jodoh engga lari kemana cuuuy.
“udalah ma santai aja, Ara yang jadi mantan pacar mereka aja woles aja, justru doain mereka supaya langgeng sampe akhir hayat, aseeek” aku terkekeh geli dengan perkataan ku sendiri “iya santai, sampai akhirnya mantan kamu yang dokter itu nyebar undangan duluan” tiba-tiba ku terdiam, mama nih kalo ngomong suka ngejleb, tapi sempet buatku berpikir kalo memang dia nikah duluan yaudah mau gimana lagi “oh, oh, oh mama tau, apa kamu bakal tetep sesantai ini kalo Anjar ngajak ketemu kamu terus tiba-tiba ngasih undangan nikahnya?” aku benar-bener dibuat membeku, sambil menunduk aku menatap undanagn milik Dion dengan tangan yang mendadak gemetar aku memeras undangan tersebut. Mendadak aku tidak dapat berkata apapun, tidak dapat berpikir dengan tenang, rasanya sakit! Ya sakit membayangkan jika hal tersebut benar terjadi.
“Ra, kamu tau kosekuensi seseorang memutuskan untuk tetap tinggal di masa lalu? Dia harus siap hancur sendirian karena dimakan oleh waktu” aku menggeleng kepala batinku berteriak.
“Alasan kamu memutuskan untuk tetap sendiri bukan karena kamu engga ada yang mau atau jodohmu belum menjemput, tapi kerena jiwa kamu masih asik untuk tinggal dibelakang Ra, dan kamu engga berusah untuk menyadari bahwa khayalan kamu cuma khayalan kosong” tangan lembut milik mamaku menyentuh genggaman kuat kedua tangganku.
“Udah cukup mama diam aja liat kamu asik sama dunia kamu itu Ra, kali ini mama yang bakal paksa kamu untuk pergi dari tempat itu, pokoknya besok sore kamu harus dateng, mama engga mau denger alesan apapun lagi!” sambil tersenyum lembut mamaku mengusap sayang kepalaku. “Anak mama cantik, kamu bisa dapat yang mengerti kamu kalo kamu mau belajar membuka diri, berhenti beranggapan kalo yang bisa mengerti kamu cuma laki-laki itu aja” setelah nasehat panjangnya, mamaku beranjak pergi. Aku masih duduk diam mengatur emosi, sambil menatap undangan dipangkuanku, aku tersenyum miris, “mama salah, mama salah kali ini, cuma laki-laki itu yang engga pernah membuat aku menangis kesakitan atas perilakunya, cuma laki-laki itu yang paham mengatasi sikapku tanpa harus membuat aku sakit, dia pergi, laki-laki itu memutuskan pergi karena mengerti takdir dan sayangnya takdir yang tidak pernah berusah mengerti aku” ku lempar undangan tersebut “justru mereka, mereka yang membuat aku sakit, tanpa mereka sadari”
****

Sabtu, 17 Februari 2018

Gagal Bersembunyi



“Nanti coba Riri ngomong sama Aranya ya ntan” terdengar suara helaan napas pasrah diujung telpon. “Iya, makasih ya Ri, tante bingung mau minta bantuan ke siapa lagi, anak itu susah banget dibilangin, kamu bayangin aja jam segini belum pulang, cari duit si cari duit, tapi kalo di forsir kaya gini tante malah takut dia kenapa-napa” cerita si penelpon yang membuatku bingung harus menanggapi seperti apa.
Ara, cewek batu yang doyan banget buat emaknya khawatir, sarjana pendidikan yang sekarang sibuk ngumpulin pundi-pundi berlian katanya, ngajar di SD, lalu dilanjutkan ngajar private sampai malam dan gini hari jam 10 malam belum balik, hari libur yang waktunya istirahat dia malah pake buat kerja ngajar bimbel di rumahnya sampe sore. Dia bilang “waktu adalah emas Ri, jadi manfaatkanlah waktu lu biar nemu emas sebanyak-banyaknya” nemu emas si iya, tapi udahnya emasnya nanti kepake buat biaya rumah sakit, kan sayang!, emang rada rada itu orang. Tapi ya gimanalah, karena apa yang dilakukan sekarang ya pasti ada alasannya, orang males kaya Ara jadi rajin nyari duit ya karena....
“Tante tau sendiri kan, Ara kaya gini karena dia coba...”
“Iya tante tau, tapi engga gini juga caranya kan Ri” potongnya menjelaskan bahwa beliau paham tentang kondisi anaknya.
“Tante tuh suka takut Ri, takut dia asik sama dunianya, sibuk nyari duit buat nyenengin tante, sampe dia lupa kalo dia juga butuh orang lain Ri, bukan laki-laki itu doang, kamu paham kan apa yang tante maksud?” lanjutnya dengan suara sedihnya, membuatku merasa tidak enak.
“Iya Riri paham, Ara mungkin butuh waktu ntan, kadang apa yang kita pikirin mudah belum tentu mudah buat Ara ntan” jelasku, setidaknya kalo Ara keras kepala aku berusaha menjelaskan kepada Ibunya untuk tetap bersikap seperti air tenang tapi terarah.
“Tapi tante engga salah kan Ri, ngasih arahan Ara supaya dia tuh bisa liat kondisi lain, tante engga mau dia cuma stak di satu titik Ri” Iya semua Ibu pasti mau yang terbaik buat anaknya, tapi kadang anak punya cara sendiri untuk menolak karena alasan yang orang tua tidak paham, aku juga sebenernya tidak paham, tapi yang aku ketahui hati yang telah dipilih akan sulit untuk kembali ke tempat semula, kurasa itu yang dirasakan oleh Ara sekarang.
“Tante engga salah ko, Riri paham tante bertindak seperti itu untuk kebaikan Ara, tapi kalo boleh Riri berpendapat mungkin waktunya bukan sekarang ntan, Ara semakin dipaksa dia akan semakin brontak, apalagi masalahnya kaya gini, tante taulah maaf ya ntan manusia batu kaya dia kadang memang butuh waktu untuk berpikir, untuk move dengan cara berjalan sendirinya, Ara susah dikasih masukan sama orang lain ntan, ada masanya dia akan sadar ko ntan, ya mungkin dengan bersikap seperti sekarang dia lagi berusaha cari jalan keluar ntan, jadi engga ada cara lain selain tante harus sabar dan percaya sama dia, kalo memang udah waktunya Riri yakin tanpa tante suruh-suruh dia malah akan minta sendiri karena itu terbaik buat tante” jelasku panjang kali lebar yang dijawab dengan suara helaan kembali.
“Tante sayang banget Ri sama Ara, terlalu banyak beban yang dia simpen sendiri” jawab beliau diujung sana dengan suara gemetar yang justru membuat aku ikut sesak, emang si Ara perlu banget dijedotin kayanya. “Riri percaya Ara juga sayang banget sama tante, dia cuma punya tante karena itu mungkin dengan kesibukan yang super super ini mau buat tante bahagia dulu, walau caranya salah tapi Riri yakin nanti dia akan sadar sendiri kalo dia memang butuh orang lain, tante yang tenang ya” ujurku berusaha menenangkan beliau.
“Makasih ya Ri, kalo gitu tante tutup, tapi kamu akan tetap coba untuk ngomong sama Arakan?, kali aja dia bisa ngerti kalo kamu yang jelasin” mohon beliau yang engga mungkin bakal aku tolak “iya tenang aja, Riri bakal ngomong pelan-pelan ke Ara ya ntan, tapi Riri engga janji supaya dia setuju usul tante itu" dan aku rasa pasti memang engga berhasil, Ara selalu memegang prinsip “Hidup itu buat dapat kebahagiaan, bukan dipaksa buat bahagia” tapi engga ada salahnya mencoba, kali aja dia ngerti akibat kebanyakan rumus matematika. “iya Ri gapapa, tante udah seneng ini kamu mau bantu, makasih ya Ri, tante tutup ya, Assalamualaikum” “Walaikumsalam”.
Gantian aku yang menghela napas, mulai berpikir harus seperti apa bicara dengan manusia batu itu, tapi sebelumnya ketemu dulu kali ya, nanti juga ngalir sendiri, bener!. Aku coba menghubungi gadis yang jadi perbincanganku tadi.
“Assalamuaikum, bu ajiii, tumben telpon kangen ya lu sama gue?” jawabnya dengan selalu bernada ceria, ck palsu!
“Waaikumsalam wonder woman, si super sibuk, pulang lu udah malam” jawabku keceplosan, mampus diakan manusia paling peka.
“Lah, tau dari mana lu gue belum balik” Tuhkan bener!, aku berusaha bersikap tenang kalo sampe ketau dari emaknya dia pasti tau maksud dari ngajak ketemuan. “feeling, lu engga inget radar gue kuat” jawabku asal, bodo deh ngeles sesukanya.
“yang boleh punya radar kuat itu cuma gue, engga usah ikut-ikutan kepengen kaya kugy deh lu” ujurnya so sewot, udah lama engga tarik urat sama ini anak “berisik lu tutup botol marjan” jawabku tertawa “sialan lu krupuk kulit” balasnya “krekes krekes dong” balasku lagi dan kami tertawa. “Ketemu yuk” ucapku kembali keinti “tuhkan bener kangen lu sama gue, emang bener ya biar jomblo gue banyak banget yang ngangenin” kalo engga pede tingkat dewa bukan Ara namanya.
“Semerdekanya elu aja deh Ra” diapun tertawa, “serius gue, yuk udah lama kita engga gibah Ra, gatel nih mulut gue”
“Astagfirullah, ketemu lu makin banyak aja dosa gue, tapi boleh deh, gibah berfaedah ya” tawanya bising diikutin suara klakson kendaraan berjalan “berisik banget si, dimana lu?” “gue diatas gojek, baru mau balik ini’ akupun menenggok ke arah jam digital diatas meja 22:37. Emang bener engga waras itu anak, Tante Rossy bener kalo diantepin dia malah makin nyiksa diri sendiri.
“Bilang sama abangnya ati-ati” ucapku memperingatin “bang kata temen saya ati-ati” malah beneran dibilangin, kapan warasnya si elah “bilang juga, jangan berniat jahat karena lu makannya banyak, abang engga akan kuat, biar aku saja” dia malah ketawa ngakak “gb*ok, jadi ketemu engga?” oh iya sampe lupa “jadilah, kapan lu bisanya lukan yang paling sok sibuk” jawabku sok merajuk kaya anak alay “jijik lu hahaha, yaudah besok ya pulang lu ngantor jam berapa?, besok abis maghrib gue free”
“tumben lu ada waktu luangnya, dipecat lu?” tanya ku asal “itu mulut minta banget di sumpel ee tikus yaaa” kujawab dengan tertawa seadaanya “yaudah besok ya, gue pulang jam setengah 7 paling lama jam 7 lah, di mcd puri aja Ra, ditengah-tengahkan tuh” “kerja doang di bank ngajak ketemuan di mcd lu, ketara banget bokeknya” kalo ngomong suka bener diaa hahaha “menghemat pembiayaan, lagi ngumpulin duit buat ngasih kado nikahan lu” “taee hahaha, yaudah ah gue dijalan nih ribet luu, sampe ketamu besok nyet bye” tutupnya sepihak, Emang! sahabat yang kurang ajar cuma dia Astagfirullah harus nyebut aja kalo ngadepin itu anak. 
Besok ya!, engga ada salahnya mencoba, setidaknya aku berusaha.
*******