Senin, 03 Juni 2013

Akhir Kisah Ini

               Malam ini. 2 juni 2013. Langit tak seindah seperti malam-malam kemarin, begitu gelap tanpa sepercik cahaya. Tak ada benda langit yang terliat di antar ruang kosong atap dunia, entah apa benda langit itu tak merasa nyaman akan sosok ku sekarang ini atau… benda langit itu takut membuatku menetaskan butir air mataku karena mereka berpikir pancaran cahaya yang mereka miliki terlalu menyulaikan dan mebuatku iri. Entahlah, apapun alasanya aku tetep menjadi sosok gadis yang kini kembali sendiri. Tuhan, sebodoh inikah diriku?. Untuk sekian kalian aku menyakit dia. Laki-laki yang tulus dengan segenggam cinta dan rasa sayang yang dia berikan padaku dan ku akhiri dengan balasan air mata dan luka. Aku tak mengerti apa yang ku lakukan itu, kata hati selalu mengatakan “inilah jawabanya’’ aku tak pernah mengerti dan tak berusaha paham atas permainan kata hati. Sejahat itukah aku? . JAHAT!. Aku tau itu kata yang sangat cocok mendominankan kepribadianku, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini. Menangis, jawaban tepet bukan?, karena aku tak bisa melakukan apapun selain menangis. Aku tak pernah menemukan jawaban atas setiap tetes air mata ini. Tuhan…… bisakah Kau kembalikan keadaan seperti semula? Saat aku tak pernah mengenalnya dan dia tak pernah mengenalku, saat aku tak berusah menyentuh hatinya lalu melukainya dan dia tak pernah terluka akan sosokku, dan….. saat aku tak mencoba memahami cinta dan dia tak pernah jatuh cinta padaku. Bisakah Kau kembalikan itu?. Kurasa tidak, karena ketika waktu telah bermain saat itu jugalah kita harus melakoni peran atas jawaban waktu. Jika semuanya tidak kembali seperti semula, bolehkah aku meminta 1 permintaan?. Aku ingin, Kau kuatkan dia, berikan kebahagiaanya, kebahagiaannya yang dulu yang belum pernah ada kata luka, aku tak peduli berapa tetes air mata yang ku keluarkan saat ini, yang kupedulikan adalah, dia bahagia. Bisakah aku melihatnya tertawa selepas dan sebahagia dulu? Dulu saat aku diam diam memperhatikan senyumnya, yang menujukan akan sosoknya yang kuat dan bahagia, saat aku belum mencampuri atas kebahagianya. Bisakah Kau mengabulkan itu? . Hanya itu untuk saat ini, aku tak peduli akan diriku yang ikut terluka, aku bisa dengan sekejab merasa baik-baik saja, tapi entah bagimana dia, aku hanya takut menjadi salah satu peghalang kebahagiaannya. Dan untuk mu “MAAF’’ hanya perkataan yang tak memiliki andil besar untuk membuat semuanya kembali seperti semula. Kamu beloh marah padaku, kamu boleh membenciku, dan kamu boleh menganggap aku tak pernah ada dikehidupanmu yang baru, tapi bolehkah aku meminta 1 hal?, kamu harus kembali menjadi sosok laki-laki sebahagia dulu, dimana aku tak pernah hadir disetiap hela tawamu. Esok hari mentari akan menyambutmmu, membangunkanmu atas semua mimpi burukmu tentang diriku, dan di hari esok pun, aku harap, permintaanku dikabulan. Karena yang lebih penting untuk saat ini adalah kebahagianmu, dan berjanjilah besok dan seterusnya kamu akan tumbuh menjadi laki-laki yang bahagia dan sukses seperti harapan hatimu. Jadi inilah akhirnya.... Selamat tinggal untuk kisah luka yang tak berujung :’)
Aku tak pernah tau akan jalan ceritaku esok, aku hanya ingin berusaha untuk paham dan mempelajarai jalan ceritaku hari ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar