Selasa, 06 November 2018

"Kita Tidak Butuh Sekolah, apalagi Kurikulum" BENARKAH?



Menggenai isi artikel yang saya baca, salah satunya pendapat yang Ia kemukakan yaitu KTSP secara konsep jauh lebih baik dari kurikulum 2013, saya berbeda pendapat atas apa yang dikemukan pada artikel tersebut tersebut bahwasalnya sebenarnya Kurikulum 2013 jauh lebih baik untuk diterapkan di banding dengan KTSP, karena Kurikulum 2013 yang saya ketahui menerapkan berbagai macam aspek yaitu aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan, yang sebenarnya sangat di butuhkan oleh siswa untuk membangun revolusi mental yang sekarang ini telah gembor di bicarakan sedangkan KTSP yang saya ketahui hanya menggembangkan aspek pengetahuan saja dan kurang penerapan dalam sikap dan keterampilannya hingga pada KTSP proses pembelajarnya lebih dominan guru yang berperan aktif dan siswa kadang cenderung jauh lebih pasif, berbeda dengan Kurikulum 2013 yang  pembelajarannya mengarah pada student center yaitu berpusat pada siswa jadi siswa jauh lebih aktif dan tugas guru yaitu sebagai pengarah dalam proses pembelajarannya.
Ada pula hal yang bener yang ditulis di artikel tersebut bahwa permasalahnya jatuh pada tata pendidikan dimana kurikulum menjadi bahan utak-atik yang tidak jelas arahnya, wacana ganti mentri maka ganti kurikulum dan itulah yang menambahakan permasalahan baru lagi dalam pendidikan, belum tuntas memperbaiki kurikulum sebelumnya sudah ganti lagi kurikulum selanjutnya dan itulah yang akhirnya menimbukan permasalahan baru lagi, sepertihalnya KTSP yang memang sebenarnya sudah harus diperbaiki dan diganti menjadi Kurikulum 2013 yang menurut saya kurikulum tersebut baik untuk di terapkan, tapi ketidakmampuan atau ketidaksiapan guru dalam penerapannya yang akhirnya banyak keluhan dari segala pihak manapun mengenai Kurikulum 2013 yang akhirnya dianggap Kurikulum 2013 tidak cukup baik di terapkan. Kalau saja tersedianya guru yang memang berkompeten dan mampu mengatasi perubahan kurikulum tersebut maka tidak akan adanya kicauan atau keluhan dari pihak manapun karena guru mampu mengatasi perubahan tersebut yang mungkin terjadi seperti sekarang ini, ketidakjelasan dalam penggunaan kurikulum yang dikabarkan bahwa ternyata hanya di Indonesia saat ini menerapkan 2 kurikulum sekaligus, ya tidak jelas dan tidak mempunyai arah mau di bawa kemana pendidikan di Indonesia saat ini, Jadi yang sebenernya yang menjadi permasalahan bukan Kurikulum 2013 tapi tata pendidikan yang memang sudah bermasalah sejak dulu dan kesalahan yang fatal adalah  kurungnya guru yang berkompeten dalam proses pembelajaran di sekolah dan yang butuhkan adalah menyiapkan guru yang profesional atas pekerjaannya dan berkompeten dalam menjalankan tugas pengajarannya.
Pada artikel tersebut juga di katakana bahwa belajar adalah inti dari pendidikan, saya tidak setujuh atas pendapat tersebut, inti dari pendidikan bukan hanya belajar, tapi inti dari pendidikan adalah penselarasan antara belajar dan pembentukan karakter, karena jika kita mengangap bahwa pendidikan yang terpenting adalah belajar dan belajar, kita akhirnya tidak dapat membedakan mana belajar yang baik untuk terus diterapkan, mana belajar yang tidak baik untuk ditinggalkan, karena itulah inti pendidikan adalah belajar dan pembentukan karakter berjalan berdampingan memenuhi kekurang satu sama lain, sehingga dengan hal itulah maka terciptannya pendidikan yang mempunyai makna. Inilah akibatnya jika menggangap hanya belajar dijadikan sebagi inti pendidikan, yang akhirnya menguabah pola pikir manusia bahwa pendidikan hanya sebatas hasil belajar hanya untuk memperoleh sebuah ijazah, dan akhirnya kasus kejahatan pendidikan pun bermunculan ijazah palsu pun beredaran, dan itulah akibatnya tidak membentuk karekter si anak dalam proses belajar.
Pendidikan memang bisa dilakukan di mana saja dan dalam keadaan apapun, tapi saya tidak setujuh bahwa pendidikan tidak butuh sekolah. Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa di bawah pengawasan guru, dengan sekolah kita tidak bisa bertindak bebas sesuai apa yang kita ingin, untuk tercapainya sebuah tujuan kita juga butuh suatu arahan, pegawasan serta aturan yang baik dan itulah yang di dapatkan saat kita di sekolah. Tidak semua orang beruntung mendapatkan pendidikan di keluarga, ada beberapa orang yang memang menjadikan sekolah sebagai tempat untuk mereka memperoleh pendidikan yang mereka dambakan, sepertihalnya yang dikatakan bahwa dengan internet maka kita tidak butuh sekolah apalagi kurikulum, saya sangat bertentangan atas pendapat tersebut karena apa yang terdapat di Internet tidak sepenuhnya baik dan tidak sepenuhnya bener, kita juga butuh suatu pengarahan atau bimbingan untuk menentukan apa yang kita pelajari. Di internet itu ada baik dan buruknya, jika di lingkungan keluarga kita tidak mendapakna pengawasan atau pengarahan yang lebih tepat, maka lembanga yang bertanggung jawab adalah sekolah di sanalah tempat proses pengarahan dan mengawas terjadi, seperti yang saya katakan sejak awal, kita memperluakan guru yang profesional dan berkompeten dan inilah salah satu alasannya karena ada sebagian anak yang sangat membutuhkan peranan seorang guru sebagi seorang pembimbing, pengarah dan pengawasan yang hanya mereka dapatkan disekolah. Pembentukan karakter secara efektif bukan hanya di lakukan di luar lingkungan sekolah, pembentukan karakter seperti yang saya jelaskan. Bahwa belajar dan pembentukan karakter harus berjalan seiriangan dan proses tersebut juga bisa secara efektif dilakukan di lingkungan sekolah.
Kurikulum bukan meremehkan kecanggihan manusia beserta semua perangkat belajarnya yang telah diciptakan Tuhan sebagai ciptaan terbaik karena manusia bisa belajar dalam situasi apa pun, bahkan dalam situasi yang paling getir sekalipun. Belajar memang bisa dilakukan di manapun dan dalam situasi apapun tapi jika belajaran tanpa terstruktur dan  terencana maka proses belajar tersebut tidak mempunyai arah tujuan yang jelas bahkan proses belajar tersebut akan bertindak semaunya yang justru berakhir tidak mendapatkan apa yang diinginkan dan dibutuhkan, karena itu tugas kurikulumlah membuat proses belajar lebih memilih arah menuju tujuan yang ingin dicapai. Anggapan bahwa anak cerdas tidak butuh sekolah apalagi kurikulum menurut saya itu adalah anggapan yang tidak ingin seseorang jauh lebih maju. Anggaplah anak cerdas itu sebuah pisau, dia memang tajam tapi pisau lama-lama akan tumpul tanpa sebuah pengasahan maka pisau tersebut akan tumpul selamannya dan tidak berguna apapun. Nah itulah anak cerdas tanpa sekolah mereka akan mejadi anak yang biasa tanpa tantangan, tapi jika anak cerdas yang beranggapan bahwa ia butuh sekolah sebagi proses pengembangan jati dirinya yang dapat diarahkan, di bimbing dan di awasi maka anak cerdas tersebuat akan bernilai sangat luar biasa.
Jika anak cerdas juga butuh sekolah dan butuh kurikulum maka sama halnya dengan anak normal, anak normal bisa menjadi cerdas jika mereka diasah menjadi lebih baik maka anak normal tersebut akan menjadi anak cerdas bahkan luar biasa. Anak berkebutuhan khusus dan malas pada intinya memerlukan pembelajaran yang jauh lebih intensif dan inilah tugas guru untuk mengasah segala macam kemampuan yang di miliki anak.
Hanya orang yang tidak percaya diri yang membutuhkan sekolah, saya bertentangan sekali, presiden-presiden di Negara maju, mereka berlomba-lomba menempuh pendidikan di lembaga sekolah setingging mungkin, apakah presiden tersebut dikatakan bahawa mereka tidak percaya diri, jika mereka tidak percaya diri mengapa mereka terpilih menjadi presiden dan di biarkan untuk mengolah Negara? Jadi kitu butuh sekolah bukan karena kita tidak percaya diri, kita butuh sekolah untuk mengembangan kemampuan yang kita miliki, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan kita butuh sekolah karena kita butuh bantuan dan perbaikan pada diri kita sendiri. Intinya setiap anak butuh sekolah dan butuh kurikulum agar proses pembelajarannya terencana dan dapat mencapi tujuan yang mereka inginkan hanya saja yang kurung adalah guru yang berkompeten. Jika saja banyak guru yang profesional dan berkompeten, kurikulum sesederhanapun akan menjadi proses pembelajaran yang jauh lebih bermakna, jadi gurulah yang harus disediakan seprofesional mungkin dan berkompeten hingga sekolah menjadi tempat memperoleh pendidikan yang juga bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar