Minggu, 16 Februari 2014

Sembunyi atau Berjuang 2



"Arman Ardiransyah” Dua kata dalam namanya membuat aku diam tak percaya, nama yang sederhana itu telah menempati profil twitter sahabatku. Bukankan seharusnya nama itu tidak terletak disitu. Arman Ardiansyah nama yang begitu asing ditelingaku, aku baru mengenal nama itu setelah beberapa bulan yang lalu, saat Riri sahabatku menceritakan apa yang dia rasakan selama 4 tahun belakangan ini dan hanya hitungan bulan, 4 tahun menjadi tahun yang tak berarti apapun untuknya. Seharusnya bukan nama laki-laki beberapa bulan yang lalu ada di profil twitter sahabatku, tapi harusnya nama  laki-laki yang selama 4 tahun yang memperjuangkan rasa tulusnya yang pantas menempati profil  twitter sahabatku. Rasa kesal menghantui pikiran ku, dengan sigap aku mengambil handphone ku menghubungi orang yang harus menjelaskan apa maksud nama yang menempati profil twitternya itu.
“Arman Ardiansyah!, lu engga salah pilih Ri?” tanpa basa basi dan dengan suara ku yang meninggi aku memaksa untuk yang ku telpon memberi penjelasan dengan alasan yang jelas.
“oh lu udah baca, itu udah jadi pilihan gue Ra” Dengan nada yang santai dia menjawab pertanyaan ku
“4 tahun ri, tapi dengan mudah lu pilih orang yang beberapa bulan baru lu kenal? Lu mikir kemana si Ri?”
“Gue mikir apa yang pantes gue pilih Ra”
“jadi menurut lu laki-laki itu pantes buat lu pilih?”
“dia yang selalu ada buat gue, dia yang siap denger apa yang jadi keluh kesah gue, dia orang yang malah buat gue selalu ketawa, dia adalah orang yang selalu ada saat gue butuh pertolongan, dan dia adalah orang yang engga pernah nyerah untuk berjuang dapetin gue, apa orang yang seperti itu yang engga pantes gue perjuangin Ra?. Arman, orang yang dengan perbuatan nyata, terlihat, dan jelas, yang bahkan rela ngelakukan apapun buat gue bahagia Ra, menurut gue si cuma orang jahat yang beranggapan dia engga pantes buat gue Ra” Aku terengah dengan kata terakhirnya “orang jahat” apa Riri sahabatku sendiri yang ku dahulu kepentingannya menganggap aku adalah orang jahat untuknya?
“terserah ya Ri lu mau mikir gue gimana, dan lu harus tau sebenernya apa yang dilakuin……” Mulutku tiba-tiba bungkam, perjanjian itulah yang membuat kata selanjutnya tak ku ucapkan. Aku benci keadaan saat seperti ini, keadaan dimana harusnya Riri mengetahui arti sembunyi dan perjuangan orang lain, tapi terpaksa untuk disembunyikannya, karena perjanjian dengan sesorang diluar sana yang telah ku sepakati. Aku coba untuk berpikir tenang, meredam emosi ku, dan berusaha berbicara tenang
“Sorry, kalo gue emosi”
“iya gue paham ko Ra ini emang pilihan yang menurut lu terlalu terburu-buru, tapi gue engga pengen jadi orang jahat yang malah nyakitin orang yang tulus banget sayang sama gue, Ra Ini hati gue dalam cinta gue berhak memilih yang mana yang pantas untuk masuk kedalam ruang hati gue  dan gue berhak juga nyuruh orang didalamnya untuk keluar karena terus nyakitin hati gue, jadi gue berhak menentukan mana yang baik buat gue jalani dan mana yang engga baik buat gue tinggalin”
“Oke kalo emang menurut lu itu baik, tapi gue si berharap lu bisa ikutin apa yang kata hati lu mau, karena kata hati engga pernah nyesatin jalan lu menuju mimpi nyata lu Ri”
“Kata hati emang selalu bener Ra, tapi engga sepenuhnyakan apa yang dikatakan olah pikiran selalu salah, boleh kan untuk kali ini gue ikutin apa yang dikatakan pikiran gue?”
“bolehlah, ini hidup lu, lu berhak melakukan apapun demi kebaikan hidup lu, semoga apa yang dikatakan pikiran lu itu dapat membawa lu menuju mimpi nyata, selamat ya, langgeng terus sama Armannya”
“Makasih Ra, yaudah ya daah” Riri memutuskan telpon lebih dulu, entah apa yang Riri rasakan saat ini, apa benar dia bahagia atas pilihannya, tapi tak terdengar suara bahagianya  seperti halnya saat menceritakan tentang Mr. Linggung laki-laki yang dia cintai secara diam selama  4 tahun belakangan ini, laki-laki yang selalu Riri ceritakan dengan suara gembiranya dan hiasan tawa yang terpancar diwajahnya yang menunjukan betapa  bahagianya dia, tapi suara itu menghilang entah kemana. Suara lelah yang ku dengar jelas tadi, suara pedih  yang kurasakan tadi, dan suara itu terdengar  bahwa dia butuh sebuah pelukan untuk menghilangi rasa sakitnya. Tapi jika dia merasakan sakit, mengapa dia memilih jalan ini?, jalan yang justru melukai dirinya. Entahlah aku tak mengerti apa yang merasuki pikiran dan hatinya saat ini. Jika Riri tak dapat memberi penjelasan pasti ada seseorang diluar sana yang dapat menjelaskannya arti cerita cinta ini. Dengan sigap aku lalu menghubungi nomor selanjutnya.
“Halo, Aldo. Do Riri…., lu tenang dulu, besok kita bisa ketemu?, oke besok ditempat biasa jam 1 siang”

 Telat 30 menit seperti yang di janjikan.
“Sorry do, sorry gue telat lagi deh, tapi sumpah tadi dijalan macet banget” jelasku pada laki-laki yang sedang duduk di pojok café yang disampingnya menghadap jendela luar  dengan segelas kopi coklat di atas mejanya
“ ya ya ya again, again dan again. Sekarang duduk!” perintah laki-laki itu dengan wajah yang sedikit kesal dan dihiasi dengan kepanikan, tapi suaranya tetap tenang seperti biasanya.
“gue engga disuruh mesen dulu nih?” tanyaku polos
“engga! Sebelum lu jelasin Riri kenapa, 12 jam gue panik dan di tambah 30 menit kepanikan gue gara-gara lu telat, dan yang penting sekarang lu jelasin Riri kenapa. Dia lagi engga sakitkan?” nada suaranya mulai meninggi
“iya sorry sorry, kan gue bilang lu tenang dulu”
“Oke......., Ra lu taukan yang berhubungan dengan Riri….”
“lu engg bisa tenang, iya iya gue tau ko, Riri sehat-sehat aja tapi diliat dari luar, engga tau si ya dalemnya gimana” aku lalu memotong pembicaran laki-laki itu yang sudah mulai menenang
“maksud lu?”
“sekarang gue balik tanya ke lu, lu engga kenapa-napa kan?”
“menurut yang lu liat sekarang gimana?” jawab laki-laki itu memberiku dengan sebuah senyum lebar di bibirnya
“sama kaya Riri, luarnya si baik-baik aja tapi engga tau didalemnya gimana, ya gak?” lalu dijawab laki-laki itu hanya dengan senyum getir yang dia punya.
“oke sekarang gue serius, lu udah liat twitternya Riri?” pertanyaanku tepat sasaran, kini laki-laki yang ada dihadapan ku mendadak bungkam seketika, tak ada kata yang dia ucapkan saat itu, tapi matanyalah yang seolah berbicara bahwa ada luka yang sulit terterjemahkan dalam kata sehingga hanya diam yang nyelemuti untuk menutupi luka itu. Tapi seketika, wajahnya berubah ada senyum lebar yang hinggap dibibirnya, senyum yang dibuat bahagia, sehingga orang yang melihat dari jauh tau bahwa laki-laki dihadapanku saat ini sedang merasa bahagia, tapi saat dilihat dari dekat tipuan itu sirna, laki-laki itu hanya mencoba menutup lukanya dengan sebuah senyum yang dibuat seolah-olah bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar