Kenangan. Memori terindah yang selalu aku simpan diotak kecilku, banyak sekali kenangan terindah yang begitu sulit diungkapkan secara lisan tapi begitu mudah untuk dirasakan. Kenangan tidak jauh dari masa lalu, kenangan dimasa lalu mengajarkan aku pentingnya sebuah kedewasaan. Untuk melihatnya aku menutup mataku dan membayangkan orang masa laluku, dia hadir dan membuat ku tersenyum tentunya, tapi terkadang menangis. Dia orang masa laluku. Laki-laki yang selalu aku anggap pangeran penolongku, laki-laki yang baik dan selalu ada saat aku membutuhkan apapun, laki-laki yang sangat dekat dengan Tuhan, dan banyak yang bilang dia adalah laki-laki penghuni surga. Luar biasa bukan, manusia yang mendekati sempuran itu pernah menjadi bagian dihidupku, harusnya dulu aku bahagia, harusnya dulu aku beruntung bisa memiliki dia dihidupku.
Namun, hatiku berkata lain. Aku bisa memberikan rasa suka dan sayangku kepadanya tapi aku tidak bisa memberinya cinta yang tulus. Aku menyukainya juga menyayanginya tapi aku tidak mencintainya. Itulah kebodohanku, menyakiti dan melukai sosok pengeran penolongku. Dia. Kamulah penyebabnya, kamu hadir tanpa minta dan kamulah yang selalu diminta hatiku bukan pikiranku, berbeda dengan dia, hati ku selalu menolaknya tapi pikiranku lah yang memaksa dia untuk tetep ada. Ini bukan lagi kebodohan, tapi kejahatan. Melukainya dan melukai diri ku sendiri atas pilihan kata hati. Kenapa dulu aku tidak mengikutin kata pikiranku? Kenapa kata pikiran dan hatiku tidak berjalan searah secara bersama? Apa Tuhan telah menciptakan kata pikiran dan hati selalu berbeda arah?. Entahlah yang aku ketahui inilah cara Tuhan untuk menentukan pilihan terbaik untukku. Memang pada kenyataannya kata hatiku yang malah menyakitiku, tapi aku percaya jika Tuhan telah memintaku untuk mengikuti kata hatiku berati Tuhan telah menciptakan hal terindah dan terbaik untukku. Walau saat ini aku penuh luka tapi jika aku percaya pada rencana-Nya aku akan bahagian. Mungkin bukan sekarang tapi suatu saat nanti.
Lalu aku buka mataku, dan menyadari bahwa dialah yang terluka, dan itu karnaku. Hanya ini yang dapat ku katakan "Maaf aku telah menyakitimu, percayalah ini bukan mauku tapi ini mau kata hatiku, Maaf aku membuatmu takut dengan cinta, aku telah membuat hari-harimu penuh luka, aku telah menjadi bagian terburuk dan takut untuk kamu ingat. Maaf Maaf Maaf, hanya itulah yang dapat ku katakan. Kamu adalah laki-laki yang baik sudah sepantasnya kamu mendapatkan gadis yang lebih baik dibanding sosok ku, bukannya ada yang bilang orang baik akan dipasangkan dengan orang baik pula, dan orang itu bukan aku, kamu berhak untuk bahagia walau tanpa aku". Hanya itulah yang bisa aku berikan kepada dia kata "Maaf". Kata yang mungkin tidak berarti apapun, tapi hanya kata itulah yang ku punya. Dan dari kenang dengannyalah yang membuatku menjadi sosok yang kuat sampai sekarang karena luka yang kamu buat, dialah yang ku jadikan sebuah pembelajaran tentang sebuah cinta yang tulus. Pangeran penolongku, tetap lah dia, walau kamu hadir ditengah kehidupanku tapi hanya dialah yang kupercaya menjadi pangeran penolongku, walau aku tidak mencintainya, tidak seperti aku mencintaimu. Tapi tetap hanya dialah yang menjadi hal terindah yang pernah kupunya dan akan selalu ku simpan di memori otak kecilku tentang dirinya. Laki-laki terluka. Terima Kasih dan Maafkanlah aku :')
Namun, hatiku berkata lain. Aku bisa memberikan rasa suka dan sayangku kepadanya tapi aku tidak bisa memberinya cinta yang tulus. Aku menyukainya juga menyayanginya tapi aku tidak mencintainya. Itulah kebodohanku, menyakiti dan melukai sosok pengeran penolongku. Dia. Kamulah penyebabnya, kamu hadir tanpa minta dan kamulah yang selalu diminta hatiku bukan pikiranku, berbeda dengan dia, hati ku selalu menolaknya tapi pikiranku lah yang memaksa dia untuk tetep ada. Ini bukan lagi kebodohan, tapi kejahatan. Melukainya dan melukai diri ku sendiri atas pilihan kata hati. Kenapa dulu aku tidak mengikutin kata pikiranku? Kenapa kata pikiran dan hatiku tidak berjalan searah secara bersama? Apa Tuhan telah menciptakan kata pikiran dan hati selalu berbeda arah?. Entahlah yang aku ketahui inilah cara Tuhan untuk menentukan pilihan terbaik untukku. Memang pada kenyataannya kata hatiku yang malah menyakitiku, tapi aku percaya jika Tuhan telah memintaku untuk mengikuti kata hatiku berati Tuhan telah menciptakan hal terindah dan terbaik untukku. Walau saat ini aku penuh luka tapi jika aku percaya pada rencana-Nya aku akan bahagian. Mungkin bukan sekarang tapi suatu saat nanti.
Lalu aku buka mataku, dan menyadari bahwa dialah yang terluka, dan itu karnaku. Hanya ini yang dapat ku katakan "Maaf aku telah menyakitimu, percayalah ini bukan mauku tapi ini mau kata hatiku, Maaf aku membuatmu takut dengan cinta, aku telah membuat hari-harimu penuh luka, aku telah menjadi bagian terburuk dan takut untuk kamu ingat. Maaf Maaf Maaf, hanya itulah yang dapat ku katakan. Kamu adalah laki-laki yang baik sudah sepantasnya kamu mendapatkan gadis yang lebih baik dibanding sosok ku, bukannya ada yang bilang orang baik akan dipasangkan dengan orang baik pula, dan orang itu bukan aku, kamu berhak untuk bahagia walau tanpa aku". Hanya itulah yang bisa aku berikan kepada dia kata "Maaf". Kata yang mungkin tidak berarti apapun, tapi hanya kata itulah yang ku punya. Dan dari kenang dengannyalah yang membuatku menjadi sosok yang kuat sampai sekarang karena luka yang kamu buat, dialah yang ku jadikan sebuah pembelajaran tentang sebuah cinta yang tulus. Pangeran penolongku, tetap lah dia, walau kamu hadir ditengah kehidupanku tapi hanya dialah yang kupercaya menjadi pangeran penolongku, walau aku tidak mencintainya, tidak seperti aku mencintaimu. Tapi tetap hanya dialah yang menjadi hal terindah yang pernah kupunya dan akan selalu ku simpan di memori otak kecilku tentang dirinya. Laki-laki terluka. Terima Kasih dan Maafkanlah aku :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar