"Arman
Ardiransyah” Dua kata dalam namanya membuat aku diam tak percaya, nama yang
sederhana itu telah menempati profil twitter sahabatku. Bukankan seharusnya
nama itu tidak terletak disitu. Arman Ardiansyah nama yang begitu asing
ditelingaku, aku baru mengenal nama itu setelah beberapa bulan yang lalu, saat Riri
sahabatku menceritakan apa yang dia rasakan selama 4 tahun belakangan ini dan
hanya hitungan bulan, 4 tahun menjadi tahun yang tak berarti apapun untuknya.
Seharusnya bukan nama laki-laki beberapa bulan yang lalu ada di profil twitter
sahabatku, tapi harusnya nama laki-laki
yang selama 4 tahun yang memperjuangkan rasa tulusnya yang pantas menempati
profil twitter sahabatku. Rasa kesal
menghantui pikiran ku, dengan sigap aku mengambil handphone ku menghubungi
orang yang harus menjelaskan apa maksud nama yang menempati profil twitternya
itu.
“Arman
Ardiansyah!, lu engga salah pilih Ri?” tanpa basa basi dan dengan suara ku yang
meninggi aku memaksa untuk yang ku telpon memberi penjelasan dengan alasan yang
jelas.
“oh
lu udah baca, itu udah jadi pilihan gue Ra” Dengan nada yang santai dia menjawab
pertanyaan ku
“4
tahun ri, tapi dengan mudah lu pilih orang yang beberapa bulan baru lu kenal?
Lu mikir kemana si Ri?”
“Gue
mikir apa yang pantes gue pilih Ra”
“jadi
menurut lu laki-laki itu pantes buat lu pilih?”
“dia
yang selalu ada buat gue, dia yang siap denger apa yang jadi keluh kesah gue,
dia orang yang malah buat gue selalu ketawa, dia adalah orang yang selalu ada
saat gue butuh pertolongan, dan dia adalah orang yang engga pernah nyerah untuk
berjuang dapetin gue, apa orang yang seperti itu yang engga pantes gue
perjuangin Ra?. Arman, orang yang dengan perbuatan nyata, terlihat, dan jelas, yang bahkan
rela ngelakukan apapun buat gue bahagia Ra, menurut gue si cuma orang jahat
yang beranggapan dia engga pantes buat gue Ra” Aku terengah dengan kata
terakhirnya “orang jahat” apa Riri sahabatku sendiri yang ku dahulu
kepentingannya menganggap aku adalah orang jahat untuknya?
“terserah
ya Ri lu mau mikir gue gimana, dan lu harus tau sebenernya apa yang dilakuin……”
Mulutku tiba-tiba bungkam, perjanjian itulah yang membuat kata selanjutnya tak
ku ucapkan. Aku benci keadaan saat seperti ini, keadaan dimana harusnya Riri
mengetahui arti sembunyi dan perjuangan orang lain, tapi terpaksa untuk
disembunyikannya, karena perjanjian dengan sesorang diluar sana yang telah ku
sepakati. Aku coba untuk berpikir tenang, meredam emosi ku, dan berusaha
berbicara tenang
“Sorry,
kalo gue emosi”
“iya
gue paham ko Ra ini emang pilihan yang menurut lu terlalu terburu-buru, tapi
gue engga pengen jadi orang jahat yang malah nyakitin orang yang tulus banget
sayang sama gue, Ra Ini hati gue dalam cinta gue berhak memilih yang mana yang
pantas untuk masuk kedalam ruang hati gue
dan gue berhak juga nyuruh orang didalamnya untuk keluar karena terus
nyakitin hati gue, jadi gue berhak menentukan mana yang baik buat gue jalani
dan mana yang engga baik buat gue tinggalin”
“Oke
kalo emang menurut lu itu baik, tapi gue si berharap lu bisa ikutin apa yang kata
hati lu mau, karena kata hati engga pernah nyesatin jalan lu menuju mimpi nyata
lu Ri”
“Kata
hati emang selalu bener Ra, tapi engga sepenuhnyakan apa yang dikatakan olah
pikiran selalu salah, boleh kan untuk kali ini gue ikutin apa yang dikatakan
pikiran gue?”
“bolehlah,
ini hidup lu, lu berhak melakukan apapun demi kebaikan hidup lu, semoga apa
yang dikatakan pikiran lu itu dapat membawa lu menuju mimpi nyata, selamat ya,
langgeng terus sama Armannya”
“Makasih
Ra, yaudah ya daah” Riri memutuskan telpon lebih dulu, entah apa yang Riri
rasakan saat ini, apa benar dia bahagia atas pilihannya, tapi tak terdengar
suara bahagianya seperti halnya saat
menceritakan tentang Mr. Linggung laki-laki yang dia cintai secara diam
selama 4 tahun belakangan ini, laki-laki
yang selalu Riri ceritakan dengan suara gembiranya dan hiasan tawa yang
terpancar diwajahnya yang menunjukan betapa bahagianya dia, tapi suara itu menghilang
entah kemana. Suara lelah yang ku dengar jelas tadi, suara pedih yang kurasakan tadi, dan suara itu
terdengar bahwa dia butuh sebuah pelukan
untuk menghilangi rasa sakitnya. Tapi jika dia merasakan sakit, mengapa dia
memilih jalan ini?, jalan yang justru melukai dirinya. Entahlah aku tak mengerti
apa yang merasuki pikiran dan hatinya saat ini. Jika Riri tak dapat memberi
penjelasan pasti ada seseorang diluar sana yang dapat menjelaskannya arti
cerita cinta ini. Dengan sigap aku lalu menghubungi nomor selanjutnya.
“Halo,
Aldo. Do Riri…., lu tenang dulu, besok kita bisa ketemu?, oke besok ditempat
biasa jam 1 siang”
Telat
30 menit seperti yang di janjikan.
“Sorry
do, sorry gue telat lagi deh, tapi sumpah tadi dijalan macet banget” jelasku
pada laki-laki yang sedang duduk di pojok café yang disampingnya menghadap jendela luar dengan segelas kopi coklat di atas mejanya
“ ya
ya ya again, again dan again. Sekarang duduk!” perintah laki-laki itu dengan
wajah yang sedikit kesal dan dihiasi dengan kepanikan, tapi suaranya tetap
tenang seperti biasanya.
“gue
engga disuruh mesen dulu nih?” tanyaku polos
“engga!
Sebelum lu jelasin Riri kenapa, 12 jam gue panik dan di tambah 30 menit
kepanikan gue gara-gara lu telat, dan yang penting sekarang lu jelasin Riri
kenapa. Dia lagi engga sakitkan?” nada suaranya mulai meninggi
“iya
sorry sorry, kan gue bilang lu tenang dulu”
“Oke.......,
Ra lu taukan yang berhubungan dengan Riri….”
“lu
engg bisa tenang, iya iya gue tau ko, Riri sehat-sehat aja tapi diliat dari
luar, engga tau si ya dalemnya gimana” aku lalu memotong pembicaran laki-laki
itu yang sudah mulai menenang
“maksud
lu?”
“sekarang
gue balik tanya ke lu, lu engga kenapa-napa kan?”
“menurut
yang lu liat sekarang gimana?” jawab laki-laki itu memberiku dengan sebuah
senyum lebar di bibirnya
“sama
kaya Riri, luarnya si baik-baik aja tapi engga tau didalemnya gimana, ya gak?”
lalu dijawab laki-laki itu hanya dengan senyum getir yang dia punya.
“oke
sekarang gue serius, lu udah liat twitternya Riri?” pertanyaanku tepat sasaran,
kini laki-laki yang ada dihadapan ku mendadak bungkam seketika, tak ada kata
yang dia ucapkan saat itu, tapi matanyalah yang seolah berbicara bahwa ada luka
yang sulit terterjemahkan dalam kata sehingga hanya diam yang nyelemuti untuk
menutupi luka itu. Tapi seketika, wajahnya berubah ada senyum lebar yang
hinggap dibibirnya, senyum yang dibuat bahagia, sehingga orang yang melihat
dari jauh tau bahwa laki-laki dihadapanku saat ini sedang merasa bahagia, tapi
saat dilihat dari dekat tipuan itu sirna, laki-laki itu hanya mencoba menutup
lukanya dengan sebuah senyum yang dibuat seolah-olah bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar